Farewell to a Great Teacher, Thinker, and Friend…

INDONESIA VERSION

Dear friends in Maiyah,

Inna lillahi wa inna illaihi roji’un

Today the Maiyah movement lost one of its leading lights with the passing of Syeikh Nursamad Kamba. He was truly a “spiritual journey”, giving many of his later years to the Maiyah movement and bringing his insightful commentary to gatherings of thousands at Kenduri Cinta, Mocapat Syafaat, Gambang Syafaat each month. Syeikh Nursamad was a Marja for Maiyah, a revered mentor and resource who helped guide its path and intellectual trajectory. He was trusted by Mbah Nun and others in Maiyah leadership to bring the sharpest critiques and most radically disarming ideas to the Maiyah discourse. And he did so with honesty and frequency.

Syeikh Nursamad had been a scholar and academic who for a significant part of his career was posted to Al Azhar in Cairo, Egypt. He made a thorough study of the Holy Qur’an and the commentaries around it, and as his thought matured he crystallised his views into remarkably original ideas. These found their way into his books. He is remembered for his time there by the community of students and others who encountered him there. And significantly, it was in Egypt that Syeikh Nursamad first encountered Mbah Nun. Recounting this meeting in a recent “Reboan” gathering, he spoke of first meeting Mbah Nun, who had been visiting the country. Syeikh Nursamad commented on the turning point that this encounter represented for him, that Mbah Nun had given an analysis, brief and sharp, that served to shift his viewpoint and caused him to rethink his own position. But that’s the kind of personal “deconstruction” that one needs to prepare for if you step on to the Silent Path with Mbah Nun. And that’s what Syeikh Nursamad did. Not only did he walk the path, he was one of its main architects and landscapers, clearing the way for others to follow more easily and readily. And follow, we did.

When Syeikh Nursamad returned to Indonesia some few short years later, he quickly occupied a position of entrusted authority on Qur’anic jurisprudence and Islamic thought for the Maiyah movement, as befitting a revered professor, scholar and academic. We could not have been served better. You will all remember the stories he told at the Maiyah gatherings of the Prophets (peace be upon them), of the struggles of the early Muslims and especially of the life of the Prophet Muhammad (peace be upon him). He used these stories to respond to our questions, to shape the Maiyah discourse and to cast the spiritual and Qur’anic narrative for the movement. He was a terrific companion and friend who had nothing but wisdom and gentleness in his armoury but who used them with disarming ingenuity.

Beyond all this, Syeikh Nursamad was a theorist who guided the Maiyah movement with his incisiveness and wit, bringing to our gatherings the theoretical grounding of the relationship between Allah, the Prophet Muhammad (pbuh) and humankind. He played interpreter to Mbah Nun’s “maestro” as they jousted on stage over ideas, insights and points of Maiyah thought, as well as jokes and humour. As a resource, he will be sadly missed but I hope his family can take comfort from the depths of respect and love in which he was held by us all.

I am sorry that I could not sit and work with Syeikh Nursamad just one more time. The last time we met, in Jakarta at Kenduri Cinta in December 2019, we sat and compared notes on what we would talk about during the gathering at TIM. I had some ideas and I put them to Syeikh Nursamad, and he was able to reimagine them, extract the essence, delete what was unnecessary and build a new thought of much greater clarity and light. That was his gift. He was not only a great thinker but also perhaps the great refiner. He converted thought into light and illuminated our narrative. At that last time, sitting in the restaurant before Kenduri Cinta, Syeikh Nursamad shared some thoughts on the revelation of the Holy Qur’an, on the importance and duality of Mecca and Medina in the Prophet’s (pbuh) life and path, and on the nature of  “Hijrah” as a positive, spiritually-affirming choice. These ideas will not be new to many Muslims but Syeikh Nursamad was able to reposition them with an analysis that was clear and original and it provoked an excitement and positivity that lasted through that Kenduri Cinta evening. That was the gift of his lesson. Those thoughts and many others we shared have stayed with me since and help to build my own ideas. Encounters with Syeikh Nursamad are like that. They are not easily forgotten because they give so much.

