Me-Restart Diri dengan Ilmu Syaikh Nur Samad Kamba

Kurang lebih sudah 14 bulan lalu ketika Alm. Syaikh Nur Samad Kamba terakhir kali mengunjungi kami di Magelang. Pada waktu itu, beliau hadir bersama Mas Sabrang, Mas Doni KiaiKanjeng, dan Wakijo lan Sedulur sebagai narasumber sekaligus pengisi acara utama dalam Milad MQ ke-8. 

Langsung terkuak kembali memori dalam benak kami bagaimana suasana Sinau Bareng pada malam waktu itu, terutama saat mendengar kabar bahwa Syaikh Kamba telah wafat pada Sabtu dini hari.

Tentu saja rasa kehilangan mengerumuni kami, meskipun kita sama-sama tahu bahwa kematian adalah kepastian. Beliau adalah Guru kami, salah satu Marja’ Maiyah yang merupakan ahli tasawauf lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. 

Banyak tulisan sudah dipublikasi di caknun.com atau media lain untuk menggambarkan suasana duka maupun sekaligus mengenang jasa dan ilmu beliau. Pengetahuan dan ilmu beliau sangat mempengaruhi kami, terutama memudahkan kami mengenali keadaan-keadaan ruhaniah dengan istilah-istilah asing yang sering beliau gunakan. Walaupun metode penyampaian beliau memerlukan perhatian dan konsentrasi lebih untuk menyerap ilmu-ilmu yang diberikan.

Ketika di Magelang, salah satu poin penting yang beliau sampaikan adalah 5 nilai Jalan Kenabian. Uraian itu kemudian beliau tulis secara resmi dalam tajuk “Maiyah dan Jalan Peradaban Islam” bulan November 2019. Pada waktu itu beliau menyampaikan terjadinya kontras di mana zaman sedang mengalami tren transformasi budaya “hijrah”, akan tetapi realitanya justru dirasa semakin menjauh dari keadaan di masa Rasulullah. Apakah ada yang salah dengan receiver diri sehingga proses aplikasinya masih penuh dengan tendensi atau sifat transaksional?

Syaikh Nur Samba pernah mengatakan pada waktu itu,selama hubunganmu dengan Tuhan masih tetap transaksional maka cara beragamamu tak akan beranjak dewasa, dan selama kau tetap kekanak-kanakan dalam beragama kau akan tetap menjadi asuhan pemimpin yang bisa menjualmu kapan saja.

Kami pun pernah mentaddaburi bahwa pemimpin tidak melulu masalah politik atau hubungan profesional dalam lingkungan pekerjaan. Tapi, bisa juga pemimpin adalah tentang bagaimana kita menjadi pemimpin untuk melaksanakan amanah yang telah diberikan sebagai manusia. Bukankah itu perjuangan tersulit dan tak pernah selesai sepanjang hidup? Sudahkah kita mengetahui siapa pemimpin sejati yang memimpin masing-masing dari diri kita sendiri?

Dalam Maiyah kita banyak belajar, antara merasa berdaulat dengan diri sendiri, yang sebenarnya berbeda tipis dengan enaknya sendiri. Kita telah melakukan penyucian diri (tazkiyatunnafs), di banjir wujud perbuatan yang sering tak sejalan dengan kata-kata yang terlontar. Kita sering merasa telah arif dan bijaksana, di tengah kerumunan orang yang menganggap luapan emosi adalah hal yang wajar dan diperlukan, bahkan menjadi sebuah kebanggaan di depan umum. 

Kita telah memahami amanah dan jujur dalam bertindak maupun bertutur kata, serta memiliki tanggung jawab. Dalam kesendirian dan acapkali memandang itu penuh tendensi syarat dan ketentuan berlaku. Kita masih saja nyaman altruis ke dalam, selfish ketika mesti keluar zona nyaman. Sehingga, kita tidak menomorsatukan tujuan mendapatkan kepercayaan sepenuhnya dari masyarakat pada umumnya. Kita sering diam penuh pengorbanan, dalam lantangnya kata-kata cinta yang penuh kepalsuan.

