Foto Headline

Terbaru

Daur

Terpeleset di Jalan Allah

“Memang begitulah aslinya sikap pikiran dan pilihan hidup hampir semua komunitas manusia. Ayat itu menggambarkan seolah-olah merupakan penolakan terhadap perubahan dan pembaruan.

Maiyahan

Khasanah

Pustaka Emha

Pancasila

Tulisan ini merupakan refleksi Cak Nun di akhir 1970-an yang kemudian diterbitkan dalam buku “Indonesia Bagian Sangat Penting Dari Desa Saya” oleh penerbit Jatayu tahun 1983.

Tajuk

Mozaik

Wong²an

“Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu”

Saya yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron. Apapun yang dia ucapkan, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.

Karena hilir persaingan politik adalah kemenangan dan kekuasaan, bukan kebenaran dan keadilan, maka banyak output sosial demokrasi yang menyakitkan rakyat.

Tadabbur Daur

Mènèk Blimbing

Asepi

Pak Nevi Asisten Pengobatan Cak Nun

Masih dalam jadwal perjalanan memenuhi permintaan masyarakat, sore ini KiaiKanjeng bergerak ...

Cak Nun mendapuk alias mendaulat Pak Nevi untuk ikut meng-handle sebagian dari orang-orang yang menyodorkan permohanan doa kesembuhan itu.

Seribu Idul Fitri
Untuk Seribu Diri

Pencapaian diri-rakyatmu mungkin adalah ketangguhan untuk tidak terhina oleh pelecehan, tidak menderita oleh penindasan, tidak mati oleh pembunuhan.

Yang hari ini dan yang tahun kemarin sama-sama Idul Fitri, tetapi Idul Fitri yang hari ini bukanlah Idul Fitri yang tahun lalu maupun yang tahun depan.

Mbah Ratmo dan Wayang Kardus

Tujuh puluh enam (76) tahun bukanlah usia yang muda lagi untuk ...

Selain tokoh wayang, Mbah Ratmo juga membuat wayang berupa binatang. Mbah Ratmo juga sering memanfaatkan wayangnya untuk media mendongeng.

Simpul Maiyah

Kembali ke Huma Berhati

Cak Dil pada pertengahan bulan Januari ke Bandung dan berdiskusi bersama penggiat memetakan permasalahan sosial dan pertanian yang dialami masyarakat Indonesia.

Jamparing Asih #JAJan mengambil tema "Kembali ke Huma Berhati" yang merupakan kutipan puisi “Apa Ada Angin di Jakarta” karya Umbu Landu Paringgi.
search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right