Terobosan Pengorganisasian di Tengah Pandemi

Catatan Reboan on The Sky Edisi 22 April 2020

Saat ini, neoliberalisme dan globalisasi boleh jadi telah dan sedang menempuh tahap-tahap keruntuhan. Ini menjadi semacam jawaban atas doa berpuluh-puluh tahun munajat begitu banyak orang yang tak menyetujui perguliran dunia yang hanya dibuat untuk menguntungkan segelintir pihak saja.

Di masa pandemi ini, yang segelintir menjadi tak berdaya, sedangkan civil solidarity-lah yang bangkit digdaya. Pemandangan gotong royong sesama rakyat kecil kita lihat di mana-mana. Pemandangan serupa terlihat dari gotong royong perusahaan raksasa dan multinasional. Aksi tanggap darurat membuat mereka terpanggil untuk menggelontorkan dana dan mengorganisasi bantuan lebih dari sekadar pagu anggaran CSR mereka.

Ini adalah momentum besar. Pada Reboan on the Sky sebelumnya (15/4) Mas Sabrang mengajak dengan setengah menekankan, bahwa kita harus ikut ambil bagian menjadi decision maker! Seberapa pun skalanya. Membaca momentum ini, setiap orang boleh-boleh saja berasumsi, berteori, dan mensimulasi akan ke arah mana sejarah berjalan setelah ini. Akan tetapi, mesti kita sadari bahwa yang terpenting adalah aksi yang bukan sekadar reaksi.

Inilah sekelumit insight yang saya dapat dari Reboan on The Sky yang merupakan weekly forum Kenduri Cinta untuk tetap menemali persambungan Jamaah Maiyah di tengah situasi social restriction hari-hari ini. Reboan on The Sky sudah bergulir pada putaran ke-4. Dua narasumber berpanel elaborasi di forum ini, Syeikh Nursamad Kamba, membawakan tema “Maiyah sebagai Jalan Katarsis di Masa Pandemi, Kajian Tasawuf Psikoterapi” dan Yai Tohar menyampaikan “Dari Nilai ke Aksi Orang Maiyah”.

Dari edisi ke edisi, forum yang berupaya mengkreatifi begitu cepatnya perubahan demi perubahan terjadi di hari-hari ini tampak semakin tertata dan menuju tema-tema up to date yang applicable. Perkembangan forum juga tampak dari ragam keikutsertaan teman-teman Maiyah dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya, hingga Mandar, juga teman-teman dari luar negeri: Malaysia, Korea Selatan, Arab Saudi, Belanda, dan Amerika Serikat.

Teman-teman dari berbagai daerah dan dengan ragam latar belakangitu melibatkan diri di dalam proses elaborasi dari pantikan pembahasan yang disampaikan narasumber. Dampak Pandemi ini bagi masyarakat sudah berkembang dari persoalan pokok yaitu krisis medis. Rizky, salah satu Koordinator Simpul Maiyah, memotret bahwa dari perkembangan keadaan penggiat di 63 Simpul Maiyah terdapat ragam problematika yang berkembang.

Kabar ter-update dari teman-teman di Jawa Timur misalnya, kekhawatiran terhadap virus mulai bergeser menjadi kekhawatiran terhadap begal, curanmor, dan bentuk-bentuk aksi kriminalitas lainnya. Pengucilan sosial bukan hanya terjadi pada pasien suspect. Beberapa daerah di luar Jawa mengabarkan betapa masyarakat paranoid terhadap orang-orang yang pulang kampung dari Ibukota. Kemudian yang hampir merata dari sejumlah daerah adalah kabar mengenai menurun drastisnya pendapatan. Beberapa Penggiat Simpul Maiyah yang bergelut di bidang usaha kecil dan menengah juga merasakan imbasnya.

Meskipun demikian, Ali Fatkhan dari Gambang Syafaat merasa bersyukur bahwa terlihat kepekaan teman-teman penggiat di banyak daerah. Mereka melakukan aksi sosial melebur dengan masyarakat di wilayahnya masing-masing dan itu berlangsung otomatis atau tidak bergantung pada adanya komando.