Speaking to him later, I gained a clear sense of his love for us, for Mbah Nun and for the entire Maiyah community here in Indonesia and overseas. He has been our teacher in opening to us the pages of the Qur’an and showing us their meaning. He has been a thinker in sharing with us his original thought and analysis. And he has been the best of friends. We say farewell to our friend, our brother and teacher, Nursamad Kamba. Husnul khotimah, inna lillahi wa inna illahi roji’un.

Selamat Jalan untuk Seorang Guru, Pemikir, dan Teman yang Hebat

Teman-teman di Maiyah,

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Hari ini gerakan Maiyah kehilangan salah satu cahaya pemandunya dengan meninggalnya Syeikh Nursamad Kamba. Beliau adalah sebenar-benarnya sebuah “perjalanan spiritual”, yang memberikan banyak waktu dari tahun-tahun terakhirnya kepada gerakan Maiyah dan menyajikan ulasan-ulasannya yang sangat berwawasan dalam pertemuan ribuan orang di Kenduri Cinta, Mocapat Syafaat, Gambang Syafaat setiap bulan. Syeikh Nursamad adalah Marja’ untuk Maiyah, seorang mentor yang dihormati dan kekuatan yang membantu memandu jalan dan trayek intelektual Maiyah. Beliau dipercaya Mbah Nun dan sesepuh Maiyah lainnya untuk membawa kritik paling tajam dan ide-ide radikalnya ke dalam diskursus Maiyah. Dan, beliau melakukannya dengan jujur ​​dan intensif.

Syeikh Nursamad adalah sarjana dan akademisi, yang sebagian besar kariernya dihabiskan di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Beliau melakukan penelitian mendalam tentang Al-Qur’an dan

ulasan-ulasan seputar Al Qur’an, dan ketika pemikirannya matang, beliau mengkristalkan pandangannya menjadi ide-ide yang sangat orisinal. Ide-ide ini kemudian menemukan jalannya ke dalam buku-buku Syaikh Kamba. Masa beliau di Al-Azhar itu dikenang oleh komunitas mahasiswa dan orang-orang yang dijumpainya di sana. Dan amat signifikan, di Mesirlah Syeikh Nursamad pertama kali bertemu Mbah Nun. Mengisahkan pertemuan ini dalam forum “Reboan” baru-baru ini, beliau berbicara tentang pertemuan pertama kali dengan Mbah Nun, yang waktu itu mengunjungi negara Mesir. Syeikh Nursamad menceritakan titik balik itu bahwa perjumpaan itu sangat memberi arti baginya, bahwa Mbah Nun telah memberikan analisis, singkat dan tajam, yang menyebabkan beliau mengubah sudut pandang pemikirannya dan menyebabkan beliau memikirkan kembali pandangan-pandangannya. Tetapi, itulah satu jenis “dekonstruksi” personal yang perlu dipersiapkan jika Anda hendak melangkah ke Jalan Sunyi bersama Mbah Nun. Dan itulah yang dilakukan Syeikh Nursamad. Beliau tidak hanya melangkah di jalan itu, beliau adalah salah satu arsitek dan penata taman utamanya, yang membuka jalan bagi orang lain untuk mengikutinya dengan lebih mudah dan siap. Ikutilah, dan kita menjalaninya.

Ketika Syeikh Nursamad kembali ke Indonesia beberapa tahun kemudian, beliau dengan cepat menduduki posisi otoritas yang terpercaya menyangkut yurisprudensi Al-Qur’an dan pemikiran Islam untuk gerakan Maiyah, hal yang sangat sesuai dengan posisinya sebagai profesor, sarjana, dan akademisi yang dihormati. Kita tidak bisa berada atau mencapai posisi itu. Anda semua akan ingat kisah-kisah yang pernah beliau ceritakan pada pertemuan Maiyah tentang para Nabi, tentang perjuangan umat Islam awal dan khususnya kehidupan Nabi Muhammad Saw. Beliau menggunakan cerita-cerita ini untuk menjawab pertanyaan kita, untuk membentuk diskursus Maiyah, dan membentuk narasi spiritual dan Qur’ani bagi gerakan ini. Beliau adalah teman yang hebat dan teman yang tidak memiliki apa pun kecuali kebijaksanaan dan kelembutan di dalam gudang persenjataannya, yang menggunakan keduanya dengan kecerdasan yang melucuti.

