Mengenang Syaikh Nur Samad Kamba

Foto: Gandhi.

Kepada beliau kita berhutang budi. Menjernihkan sekaligus menyegarkan kembali posisi Islam, mazhab, dan institusi keagamaan. Syaikh Kamba fasih melacak sejarah Islam di tengah pergolakan arus sejarah yang hitam-putih.

Sebelum fajar menyingsing saya mendapatkan kabar Syaikh Kamba wafat dari Mas Gandhie di Grup WhatsApp. Praktis kaget. Tiga pekan lalu Mas Fahmi menulis Doa Untuk Syaikh Nursamad Kamba. Sejak 27 Mei ia dirawat di rumah sakit, membutuhkan ekstra istirahat agar lekas pulih. Sebulan sebelumnya, 22 April, beliau mewedar materi di Reboan on The Sky: Maiyah sebagai Jalan Katarsis di Masa Pandemi, Kajian Tasawuf Psikoterapi.

Dua hal spontan membekas di benak saya. Pertama, buku tentang Kanjeng Nabi dari tinjauan sejarah yang perdana saya baca berjudul Sejarah Otentik Nabi Muhammad SAW (2018) karya Prof. Dr. Husain Mu’nis. Syaikh Kamba lah yang menerjemahkan dan memperkenalkan kepada Jamaah Maiyah. Melalui hasil terjemahan beliau, Rasulullah makin akrab sebagai “sosok yang tak pernah kering disauk, ditimba, dan digali sejarah kehidupannya”—buku ini berhasil mempertegas sisi-sisi kemanusiaan yang dapat dilacak akar historisnya.

Hal kedua berikutnya sangat personal bagi saya. Lewat Mas Jamal saya diminta meresensi buku beliau berjudul Kids Zaman Now: Menemukan Kembali Islam (2018). Pada titimangsa meninjau buku itu saya tegerak antusias untuk menelusuri jejak pemikiran Syaikh Kamba dari artikel ilmiah hingga esai populer lebih mendetail. Sejumlah sumber ditemukan. Pelan-pelan saya mendaras. Sedikit demi sedikit saya mengambil empat kata kunci: jalan kenabian, mencari otentisitas, tasawuf virtual, dan kebersamaan saling mengasihi.

Keempat poin kunci ini bukan sesuatu yang terpisah, melainkan saling berpaut erat dalam mewacanakan keislaman secara nilai. Saya menemukan afirmasi itu manakala menyimak saksama paparan Syaikh Kamba saat mengulas bagaimana Jamaah Maiyah bersikap di tengah pandemi bila menengok referensi perjalanan nabi. Di tengah anggapan posisi agama yang sedang digeser sains, sebagaimana informasi arus utama mengenai wabah Corona belakangan, Syaikh Kamba berpendapat sebaliknya.

Ia melihat agama tak sebatas tata cara formalistik, tetapi cenderung situasi keilahian di dalam diri manusia yang selalu menuntun kepada kebaikan. Agama justru membuka diri terhadap sinergi seluas-luasnya untuk menuntaskan permasalahan sosial. Pada aras itulah Syaikh Kamba sesungguhnya mempreteli kelompok yang sinis terhadap peran agama di masa serangan Covid-19. Ia membantu kita supaya kritis terhadap pengertian agama di benak kita. Jangan-jangan agama yang kita pahami selama ini ahistoris dan bias politik. Dua hal yang membuat kita apriori (beranggapan sebelum mengetahui).

Pentingnya meletakan pemahaman agama (Islam) terhadap konteks sejarah selalu dialaramkan Syaikh Kamba. Upaya ini menghindarkan kita dari prasangka serampangan yang membuat sejarah Islam makin distortif dan degradatif selama tujuh abad terakhir. Supaya kita tak terjerumus ke dalam lubang masalah yang serupa, Syaikh Kamba kerap mengingatkan: pendekatan nabi itu dari dan melalui cinta, sedangkan periode sejarah yang relevan dengannya berada di era Madinah.

Periode Kanjeng Nabi di Madinah ini ditandai sejak hijrahnya ke Kota Madinah sekitar tahun 622. Selama satu tahun di sana beliau membuat kesepakatan bersama, mempertegas hak dan kewajiban antara Yahudi, Muslim, dan komunitas suku Arab lainnya. Peristiwa demikian akhirnya dikenal sebagai Piagam Madinah. Syaikh Kamba mengulas detik-detik itu. Menurutnya, cinta Rasulullah saw. kepada pelbagai kelompok di Madinah mustahil terwujud bila tanpa kehendak untuk saling mengasihi. Kedamaian sebetulnya berakar dari situ.

Becermin dari Kanjeng Nabi, Syaikh Kamba menuturkan kalau Maiyah itu sangat komplet, terutama di ranah metodologi. Maiyah, lanjutnya, berupaya membebaskan agama dari faktor-faktor formalistik. Dengan kata lain, pendekatan yang ditawarkan Maiyah berangkat dari pertimbangan akal sehat, rasional, dan nurani. Bukan saja ia sebatas praksis, Islam sebagai nilai yang mengejawantah di dalam perilaku sehari-hari. Melainkan juga dari etimologi kata Maiyah.

Saya menemukan penjelasan lengkap soal itu dari tulisan Syaikh Kamba bertajuk Maiyah dalam Perspektif Sufisme. Kata Maiyah dalam bahasa Arab itu berarti “dalam keadaan bersama” atau “kebersamaan yang tak terlepaskan”. Pada ranah kajian tradisi sufisme Maiyah bermakna maiyatullah (bersama Allah). Bagaiamana akar kata ini bila berada dalam peristiwa sejarah yang spesifik? Ketika Kanjeng Nabi dan Abu Bakar dikejar musuh, keduanya bersembunyi di Goa Tsaur. Beliau bilang kepada sahabatnya: Allah Bersama Kita.

Teks lengkap peristiwa itu termaktub di dalam Surah At-Taubah 40. Bagi Syaikh Kamba kisah tersebut bukan berpretensi membangun sifat defensif, melainkan pembebasan yang didasarkan atas “cinta kasih sesama sebagai manifestasi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” — pokok ide demikian kemudian diletakan pada misi perjuangan. Secara genealogis “Allah Bersama Kita” itu muncul pada situasi tertentu, yakni momentum proses hijrah yang — meminjam istilah Syaikh Kamba — “menjadi tonggak transisional dalam metodologi dan pendekatan dakwah” Kanjeng Nabi.

Poin di atas, bagi saya pribadi, mengakik kuat di pikiran. Syaikh Kamba masih hidup di dalam teks-teks literer yang selama ini ia tulis dan perbincangkan kepada Jamaah Maiyah. Sebelum wafat ia menitipkan buku terakhir yang akan diterbitkan berjudul Mencintai Allah secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Maiyah (2020) yang diberi Kata Pengantar oleh Mbah Nun. Saya tak sabar ingin membacanya. Sugeng tindak, Syaikh. 

Lockdown 309 Tahun