Syaikh Kamba Lulus Menghamba

Foto: Gandhi.

Miturut orang Jawa, angka 60 diarani atau disebut sewidak. Yang artinya sejatine wis wancine tindak. Tindak yang dimaksud adalah kembali ke pangkuan Sang pemilik hidup.

Dan dinihari tadi (01.00 WIB) seorang hamba kinasih menempuh “perjalanan sunyi” menemui Dzat yang sejati. Guru sekaligus orang tua kita tercinta Prof. Dr. Syaikh Nursamad Kamba berpulang menghadap Rabb-Nya di usia menjelang 62 pada September mendatang.

Duka yang mendalam.

Keluarga besar Jamaah Maiyah tentu sangat kehilangan atas wafatnya sang Marja’ Maiyah. Syaikh Kamba dengan segala ketinggian ilmu berpadu kerendahan hati, selalu setia membersamai Jamaah Maiyah untuk sinau bareng, mengaji, dan mengkaji.

Kalau Maiyah ibarat samudera ilmu dan cinta, maka salah satu sumber mata airnya berasal dari pundi keilmuan Syaikh Nursamad Kamba. Tetes demi tetes ilmu beliau mampu memerciki pikiran yang batu, hati yang beku, dan sikap yang kaku, sehingga menjernihkan cara pandang kita dalam melihat segala sesuatu.

Yang pertama dan utama yakni dalam mengenal Tuhan. Untuk memahami eksistensi Tuhan, Syaikh Kamba mengajarkan satu formula sederhana namun butuh sepanjang hidup untuk mempelajari dan mengamalkannya, yaitu ikhlas. Ikhlas bagaimana? Ikhlas untuk meniada. Suwung dalam bahasa Jawa. Semakna dengan ajaran Budha, isi adalah kosong, kosong adalah isi.

Artinya, dengan mengikhlaskan diri bahwa manusia itu awalnya tidak ada, lalu diadakan, kemudian ditiadakan lagi, dan nanti kembali diadakan, maka kita akan meyakini yang benar-benar ada hanyalah Allah semata. Manusia hanya seolah-olah. Seakan-akan ada, padahal tidak ada. Dengan demikian kita sadar bahwa manusia itu ciptaan, dan Tuhan Pencipta-Nya. Makhluk itu hamba, Allah Raja diraja.

Keikhlasan menjadi pondasi awal manusia mengenal Tuhan, sekaligus menjadi atap dan tembok penahan dari terjangan badai tipu muslihat dunia.

Akankah dengan meninggalnya Syaikh Kamba tetesan ilmu yang mengalir ke samudera Maiyah akan berhenti? Semoga tidak. Tetes demi tetes itu tak akan mandeg. Ia akan terus menetes, bergerak, mengalir ke berjuta arah asal para pelaku Maiyah sedia mengasah diri menjadi bejana berhubungan di mana pun berada.

***

Syaikh Kamba sempat menulis Tetes tentang Majdzub. Yakni Allah memilih hamba-Nya begitu saja tanpa ada proses. Ini menghendaki fana, yakni ketiadaan dan peniadaan diri. Ibarat sinar lilin di ruang gelap, ketika matahari terbit dan memancarkan sinarnya ke dalam ruang gelap tersebut, cahaya lilin menghilang terserap oleh cahaya matahari, meski lilinnya sendiri masih tetap ada dan menyala.

Dan dalam sunyinya malam, di pengujung bulan Syawal, cahaya lilin itu menghilang terserap oleh cahaya Maha cahaya. “Lilin putih” itu tidak mati, tapi meng-Abadi. Syaikh Kamba telah lolos dari ujian dunia, dan lulus menjadi hamba. Semoga.

Al Fatihah.

Gemolong, 20 Juni 2020

Lockdown 309 Tahun