Headline

Daur-II • 027

Pertengkaran Cèkèrèmès

“Kenapa harus perang malam hari? Bukankah jumlah kita mayoritas di Negeri ini?”, Toling bertanya. Kemudian secara spontan anak-anak muda itu mengungkapkan pandangan-pandangannya.

“Satu orang yang pegang senapan, yang di sakunya ada sejumlah granat, dan di saku lainnya tersimpan kunci gudang-gudang makanan, bisa mengendalikan seratus orang di hadapannya”

“Mayoritas tidak terutama ditentukan oleh jumlah orangnya, melainkan oleh penguasaan terhadap perangkat-perangkat kekuasaan dan logistik serta fasilitas-fasilitas lainnya”

“Ada mayoritas kuantitatif, ada mayoritas kualitatif.

Daur-II • 026

Allah Yang Melempar

CakNun.com

Dengan kecerdasannya masing-masing, simulasi pikiran dan imajinasi kreatif, anak-anak muda itu mencari “perang malam hari”.

“Perang dalam keadaan gelap”, kata Toling, “tidak kelihatan ada peluru akan datang, apalagi senapan dan penembaknya”

“Tidak bisa diukur jauh atau dekat kecuali dengan kepekaan telinga dan rasa”, sambung Jitul, “skala medan perang hanya bisa diperkirakan berdasarkan informasi sebelum gelap”

“Kalau diserang belum tentu bisa diidentifikasi penyerangnya”, Junit meneruskan, “kalau menyerang juga tidak boleh ketahuan asal usulnya”

“Pertempuran tanpa jejak”, suara Seger, “tidak ada sesumbar, tidak ada teriakan, tidak ada takbir atau pekikan, tidak ada tanda-tanda lewat suara atau media informasi lainnya apapun”

“Kegelapan tidak hanya karena medan dan cuaca”, kata Jitul, “tapi juga karena jenis atau formula atau teknik serangannya.

Maiyahan

Tajuk

Mari Mentadabburi Daur Mbah Nun

Atas respons-respons yang dikirimkan Jannatul Maiyah, kita semua layak bersyukur. Dan rasa syukur itu diwujudkan akan ditayangkan respons dan tadabbur itu dalam sebuah rubrik baru di CAKNUN.COM bernama “Tadabbur Daur”.

CakNun.com Untuk itu mari bersama-sama terus mensyukuri 309 Daur tersebut dengan terus berpartisipasi mentadabburi Daur baik itu berupa Tahqiq sejumlah minimal lima...

Pustaka Emha

PANDAWAYUDHA

Masing-masing pihak yang berhadap-hadapan merasa dirinya Pandawa. Bahkan sangat yakin dengan ke-Pandawa-annya.

CakNun.com Ini Pandawayudha. Permusuhan antara Pandawa dengan Pandawa untuk dirinya masing-masing, atau Kurawa lawan Kurawa untuk penglihatan atas musuhnya masing-masing.

Kabar dari Tuhan

Saya bertanya dalam hati: Yogya mengayomi Indonesia bagaimana maksudnya? Tentu saja Beruk sudah menyiapkan jawabannya di tulisan yang berbentuk surat dan mengalir seperti catatan harian.

CakNun.com Pertama, mempertanyakan kembali bentuk, wujud, racikan atau formula kebersamaan Bangsa Indonesia, yang sementara ini Negara Republik dan diadopsi dari...

Yogya Pengayom Indonesia

Yang dianggap benar dan baik tidak punya kesalahan dan keburukan sedikit pun. Yang dianggap salah dan buruk, tidak punya kebenaran dan kebaikan secuil pun.

CakNun.com Supaya masyarakat kita tidak berkepanjangan dijebak dan dikurung oleh situasi hubungan sosial dengan dasar “siapa yang benar”. Supaya cara berpikir...

Khasanah

Politik Fir’auni Vs Politik Nabawi (2)

Tidak selesainya suatu permasalahan dijadikan alat untuk memperkuat kekuasaan. Tidak menyelesaikan masalah menjadi bagian dari menyelesaikan masalah itu sendiri.

CakNun.com Berbeda dengan politik fir’auni yang tujuannya memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya dengan menghalalkan segala cara seperti mengkotak-kotakkan....

Menyelami Maiyah Cinta Segitiga

Dalam mendalami Cinta Segitiga, bahwa pada kajian tersebut, kata Ma’a di dalam Al-Qur`an disebutkan sebanyak 161 kali berada di antara relasi atau kebersamaan tiga titik di dalam segitiga.

CakNun.com Jamaah Maiyah untuk mengingat-ingat kembali, menggali, memperdalam, mendiskusikan, meng-ijtihadi bersama ilmu dasar itu, yaitu Maiyah Cinta Segitiga.

Wong²an

“Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu”

Saya yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron. Apapun yang dia ucapkan, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.

CakNun.com Karena hilir persaingan politik adalah kemenangan dan kekuasaan, bukan kebenaran dan keadilan, maka banyak output sosial demokrasi yang menyakitkan rakyat.

Tadabbur Daur

Spiritual Bukan Versus Sosial

Saya sebenarnya sangat berharap bisa seperti dulur-dulur yang lain yaitu membaca, memahami, dan merespon Daur perjalanan Markesot yang pada saat saya menulis ini sudah mencapai lebih dari seratus edisi.

CakNun.com Di dunia ini kewajiban saya adalah belajar mengidentifikasi, mana bahan bangunan yang berguna bagi masa depan abadi saya dan mana yang bukan.

Mènèk Blimbing

Asepi

Seribu Idul Fitri
Untuk Seribu Diri

Pencapaian diri-rakyatmu mungkin adalah ketangguhan untuk tidak terhina oleh pelecehan, tidak menderita oleh penindasan, tidak mati oleh pembunuhan.

CakNun.com Yang hari ini dan yang tahun kemarin sama-sama Idul Fitri, tetapi Idul Fitri yang hari ini bukanlah Idul Fitri yang tahun lalu maupun yang tahun depan.

Mbah Ratmo dan Wayang Kardus

Tujuh puluh enam (76) tahun bukanlah usia yang muda lagi untuk berkarya.

CakNun.com Selain tokoh wayang, Mbah Ratmo juga membuat wayang berupa binatang. Mbah Ratmo juga sering memanfaatkan wayangnya untuk media mendongeng.

Simpul Maiyah

Kembali ke Huma Berhati

Cak Dil pada pertengahan bulan Januari ke Bandung dan berdiskusi bersama penggiat memetakan permasalahan sosial dan pertanian yang dialami masyarakat Indonesia.

CakNun.com Jamparing Asih #JAJan mengambil tema "Kembali ke Huma Berhati" yang merupakan kutipan puisi “Apa Ada Angin di Jakarta” karya Umbu Landu Paringgi.

search cart twitter facebook gplus youtube ornamen-left ornamen-right