Di luar semua ini, Syeikh Nursamad adalah teoretikus yang membimbing gerakan Maiyah dengan ketajaman dan kecerdasannya, dan mengantarkan landasan teoretis tentang hubungan antara Allah, Nabi Muhammad Saw, dan manusia kepada komunitas kita. Beliau memerankan posisi sebagai penafsir “kemaestroan” Mbah Nun ketika beliau berdua bertandem di atas panggung membincang gagasan, wawasan, dan poin pemikiran Maiyah, termasuk jokes dan humor. Sebagai pribadi yang kita butuhkan, beliau akan sangat dirindukan, tetapi saya berharap keluarga yang ditinggalkan dapat terhibur oleh rasa mendalamnya hormat dan cinta yang kita semua haturkan kepada beliau.

Saya menyesal tidak bisa duduk dan bekerja dengan Syeikh Nursamad sekali lagi. Terakhir kali kami bertemu, di Jakarta di Kenduri Cinta pada bulan Desember 2019, kami duduk dan membandingkan catatan tentang apa yang akan kami bicarakan selama pertemuan di Taman Ismail Marzuki. Saya punya beberapa ide dan saya menyerahkannya kepada Syeikh Nursamad, dan beliau dapat merekonstruksi gagasan saya itu, mengambil intinya, menghapus apa yang tidak perlu, dan mengubahnya menjadi formulasi baru pemikiran secara lebih jelas dan tandas. Itulah talenta beliau. Beliau tidak hanya pemikir yang hebat (great thinker), tetapi juga mungkin pemroses yang andal (great refiner). Beliau menjelmakan pemikiran menjadi cahaya dan menerangi narasi kita. Pada saat terakhir itu, kami duduk di restoran sebelum Kenduri Cinta, Syeikh Nursamad berbagi pemikiran tentang pewahyuan Al-Qur’an, tentang pentingnya dualitas Mekah dan Madinah dalam kehidupan dan jalan Nabi Muhammad Saw, dan karakter “Hijrah” sebagai pilihan yang positif dan secara spiritual bersifat meneguhkan. Kebaruan gagasan-gagasan ini mungkin tidak akan tertangkap oleh banyak umat Islam, tetapi Syeikh Nursamad mampu menata ulangnya dengan analisis yang jelas dan orisinal, dan ini mendorong lahirnya gairah dan positivitas yang berlangsung sepanjang malam Kenduri Cinta itu. Itulah karakter pelajaran dari beliau. Pemikiran-pemikiran itu, dan banyak yang lainnya, yang kita telah berbagi mengambil tempat di dalam diri saya sejak awal, dan turut membantu terbentuknya gagasan-gagasan saya sendiri. Seperti itu pula perjumpaan-perjumpaan saya dengan Syeikh Nursamad. Perjumpaan-perjumpaan itu tidak mudah dilupakan karena telah memberi begitu banyak.

Berbicara mengenai beliau, saya menangkap rasa cintanya yang jelas untuk kita, untuk Mbah Nun, dan untuk seluruh komunitas Maiyah di Indonesia dan di luar negeri. Beliau telah menjadi guru kita yang membukakan kepada kita halaman-halaman Al-Qur’an dan menunjukkan maknanya kepada kita. Beliau adalah seorang pemikir yang membagikan kepada kita pemikiran dan analisis orisinalnya. Dan beliau telah menjadi teman terbaik. Kita mengucapkan selamat jalan kepada teman kita, kakak dan guru kita, Nursamad Kamba. Husnul khotimah, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Thailand, 20 June 2020

Lockdown 309 Tahun