Daur

Peradaban Teks

Sekarang Junit Jitul Toling dan Seger seperti mengingat kembali dan menyadari bahwa selama ini sebenarnya banyak macam-macam tamu yang datang. Kadang yang menemui Pakde Brakodin, saat lain Pakde Tarmihim atau Sundisin.

Maiyahan

Arkaanul Maiyahan

Pada sebuah kesempatan Mocopat Syafaat, waktu itu belum ada istilah Simpul Maiyah, Ferdian dari Magelang naik ke panggung untuk berbagi sekaligus mengumumkan bahwa akan segera digelar rutinan kumpul-kumpul untuk Jamaah Maiyah yang tinggal di sekitaran Magelang.

Khasanah

Karena Saya Manusia

Saya bertanya kepada anak-anak: “Andaikan dalam hidup ini tidak ada hukum, apakah kamu mencuri?”

“Tidak”, jawabnya.

“Kenapa?”

“Karena saya manusia”

“Kenapa karena kalian manusia maka kalian tidak mencuri?”

“Karena manusia punya akal, kemampuan berpikir tentang kewajiban dan hak, serta menghitung keseimbangan dan harmoni kebersamaan”

“Kalau Tuhan tidak pernah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul untuk mengajak berbuat baik, apakah kamu berbuat buruk?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena saya manusia”

“Bukankah manusia wajar jika berbuat buruk?”

“Ya.

Catur Sila

Anak-anak saya yang di SMP dan SMU mulai banyak rewel bertanya tentang Pancasila. Bisa dipastikan saya menjadi gelagapan. Di zaman saya bersekolah dulu tidak pernah memperoleh muatan penjelasan yang matang sehingga nyantol di memori otak saya.

Fitnah Ja’dal

Gus Dur diucapkan Gus Dor, Eros Djarot dipanggil Erus Djarut. Aku jatuh cinta kepada orang Madura yang “tidak takut kepada tentara, Kopassus atau satuan apapun, asalkan bukan TNI”

Pustaka Emha

Tajuk

Mozaik

Wong²an

“Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu”

Saya yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron. Apapun yang dia ucapkan, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.

Karena hilir persaingan politik adalah kemenangan dan kekuasaan, bukan kebenaran dan keadilan, maka banyak output sosial demokrasi yang menyakitkan rakyat.

Tadabbur Daur

Mènèk Blimbing

Asepi

Pak Nevi Asisten Pengobatan Cak Nun

Masih dalam jadwal perjalanan memenuhi permintaan masyarakat, sore ini KiaiKanjeng bergerak ...

Cak Nun mendapuk alias mendaulat Pak Nevi untuk ikut meng-handle sebagian dari orang-orang yang menyodorkan permohanan doa kesembuhan itu.

Seribu Idul Fitri
Untuk Seribu Diri

Pencapaian diri-rakyatmu mungkin adalah ketangguhan untuk tidak terhina oleh pelecehan, tidak menderita oleh penindasan, tidak mati oleh pembunuhan.

Yang hari ini dan yang tahun kemarin sama-sama Idul Fitri, tetapi Idul Fitri yang hari ini bukanlah Idul Fitri yang tahun lalu maupun yang tahun depan.

Mbah Ratmo dan Wayang Kardus

Tujuh puluh enam (76) tahun bukanlah usia yang muda lagi untuk ...

Selain tokoh wayang, Mbah Ratmo juga membuat wayang berupa binatang. Mbah Ratmo juga sering memanfaatkan wayangnya untuk media mendongeng.

Simpul Maiyah

Kembali ke Huma Berhati

Cak Dil pada pertengahan bulan Januari ke Bandung dan berdiskusi bersama penggiat memetakan permasalahan sosial dan pertanian yang dialami masyarakat Indonesia.

Jamparing Asih #JAJan mengambil tema "Kembali ke Huma Berhati" yang merupakan kutipan puisi “Apa Ada Angin di Jakarta” karya Umbu Landu Paringgi.
search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right