Begitu banyak buah ilmu dalam kebun Maiyah, kita seringkali tidak sadar hanya mengambil buah yang dirasa enak dan sesuai kebutuhan diri. Kita enggan berkenalan kembali sesekali dengan luka yang mengenalkan arti kebahagiaan. Sedangkan Syaikh Kamba menegaskan ketika Sinau Bareng di Magelang, “Seseorang belum bisa mengklaim sebagai seorang pengikut Nabi jika belum berdaulat dengan diri sendiri, menghilangkan ego-ego, menerapkan kebijaksanaan, dan menumbuhkan cinta kasih. Baru setelah itu baru bisa mengikuti Rasulullah, syahadat bukan hanya sebatas sertifikat.”

Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

Singkat cerita sekitar akhir bulan Oktober, beberapa kami diperjalankan menuju Semarang mengikuti rutinan bulanan Gambang Syafaat. Ternyata, setelah sampai tempat acara ada informasi bahwasanya nanti akan ada Mbah Nun dan Syaikh Nur Samad Kamba. Tentu ini merupakan sebuah bonus karena melebihi ekspektasi beberapa dari kami yang sebenarnya hanya tertarik dengan tema “Pseudo Garuda” pada waktu itu.

Di Semarang, kami menemukan kedalaman ilmu dari apa yang pernah disampaikan Syaikh Kamba ketika di Magelang. Terutama pada poin kelima dari prinsip jalan kenabian, yakni tentang nilai cinta dan kasih sayang (mahabbah). Syaikh Kamba mencoba mengambil salah satu terminologi pertanyaan yang sering diajarkan Mbah Nun. Mana yang lebih berharga? Melakukan yang wajib atau yang sunnah? Ketika jawaban sudah pasti diketahui dan lebih condong ke arah yang sunnah, lantas mengapa yang sunnah lebih bernilai? Karena kita melakukannya tanpa disuruh, yang berarti kita telah melakukannya karena cinta.

Syaikh sendiri sering menengara tentang sifat transaksional dalam mengungkapkan cinta karena masih mengharapkan balasan atas sapaan-sapaan cinta yang dilontarkan. Sedangkan, Syaikh mengatakan bahwa kita perlu belajar memandang bagaimana cara Allah mencintai para hamba-Nya. Bukankah Ia lebih banyak bertepuk sebelah tangan cinta-Nya dan terus mencintai, di saat banyak di antara hamba-Nya yang berbuat dusta dan ingkar? Cinta ini merupakan salah satu pengetahuan dari ilmu khudluri, yakni sebuah ketulusan cinta tanpa harus merasa dimiliki oleh yang dicinta.

Orang Maiyah telah banyak mengalami transformasi perspektif dalam mempelajari cinta, salah satunya dari Marja’ Maiyah Syaikh Nur Samad Kamba. Mungkin sudah saatnya kita juga mulai meniti dan menata kembali keberangkatan cinta tanpa tendensi dengan mengutamakan peran Tuhan. Mungkin pula, buku terakhir Syaikh Kamba berjudul “Mencintai Allah Secara Merdeka” merupakan langkah awal untuk me-restart nilai-nilai yang mungkin sudah saling tindih atau ruwet sesuai dengan dhawuh Mbah Nun di Mocopat Syafaat kemarin.

Dan pesan yang menjadi pegangan kami dalam hal mahabbah, disampaikan Syaikh Kamba pada waktu itu. ”Dan terakhir, cara menjaga cinta tersebut salah satunya dengan mengamalkan wirid. Mengapa kita mesti menerapkan wirid? Karena, wirid berfungsi untuk menjaga konsistensi pikiran kita yang selalu fluktuatif agar mampu istiqomah agar selalu berpikir tentang kebaikan.” Dan hal ini sangat identik dengan “Revolusi Spiritual” yang pernah dituliskan Mbah Nun dalam tajuk Pilihan 3 Daur.

Yang menjadi tugas bersama adalah pakah ketiga daur itu merupakan sebuah tahapan? Atau saling berbagi peran seuai otentisitas dan keberangkatan nilai masing-masing diri atau juga berlaku kolektif yang bisa dijadikan ciri suatu simpul? Sembari menyiapkan diri untuk mengirim doa Yasin dan Tahlil yang telah menapaki malam yang ketiga, untukmu, kekasih kami.

Magelang, 22 Juni 2020

Lockdown 309 Tahun