Penghormatan untuk Syaikh Nursamad Kamba

Foto: Gandhi.

Hari ini, kita semua, Jamaah Maiyah berduka. Syaikh Nursamad Kamba berpulang ke haribaan Allah Swt. Sejak pagi, sejak informasi meninggalnya Syeikh Nursamad Kamba dirilis, ucapan belasungkawa mengalir. Sanak saudara, kerabat, handai taulan, sahabat, dan Jamaah Maiyah berdatangan, takziyah ke rumah duka di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur. Karangan bunga juga dikirimkan oleh mereka yang tidak sempat takziyah.

Kita semua sudah pasti memiliki kenangan tersendiri dengan sosok Syaikh Kamba. Beliau adalah Guru Besar kita, Marja’ Maiyah, ekspert Tasawuf yang telah memudahkan kita, di antaranya, dalam mempelajari Sirah Nabawiyah. Setiap beliau hadir di Maiyahan, materi yang disampaikan tidak pernah lepas dari khasanah sejarah Nabi Muhammad Saw.

Selama masa “lockdown” beberapa bulan terakhir ini, Syaikh Kamba juga aktif mengikuti forum Reboan on the Sky yang diselenggarakan oleh Kenduri Cinta. Mungkin, karena memang aktivitas Syaikh Nursamad Kamba adalah dosen aktif, maka semangat berbagi ilmu yang beliau miliki begitu besar. Tidak peduli media yang digunakan, meskipun secara daring, beliau maksimal menyampaikan materi, pandangan, dan gagasannya. Termasuk juga dalam kuliah daring beliau selenggarakan bersama anak didiknya di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Bukan hanya Jamaah Maiyah yang merasa kehilangan Syeikh Nursamad Kamba, banyak sahabat dan kerabat Syaikh Nursamad Kamba yang mengucapkan belasungkawa di media sosial. Ternyata, Syeikh Kamba memiliki tempat di hati banyak orang.

Buku-buku karya Syaikh Nursamad Kamba seperti Kidz Zaman Now Menemukan Kembali Islam ternyata diterima masyarakat luas Indonesia. Banyak dari mereka yang mengungkapkan rasa terima kasih kepada Syeikh Nursamad Kamba karena telah memberi warna khasanah keislaman melalui buku-bukunya. Dan tentu saja, kita sedang menunggu dirilisnya buku yang baru saja selesai ditulis oleh Syaikh Nursamad Kamba berjudul Mencintai Allah Dengan Merdeka. Entah rahasia apa yang terkandung di balik kenyataan Allah memberikan kesempatan kepada Syaikh Nursamad Kamba untuk menunggu kata pengantar buku tersebut oleh Mbah Nun, yang baru dikirim beberapa jam sebelum Allah menjemputnya dini hari tadi.

Ba’da dzuhur tadi, jenazah Syaikh Kamba dimandikan, kemudian dikafani dan disholatkan di rumah duka. Pak Luqman Hakim Saefudin turut menyolatkan.

Dari rumah duka, jenazah Syaikh kemudian dibawa ke Masjid Al-Fattah di Kampung Dukuh, tidak jauh dari rumah duka. Semua yang datang takziyah, yang belum berkesempatan menyolatkan jenazah diberi kesempatan untuk melaksanan di Masjid. Ba’da ashar, jenazah kemudian diberangkatkan menuju TPU Kampung Rambutan 1, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk dimakamkan.

Proses pemakaman berlangsung lancar, jenazah Syaikh Nursamad Kamba begitu sampai di TPU langsung dikebumikan. Seluruh pentakziyah yang turut mengantarkan jenazah mengikuti prosesi dengan khidmat. Doa demi doa dipanjatkan, suasana haru menyelimuti senja sore tadi di langit Jakarta.

Ya Allah, hari ini kami kehilangan Guru Besar kami. Hari ini, telah kau panggil salah satu kekasihmu, yang sangat sabar dan telaten menemani dan membimbing kami untuk memahami sejatinya ajaran-Mu, ya Allah. Syaikh Nursamad Kamba adalah orang yang sangat berjasa kepada kami, karena beliau menjadi jembatan bagi kami untuk mengenal lebih dalam kekasih-Mu yang utama, Nur Muhammad Saw.

Ya Allah, terimalah arwah Syaikh Nursamad Kamba dan tempatkanlah ia di tempat yang terbaik di sisi-Mu.

Lockdown 309 Tahun