Pagi di 1 Januari 2024
Memasuki 2024 — mosok yo mau memberi tips-tips resolusi. Menyarankan bikin planing-planing. Menganjurkan muhasabah. Dan lain-lain.
Memasuki 2024 — mosok yo mau memberi tips-tips resolusi. Menyarankan bikin planing-planing. Menganjurkan muhasabah. Dan lain-lain.
Tetapi “hudan linnas” mencerminkan rasio bahwa sesungguhnya setiap manusia oleh Allah diciptakan memiliki peralatan akal dan kelengkapan kejiwaan untuk bersentuhan dengan Al-Qur`an.
Mereka akhirnya bisa menjadi penghalang iman dan ilmu kita. Mereka melakukan atau berposisi memonopoli Allah dari alam kejiwaan kita. Mereka menjadi makelar-makelar atau pengecer-pengecer yang memotong hubungan otentik kita dengan Allah.
Sarasehan yang dihadiri oleh doktor bule itu jelas akan berlangsung hingga pagi.
Buku ini disusun tidak dengan berangkat dari teknik pembaganan atau sistematisasi permasalahan, melainkan merupakan rangkuman suatu konteks yang tak berbeda, serta diusahakan antara satu tulisan dengan lainnya memiliki alur.
Semakin sering saya memimpikan betapa bahagia rakyat di dunia apabila terdapat satu gelintir saja pemimpin yang bertipe “negarawan-pujangga”.
Gareng mencuri ayam dikurung tiga bulan, sang senopati makan tiga samudera minyak malah tidur ongkang-ongkang di permadani yang bersambung dari satu bukit ke bukit lain.
Tumpahlah sudah minuman keras nasibku
Yakni lelehan darah nanah kepada tuhanku si pembisu
puisi kekasih belum selesai, ia bawa ke perjalanan, di perjalanan ia jumpai ribuan orang menangis, kekasih menadahi laut hujan airmata mereka sambil tertawa terbahak-bahak, kertas puisi kekasih basah lumat, tintanya larut, api kandungannya menguap
Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir
H.B. JASSIN pengamat dan kritikus sastra terkemuka Indonesia dalam komentarnya menanggapi perkembangan sastra budaya Islam, menyatakan optimis melihat kecenderungan-kecenderungan baru dalam kepuisian dewasa ini.
Bila pada tahun 1930-an para cendekiawan mengupayakan dekolonialisasi substantif dan akad politiknya berwujud kemerdekaan 1945, maka tahun 1970-an Cak Nun memulai esai-esai lepasnya dan akad bukunya kemudian terbit pertama kali 1983.
Banyak sekali ekspresi masyarakat, terutama tokoh-tokoh kelas menengahnya, yang kemlinthi, gembagus, seneng pamer; “Saya merakyat! Kami peduli! Kami mengabdi rakyat!” dan banyak sekali umuk-umuk pekok seperti itu.