Sensibilitas dan Inisiatif

Perihal kepekaan dan aksi yang melebur ini, oleh Yai Tohar diulas lebar dan mendalam. Menurut Yai Tohar, inilah yang mengidentifikasi bahwa gerak Maiyah sama sekali berbeda dengan LSM. Salah satu ciri utama LSM adalah pergi ke suatu daerah dengan mencari-cari persoalan untuk diselesaikan. Hal demikian terjadi karena memang mereka berorientasi proyek. Sedangkan pada teman-teman Penggiat yang berada di daerah kata kuncinya adalah sensitif dan inisiatif, terpanggil oleh keadaan yang dihadapi di tempatnya sendiri. Bahkan mungkin mereka sendiri ikut terdampak dari masalah yang terjadi.

Masih terkait dengan hal ini, penjelasan Yai Tohar tentang beda community development dan community organizing agaknya harus dijadikan pedoman dasar penggiat dan jamaah Maiyah di manapun saja berada. Community development umumnya menggunakan indikator keberhasilan program dengan sudut pandang ekonomi. Misalnya, awalnya sebuah kebun punya satu armada angkutan, lalu setelah dilakukan pendampingan berbasis community development ia akan mempunyai 10 armada angkutan.

Sementara itu, community organizing menggunakan indikator-indikator selain itu. Indikator dari kerja-kerja community organizing adalah lahirnya kesepakatan-kesepakatan yang meningkat. Oleh karena itu, skala pengorganisasian menjadi tidak penting, karena dari kerja pengorganisasian skala kecil sampai skala besar, progres peningkatan kesepakatan selalu mungkin dan selalu dapat dimonitor.

Proses monitoring adalah swicth atau peralihan dari proses pengorganisasian pikiran menuju pengorganisasian tindakan. Perihal ini dijelaskan di awal pemaparan Yai Tohar dengan apik. Ilustrasi yang dipakai adalah seseorang yang melihat poster dilarang merokok. Ini adalah kerja pengorganisasian pikiran tahap paling awal. Orang yang melihat poster pikirannya bisa terpengaruh dan bisa juga tidak. Tetapo yang terjadi adalaj lebih banyak tidak terpengaruhnya.

Maka perlu proses pengorganisasian pikiran tingkat lanjut, yakni ajak seorang perokok untuk periksa rontgen. Setelah ia lihat paru-parunya bermasalah potensi pikirannya terpengaruh untuk berhenti merokok akan lebih besar ketimbang sekadar membaca poster. Masih ada dosis lanjutan, ajak keluarganya juga melihat hasil rontgen. Lalu keluarga yang ia cintai meng-iba di hadapannya, menampakkan ekspresi sedih andai ia mati karena rokok.

Maka, proses mempengaruhi pikiran menjadi semakin kuat. Hingga tahap ini, potensi pikirannya terhadap rokok tidak bergeming masih tetap ada. Ah, cuek saja lah. Begitu mungkin yang ada di pikiran. Maka, perlu switch menuju pengorganisasian tindakan, yakni dengan membuat mekanisme monitoring atau controling. Bagaimana agar seseorang terpantau setiap waktu, ketika merokok ada ‘alarm’ yang berbunyi.

Tentu saja perihal rokok di atas disampaikan Yai Tohar sebatas sebagai analogi. Bukan sedang memberi fatwa boleh/tidak-nya merokok. Dari analogi ini, jelaslah bahwa proses pengorganisasian mesti dilaksanakan dari hulu ke hilir. Pertanyaan kembali pada diri masing-masing, apakah kita di dalam ber-Maiyah sebatas memanfaatkan ilmu pengorganisasian pikiran, atau sudah mampu mengelaborasi bahkan menerapkannya pada proses pengorganisasian tindakan?

