Selamat jalan, Syeikh Nursamad Kamba

Dinihari tadi (20/6), ketika kita semua masih terlelap, Allah memanggil salah satu kekasihnya, guru kita semua, salah satu Marja’ Maiyah: Syeikh Nursamad Kamba. 

Berita duka selalu mengagetkan kita. Kapan datangnya maut adalah rahasia yang tak bisa disangka-sangka. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa menghindari maut. Bersembunyi di lubang yang teramat dalam pun, maut akan tetap menjemput kita. Qul inna-l-mauta-lladzii tafirruna minhu fainnahuu mulaqiikum. Al Jumuah:7.

Beliau, Syeikh Nursamad Kamba dalam beberapa minggu terakhir ini sempat dirawat di rumah sakit dan harus menjalani beberapa terapi atas sakit yang dialaminya. Beberapa waktu lalu, Syeikh Nursamad Kamba masih sempat take video untuk Live Instagram di akun Instagram Kenduri Cinta. Dalam beberapa kesempatan pula, karena beliau masih aktif sebagai Dosen di UIN Sunan Gunung Djati, proses kuliah daring pun dijalani. Dalam masa pandemi ini, beliau tetap membimbing anak didiknya, meskipun hanya melalui daring.

Kita semua, Jamaah Maiyah belajar banyak dari Syeikh Nursamad Kamba tentang banyak ilmu dan khasanah keislaman, terutama dalam Sirah Nabawiyah dan Ilmu Tasawuf yang memang beliau ekspert di bidang ini. Penjelasan Syeikh Nursamad Kamba selalu rinci dan detail, sangat teknis akademis, karena memang beliau adalah Dosen aktif. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa menyimak paparan Syeikh Kamba akan merasa berat menyimak, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahaminya.

Buku Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw karya Prof. Dr. Husain Mu’nis yang diterjemahkan beliau adalah buku yang sangat berharga. Beliau menjembatani kita semua yang tidak fasih berbahasa Arab agar lebih mudah membaca buku tersebut. Melalui pencariannya, Syeikh Nursamad Kamba kemudian menyimpulkan bahwa Maiyah adalah Jalan Kenabian. Apakah yang lain bukan jalan kenabian? Tentu saja tidak demikian, tetapi Syeikh Kamba mengalami dan merasakan pengalaman spiritual di Maiyah, dan dibuktikan sendiri oleh beliau bahwa Maiyah menjalani jalan kenabian dengan lima prinsip nilai: Kemandirian, Pembebasan diri dari ego, Bijaksana, Jujur dan Cinta Kasih.

Secuplik ilmu yang sangat berharga bagi kita semua, sebagai pelepas dahaga, di tengah ketidakjelasan zaman yang penuh riak-riak ego merasa paling benar sendiri. Mbah Nun menjelaskan bahwa Maiyah adalah Jalan Sunyi. Seolah-olah kita sedang melewati setapak jalan yang jauh dari keramaian, jauh dari ingar-bingar riuhnya dunia. Syeikh Nursamad Kamba membesarkan hati kita, membangkitkan semangat hidup kita, bahwa kita tidak benar-benar kesepian. Mungkin kita merasa terasing di tengah kepingan puzzle zaman yang semakin ruwet tatanannya untuk disatukan kembali. 

Ketika mendengar informasi bahwa Syeikh Nursamad Kamba harus dirawat di rumah sakit, kita semua pun memanjatkan doa agar beliau sehat kembali. Kami di Jakarta, secara daring pun bersama-sama penggiat Kenduri Cinta memanjatkan doa. Begitu juga dengan teman-teman penggiat Simpul Maiyah lain.

Informasi yang kami terima dari Mas Irfan, putra tertua Syeikh Nursamad Kamba, bahwa Jumat kemarin (19/6) beliau masih sempat medical check up di Rumah Sakit, dan hasil pemeriksaan memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan beliau baik-baik saja.

Sore hari kemarin, Syeikh Kamba masih berkomunikasi dengan Mbah Nun. Melalui Mas Gandhie, Mbah Nun menyampaikan sebuah tulisan untuk buku yang sudah selesai ditulis oleh Syeikh Nursamad Kamba yang berjudul: Mencintai Allah Secara Merdeka.

Dan Syeikh Nursamad Kamba sekarang benar-benar sudah merdeka. Tulisan pengantar oleh Mbah Nun sepertinya adalah sebuah tulisan yang sangat ditunggu oleh Syeikh Nursamad Kamba. Hingga akhirnya Allah menjemput Syeikh Nursamad Kamba dalam keadaan yang benar-benar merdeka.

Pagi ini (20/6), jenazah Syeikh Nursamad Kamba disemayamkan di rumah duka, di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur. Sejak pagi tadi Jamaah Maiyah pun berdatangan takziyah di rumah duka, membacakan tahlil, doa dan surat yasin di samping jenazah. Rencananya, jenazah akan dimakamkan sore nanti di TPU Kampung Rambutan, ba’da ashar.

Selamat jalan Syeikh Nursamad Kamba.

Lockdown 309 Tahun