Tapi Aku Mencintaimu (6)

Aku takjub kepada tenangnya hati mereka
Sebab tidak mengerti apa yang akan menimpa
Meskipun mereka risau atas yang tak perlu dirisaukan
Serta tidak galau terhadap yang mereka tak perlu galau

Aku takjub mereka yakin sedang bernegara
Aku kagum pada keanehan mereka
Dalam memilih tokoh-tokoh dan pemimpinnya
Siapa saja tanpa pikir panjang bisa dijadikan apa saja

Aku melihat sempit berpikirnya, pendek jangkauan ilmunya
Serta dangkal dan tidak lengkap pertimbangannya
Tapi tidak bagi mereka, aku ah makhluk paling dungu di dunia
Bersedih atas hal-hal yang mereka tak memperdulikannya

#SGKN201901, 23

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap ke badannya. Markesot ambruk. Tak bisa mempertahankan diri. Terkadang telentang, saat lain tengkurap, terjungkal, terjerembab, meringkuk.

#ReformasiNKRI

Tajuk

Fragmen (Pil)Kadal

Fragmen ini disiapkan CNKK untuk acara “Doa Bersama dan Deklarasi Pilkada Damai dalam Rangka PILGUB Jatim Guyub Rukun 2018” di Halaman Kantor KPU Prov. Jatim, 26 Juni 2018, pukul 19.00 WIB.

Maiyahan

Khasanah

Gus Mus

Yang kita kenal ini jelas Gus Mus
Tetapi mustahil hanya itu Gus Mus
Karena Gus Mus bukan hanya itu
Gus Mus pasti lebih dari itu

Tuhan Melanggar HAM

Hari ini berakhir selama bulan Ramadlan tahun ini Tuhan memaksakan kehendak-Nya. Orang-orang beriman dipaksa untuk berpuasa, tidak makan minum serta sejumlah perbuatan lain dari Subuh hingga Maghrib.

Kiai Sudrun Dapat Lailatul Qadar

Seluruh penduduk kampung kami ribut luar biasa, karena tersebar berita bahwa Kiai Sudrun mendapatkan Lailatul Qadar. Rumah gubuk Kiai Sudrun di pojok desa dekat sawah dan bersebelahan dengan sungai, didatangi beramai-ramai.

Kunci Kebahagiaan

Demikian juga peran Miftahus Surur, Cak Mif, di Menturo: Indonesia tak akan punya mata untuk menatapnya. Abad 20-21 adalah peradaban di mana manusia mengenali dan membeli buah di supermarket yang tidak perlu diperhatikan asal usulnya.

Dua Peronda Allah

24 Rajab 1439 Hijriyah atau 10 April 2018 kemarin hatiku terguncang karena Allah nimbali dua kekasih-Nya untuk mutasi menuju penugasan baru. Mas Dan (Danarto) dan Ra Lilur (Kholilur-Rahman).

Pustaka Emha

Emha Ainun Nadjib

Langgar Sumeleh

Kiai Sudrun mendirikan langgar. Semacam masjid kecil. Apa bukan mushalla namanya?

Tampaknya sama saja. Itulah repotnya “bahasa” dan “budaya”.

Makna religiusnya memang sama saja. Masjid itu tempat bersujud. Mushalla itu tempat shalat.

Asepi

Berkelakar Menuju Keutuhan

Kalau nglihat ekspresi, testimoni, dan gejala yang dapat kita temukan dari mereka yakni para jamaah, khususnya anak-anak muda, yang selalu istiqamah hadir, Sinau Bareng atau Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng di berbagai tempat terasa jelas sebagai acara yang sisi-sisinya sangat banyak.

Kosmopolitanisme Ke (Dan Di) Dalam

Hari ini tadi saya menikmati sarapan pagi di sebuah hotel. Seorang sedulur yang juga “aktivis” Maiyah mengajak bersua. Dia sedang berada di Yogya untuk suatu keperluan keluarga. Sehari-hari sedulur kita ini bekerja sebagai pilot senior di sebuah maskapai internasional berdomisili di Malaysia.

Pengajian Kok Workshop

Sewaktu masih kecil, saya sering ikut Ayah menghadiri pengajian-pengajian (bukan liqa’). Biasanya memang kegiatan ini diselenggarakan pada momentum-momentum khusus seperti Maulid Nabi, Isra’ dan Mikraj, Tahun Baru 1 Muharram, dan Nuzulul Qur`an, yang lazim disingkat PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).

Berkeluasan Itu Mainstream

Sebuah hipotesis pernah dilontarkan Mbah Nun: gejala-gejala kesempitan itu tidak akan pernah benar-benar menjadi mainstream. Ibarat ikan, sebenarnya orang tak akan pernah betah dan kerasan menghuni kolam yang sempit. Orang yang sekarang terjangkiti kesempitan nanti akan ngguyu-ngguyu sendiri.

Manusia-Manusia Ketuhanan

Dalam perapektif itulah, kita melihat bagaimana Sinau Bareng yang dipandu Mbah Nun membuka kesempatan yang luas buat jamaah sebagai agency ketuhanan mengekspresikan diri.

FotoMozaik

Bersama Prof. Dr. Arief Budiman

Sebelum beracara di kampus IAIN Salatiga, Cak Nun menyempatkan diri menjenguk ilmuwan dan sosiolog senior Indonesia, Prof. Dr. Arief Budiman di Salatiga. Semasa Orde Baru, Arief Budiman adalah salah satu tokoh di mana, bersama sejumlah tokoh terkemuka Indonesia lainnya, Cak Nun berdialektika dalam mengkritisi kondisi Indonesia.

Mènèk Blimbing

Mendedah Maiyah dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Kedudukan Maiyah acap kali diposisikan sebagai organisme yang terorganisasi tanpa menjadi organisasi dalam pengertian baku. Definisi keorganisasian secara definitif, sebagaimana dipahami jamak orang, meniscayakan komunikasi vertikal dan horizontal yang berpedoman pada aturan fundamental yang dikonvensionalkan secara mengikat.

Tadabbur Daur

Ahmad Syaiful Basri

Monthang-Manthing

Sebagai generasi millenial, sering kali saya mengalami kebingungan tanpa ada ujungnya. Kita ini bangsa yang dahsyat sekarang menjadi terperdaya. Memang benar kita ini kumpulan manusia-manusia yang multitalent tapi sekarang serabutan mengerjakan hal-hal yang tak sesuai dengan kemampuan kita.

Video

Simpul Maiyah

Terus Berjalan

Ada yang berjalan sekadar dia berjalan, ada yang berjalan dengan ngemat mengamati, ada yang berjalan dengan niteni pola-pola yang ia jalani.

Sufipreneurship Ekasila

Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun bahwa beliau ingin melihat apakah benih–benih Maiyah yang telah disebar selama ini akan menjadi tumbuh berkembang atau malah membusuk dan mati perlu segera disikapi, diinternalisasikan dengan baik oleh masing–masing jamaah.

Desa Purwa

Ada romantisme yang lucu ketika mendengar ungkapan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo” atau dalam istilah di kitab suci “Baldatun Toyyibatun”.