#Sengkuni2019 | Teater Perdikan, TBY, Januari 2019

Menyaksikan

Penekanan makna syahadat pada kata kerja “menyaksikan” sangat erat kaitannya dengan Islam sebagai dimensi kepasrahan diri. Kita harus menyaksikan setiap saat bahwa tiada Tuhan selain Allah. Agar kita tetap berserah diri kepada-Nya di setiap ruang dan waktu.

Jika ini kita lakukan, maka kita tak terjerumus ke dalam kebohongan, arogansi, dan independensi egosentris. Pada gilirannya tentu membebaskan bumi dari pertumpahan darah dan kerusakan.

Inilah makna perbedaan antara “menyaksikan” dan “kesaksian”. Efek menyaksikan adalah kepasrahan dan penyerahan diri, sedangkan efek kesaksian adalah legitimasi menjadi bagian dari umat.

Dr. Muhammad Nursamad Kamba

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap ke badannya. Markesot ambruk. Tak bisa mempertahankan diri. Terkadang telentang, saat lain tengkurap, terjungkal, terjerembab, meringkuk.

KataMaiyah
Buku CakNun
Original Merchandise
Syini Kopi

Tajuk

Maiyahan

Salam Gugur Gunung dari Dukun

Antusiasme warga dan penyelenggara kali ini terlihat manakala kita berjalan dari tempat parkir ke tanah lapang di mana Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng digelar malam ini.

Benin-Benih Peradaban Akhlaq Al-Ngoko Karimah

Rindu belum benar-benar lunas terbayar, kalau melihat ekspresi para warga ketika sekitar pukul 23.30 WIB nomor Duh Gusti melantun syahdu, menandai Sinau Bareng di Lapangan Trimulyo, Bantul, 3 Oktober 2018 M, malam itu dicukupkan.

Khasanah

Gus Mus

Yang kita kenal ini jelas Gus Mus
Tetapi mustahil hanya itu Gus Mus
Karena Gus Mus bukan hanya itu
Gus Mus pasti lebih dari itu

Tuhan Melanggar HAM

Hari ini berakhir selama bulan Ramadlan tahun ini Tuhan memaksakan kehendak-Nya. Orang-orang beriman dipaksa untuk berpuasa, tidak makan minum serta sejumlah perbuatan lain dari Subuh hingga Maghrib.

Pustaka Emha

Emha Ainun Nadjib

90

Tuhanku
di dalam diriku ada ruang
amat luas tak terbatas
Fajar hari melemparinya dengan batu
tapi tak bergeming ia, karena tak berdinding
Pagi membidikkan berjuta anak panah
tapi tak terluka ia, karena kosong
Kemudian siang membakarnya dengan api iblis
tapi tak terbakar ia
karena lembut bagai kristal angin
Sore, menumpahkan air busuk dan sampah dunia
tapi diubahnya menjadi bunga dan tenaga
Dan malam, menikamkan pisaunya bertubi-tubi:
darah mengalir!

Asepi

Berkelakar Menuju Keutuhan

Kalau nglihat ekspresi, testimoni, dan gejala yang dapat kita temukan dari mereka yakni para jamaah, khususnya anak-anak muda, yang selalu istiqamah hadir, Sinau Bareng atau Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng di berbagai tempat terasa jelas sebagai acara yang sisi-sisinya sangat banyak.

Kosmopolitanisme Ke (Dan Di) Dalam

Hari ini tadi saya menikmati sarapan pagi di sebuah hotel. Seorang sedulur yang juga “aktivis” Maiyah mengajak bersua. Dia sedang berada di Yogya untuk suatu keperluan keluarga. Sehari-hari sedulur kita ini bekerja sebagai pilot senior di sebuah maskapai internasional berdomisili di Malaysia.

Pengajian Kok Workshop

Sewaktu masih kecil, saya sering ikut Ayah menghadiri pengajian-pengajian (bukan liqa’). Biasanya memang kegiatan ini diselenggarakan pada momentum-momentum khusus seperti Maulid Nabi, Isra’ dan Mikraj, Tahun Baru 1 Muharram, dan Nuzulul Qur`an, yang lazim disingkat PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).

Manusia-Manusia Ketuhanan

Dalam perapektif itulah, kita melihat bagaimana Sinau Bareng yang dipandu Mbah Nun membuka kesempatan yang luas buat jamaah sebagai agency ketuhanan mengekspresikan diri.

FotoMozaik

Pengajian Umum Ahad Pagi Bersama Ikadi Kediri

Usai Mocopat Syafaat 17 Agustus hingga menjelang subuh (18/08) dan dilanjut Sinau Bareng tadi malam di Tirtoyoso Park Kediri, pagi ini (19/08) Mbah Nun memenuhi undangan Pengajian Umum Ahad Pagi oleh Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) Kediri di Masjid Baiturrahman Semampir.

Mènèk Blimbing

Maiyah sebagai Tradisi Intelektual

Dipandang dari segi semantik, Maiyah, menyibak makna kebersamaan. Pelaku yang berada di ruang kebersamaan itu meliputi jamak latar belakang. Sisi plural demikian mengindikasikan kedudukan Maiyah sebagai tempat persemukaan banyak orang yang berbeda preferensi kulturalnya untuk memosisikan diri dalam satu dimensi belajar tanpa terbatas perbedaan partikular.

Telek Lincung and the Danger of a Single Story

Karena waktu sudah mepet dan saking terburu-burunya keluar rumah untuk mengejar kereta Argo Wilis sore Jogja-Surabaya demi bisa mengikuti Maiyahan Bangbang Wetan Agustus yang temanya sangat antropologis, Ruwat, saya terpaksa harus mengalami kejadian tidak mengenakkan.

Tadabbur Daur

Ahmad Syaiful Basri

Monthang-Manthing

Sebagai generasi millenial, sering kali saya mengalami kebingungan tanpa ada ujungnya. Kita ini bangsa yang dahsyat sekarang menjadi terperdaya. Memang benar kita ini kumpulan manusia-manusia yang multitalent tapi sekarang serabutan mengerjakan hal-hal yang tak sesuai dengan kemampuan kita.

Video

Simpul Maiyah