Perjalanan ‘Diperjalankan’

Banyak kisah heroik mengenai Jamaah Maiyah yang istiqomah bergabung dengan lingkar Maiyah di berbagai kota. Ada yang mengkhususkan diri bersepeda “ngonthel” dari Blitar menuju Surabaya bergabung dengan Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan, ada lagi yang bersepeda motor bersama istri dan anak bayinya dari Ungaran ke Kota Semarang bergabung dengan Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat, ada juga yang selalu “terbang” ke Pulau Jawa setiap jadwal Maiyahan tiba, dan kisah-kisah lain yang mungkin belum sempat tertuliskan.

CakNun.com

NAJWA MENANTI SHOIKHAH

Di sebuah forum ada orang yang menuduh saya mengerti Bahasa Arab, sehingga bertanya: “Apa Bahasa Arabnya Medsos?”

Karena tuduhannya ngawur, maka saya merasa berhak untuk menjawab ngawur juga: “Najwa”.

CakNun.com

Daur-II • 113

Paduka Agen Al-Qur`an

“Mungkinkah kita menjadi Muslim sejati atau kaffah, tanpa menjadi Ulama? Mungkinkan Allah menerima seorang hamba dengan ridha-Nya tanpa ia mencapai kualitas ilmu dan kesalehan setingkat Ulama?

CakNun.com

Fenomena Emha

Ketika kondisi sosial  politik dan birokrasi menjadi begitu angkuh dalam menghadapi manusia, kita akan terkenang kepada puisi-puisi Emha, seperti juga kita mengingat karya-karya Rendra atau Taufiq Ismail.

CakNun.com

Daur-II • 112

Tuhan dalam Undang-undang

“Masyarakat menyebut-Mu dalam sujudnya, bahkan mencantumkan-Mu dalam filosofi dan undang-undangnya, namun meyakini bahwa tidaklah relevan dan proporsional untuk meletakkan-Nya sebagai faktor primer dalam rapat-rapatnya, dalam musyawarah pembangunan Negaranya.

CakNun.com

Daur-II • 111

Eksplorasi Manfaat

Ternyata Markesot menjadi berkecil hati juga. Sejak itu ia agak banyak diam dan menulis catatan-catatan.

“Wahai Baginda Muhammad, karena aku ini orang kebanyakan, dan tergolong bukan orang khusus, bukan Ulama, melainkan sembarang orang – maka aku jadi merasa bersalah dan kotor untuk berdekatan dengan Al-Qur`an.

CakNun.com

Daur-II • 110

Agama Pembalasan

Terhadap kritik “koyok Islam-islamo”, Markesot tertawa agak pahit. “Masyarakat kita ini sudah dilanda penyakit identitas, papan nama, simbol dan indikator”, katanya, “kalau mendengar ayam berkokok, nomor satu nikmatilah keindahan bunyi kokok itu, merdekakan dirimu bahwa yang berkokok adalah ayam, lupakan dulu identitas gendernya bahwa ia ayam jantan, kemudian bebaskan diri dari persangkaan bahwa kokok itu dipekikkan atas dasar ideologi, agenda politik, pencitraan sosial, atau apapun.

CakNun.com
search cart twitter facebook gplus youtube image image