Tapi Aku Mencintaimu (4)

Wahai Tuhan yang kelembutan-Mu tak terperi
Terimalah himpunan syahadah mujahadah
Dari anak cucuku yang berhimpun di dalam rumah
Tabung kaca Maiyah yang Engkau anugerahi dan lindungi

Wahai Tuhan Yang Maha Tak Tega Hati
Hatiku tak pernah tega kepada anak cucu yang di luar
Yang di dalam diri sendiri pun mereka terlempar-lempar
Karena dunia dipimpin oleh yang kepada-Mu bermakar

Engkau terlalu agung untuk tidak mengampuni
Mereka kejar dunia dan dunia menolak mereka
Mereka sembah berhala dan berhala meninggalkannya
Tinggal kemurahan-Mu harapan satu-satunya

#SGKN201901, 21

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap ke badannya. Markesot ambruk. Tak bisa mempertahankan diri. Terkadang telentang, saat lain tengkurap, terjungkal, terjerembab, meringkuk.

#ReformasiNKRI

Tajuk

Fragmen (Pil)Kadal

Fragmen ini disiapkan CNKK untuk acara “Doa Bersama dan Deklarasi Pilkada Damai dalam Rangka PILGUB Jatim Guyub Rukun 2018” di Halaman Kantor KPU Prov. Jatim, 26 Juni 2018, pukul 19.00 WIB.

Maiyahan

Mengingat Kembali Sejarah Salatiga

Rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru angkatan 2018/2019 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga dipuncaki dengan acara Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng (13/08).

Khasanah

Gus Mus

Yang kita kenal ini jelas Gus Mus
Tetapi mustahil hanya itu Gus Mus
Karena Gus Mus bukan hanya itu
Gus Mus pasti lebih dari itu

Tuhan Melanggar HAM

Hari ini berakhir selama bulan Ramadlan tahun ini Tuhan memaksakan kehendak-Nya. Orang-orang beriman dipaksa untuk berpuasa, tidak makan minum serta sejumlah perbuatan lain dari Subuh hingga Maghrib.

Kiai Sudrun Dapat Lailatul Qadar

Seluruh penduduk kampung kami ribut luar biasa, karena tersebar berita bahwa Kiai Sudrun mendapatkan Lailatul Qadar. Rumah gubuk Kiai Sudrun di pojok desa dekat sawah dan bersebelahan dengan sungai, didatangi beramai-ramai.

Kunci Kebahagiaan

Demikian juga peran Miftahus Surur, Cak Mif, di Menturo: Indonesia tak akan punya mata untuk menatapnya. Abad 20-21 adalah peradaban di mana manusia mengenali dan membeli buah di supermarket yang tidak perlu diperhatikan asal usulnya.

Dua Peronda Allah

24 Rajab 1439 Hijriyah atau 10 April 2018 kemarin hatiku terguncang karena Allah nimbali dua kekasih-Nya untuk mutasi menuju penugasan baru. Mas Dan (Danarto) dan Ra Lilur (Kholilur-Rahman).

Pustaka Emha

Emha Ainun Nadjib

Langgar Sumeleh

Kiai Sudrun mendirikan langgar. Semacam masjid kecil. Apa bukan mushalla namanya?

Tampaknya sama saja. Itulah repotnya “bahasa” dan “budaya”.

Makna religiusnya memang sama saja. Masjid itu tempat bersujud. Mushalla itu tempat shalat.

Asepi

Berkelakar Menuju Keutuhan

Kalau nglihat ekspresi, testimoni, dan gejala yang dapat kita temukan dari mereka yakni para jamaah, khususnya anak-anak muda, yang selalu istiqamah hadir, Sinau Bareng atau Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng di berbagai tempat terasa jelas sebagai acara yang sisi-sisinya sangat banyak.

Kosmopolitanisme Ke (Dan Di) Dalam

Hari ini tadi saya menikmati sarapan pagi di sebuah hotel. Seorang sedulur yang juga “aktivis” Maiyah mengajak bersua. Dia sedang berada di Yogya untuk suatu keperluan keluarga. Sehari-hari sedulur kita ini bekerja sebagai pilot senior di sebuah maskapai internasional berdomisili di Malaysia.

Pengajian Kok Workshop

Sewaktu masih kecil, saya sering ikut Ayah menghadiri pengajian-pengajian (bukan liqa’). Biasanya memang kegiatan ini diselenggarakan pada momentum-momentum khusus seperti Maulid Nabi, Isra’ dan Mikraj, Tahun Baru 1 Muharram, dan Nuzulul Qur`an, yang lazim disingkat PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).

Berkeluasan Itu Mainstream

Sebuah hipotesis pernah dilontarkan Mbah Nun: gejala-gejala kesempitan itu tidak akan pernah benar-benar menjadi mainstream. Ibarat ikan, sebenarnya orang tak akan pernah betah dan kerasan menghuni kolam yang sempit. Orang yang sekarang terjangkiti kesempitan nanti akan ngguyu-ngguyu sendiri.

Manusia-Manusia Ketuhanan

Dalam perapektif itulah, kita melihat bagaimana Sinau Bareng yang dipandu Mbah Nun membuka kesempatan yang luas buat jamaah sebagai agency ketuhanan mengekspresikan diri.

FotoMozaik

Mènèk Blimbing

Tadabbur Daur

Ahmad Syaiful Basri

Monthang-Manthing

Sebagai generasi millenial, sering kali saya mengalami kebingungan tanpa ada ujungnya. Kita ini bangsa yang dahsyat sekarang menjadi terperdaya. Memang benar kita ini kumpulan manusia-manusia yang multitalent tapi sekarang serabutan mengerjakan hal-hal yang tak sesuai dengan kemampuan kita.

Video

Simpul Maiyah

Terus Berjalan

Ada yang berjalan sekadar dia berjalan, ada yang berjalan dengan ngemat mengamati, ada yang berjalan dengan niteni pola-pola yang ia jalani.

Sufipreneurship Ekasila

Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun bahwa beliau ingin melihat apakah benih–benih Maiyah yang telah disebar selama ini akan menjadi tumbuh berkembang atau malah membusuk dan mati perlu segera disikapi, diinternalisasikan dengan baik oleh masing–masing jamaah.

Desa Purwa

Ada romantisme yang lucu ketika mendengar ungkapan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo” atau dalam istilah di kitab suci “Baldatun Toyyibatun”.