Community Organizing Rasulullah

Kembali pada topik community organizing. Tidak hanya peserta conference call melainkan Yai Tohar sendiri begitu excited ketika Syeikh Kamba memaparkan proses dari community organizing Nabi SAW di Madinah. Saking excited-nya, Yai Tohar selain melontar beberapa pantikan pertanyaan, juga meminta kesediaan Syeikh Kamba untuk memaparkan secara khusus pada pertemuan berikutnya tentang ayat-ayat Madaniyah yang menjadi panduan dari tahap-tahap proses dari kesepakatan-kesepakatan yang terbangun di Tanah Yastrib itu.

Nabi Muhammad Saw di Madinah mengurusi kegiatan dan masalah-masalah sehari-hari. Syeikh Kamba menyampaikan, pada awalnya masalah yang timbul adalah urusan berladang di sana. Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan pun seputar permasalahan tersebut. Lalu meningkat. Ketika ladang-ladang mulai berkembang, suku-suku di sana yang banyak berlaku seperti gengster yang kerap melakukan pencurian dan pengrusakan diajak untuk membangun kesepakatan-kesepakatan. Begitulah proses community organizing Nabi Muhammad Saw.

Yai Tohar merespons, dari proses kesepakatan-kesepakatan yang terus meningkat di sebuah komunitas itulah maka kemudian terbentuk sebuah sistem. Dan Leadership adalah sistem. Pada penjelasan ini, Yai membawa teman-teman untuk paham bahwa meski bongkar-pasang supir atau bagaimanapun, Indonesia tidak akan menyelesaikan masalah sepanjang sistem di dalam bernegara yang sudah di titik nadir ini tak ada niat untuk diperbaiki.

Mas Sabrang bergabung di tengah-tengah forum. Betapa masalah data pada penanganan krisis ini adalah sesuatu yang fundamental. Jangan jauh-jauh bicara transparansi data, lha wong datanya saja tidak punya kok. Lihat saja hari ini bagaimana Kemendesa kelimpungan menambal bolongnya data-data subjek penerima bantuan. Rizky memotret dari update teman-teman Simpul yang terlibat di tingkat desa, betapa masalah pendataan ulang penerima bantuan ini sudah membuat pertengkaran dan potensi chaos di beberapa daerah.

Pak Hamzah Ismail, Penggiat Maiyah Mandar menyampaikan proses pendatan dan verifikasi bertingkat di daerah. Para relawan desa terjun mendata orang-orang yang berhak menerima bantuan tetapi belum masuk dalam database bantuan sosial pemerintah sebelumnya. Ada belasan parameter yang cukup membuat pelik di lapangan. Sebagai seorang Camat, Pak Hamzah menceritakan bahwa tanda tangannya nantinya akan menjadi penentu akhir dari database penerima bantuan tambahan tersebut.

Masih tentang pentingnya data, Mas Sabrang mengisahkan, ada pengalaman seorang RT mendapat bantuan miliaran rupiah yang merupakan bantuan swadaya, bukan dari pemerintah. Bantuan kemudian gagal tersalurkan, karena Pak RT tersebut tidak mempunyai data yang dibutuhkan. Di sinilah Mas Sabrang mengingatkan pentingnya kita bersama-sama membuat sebuah Open Data yakni data yang qualified di mana user sendiri yang akan memilih sesuai variabel-variabel yang dibutuhkannya.

Dari transendensi wirid, hingga upaya menghadirkan sebuah platform open data adalah rentang yang begitu panjang dari apa yang disebut oleh Syeikh Kamba bahwa Maiyah ini sangat lengkap, yakni menawarkan pendekatan agama dengan pertimbangan rasional, akal dan hati nurani. Atau Yai Tohar menyebutnya sebagai tidak sebatas magic conciousness belaka.

Menurut Syeikh Kamba, Maiyah sudah cukup sebagai jalan keselamatan. Tidak perlu merasa kurang hanya karena Maiyah tidak kompromis bergabung dengan entitas-entitas mainstream.

Buku dan Merchandise