Meneropong Segitiga Cinta Maiyah dari Menara Eiffel

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (4)
Menara Eiffel di Senja Hari. Foto: Karim, 2018

Sekitar 3,5 km menyusuri sungai Seine dari Pont des Arts (dari titik Île Saint-Louis) di sisi seberang Museum Louvre yang juga dikenal sebagai Parisian Riverfront dan seluruhnya merupakan kawasan World Heritage Site, kita akan sampai pada ikon terbesar kota Paris, Eiffel Tower. Menara yang dibangun tahun 1889 ini diambil dari nama perancangnya Alexandre Gustave Eiffel, dan nama Eifel (dengan single F) adalah nama kawasan perbukitan di perbatasan Jerman bagian barat dan Belgia sebelah timur yang merupakan kampung halaman asal kedua orantuanya.

Meskipun menjadi simbol romantisme, menara ini juga sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kisah cinta atau roman asmara perancangnya atau raja yang punya dawuh untuk membangunnya, semisal Taj Mahal di India dan Mirabell Palace di Austria. Ia dibangun untuk sebuah perhelatan pameran dunia bertajuk Exposition Universelle tahun 1889 sekaligus memperingati 100 tahun hancurnya penjara Bastille sebagai simbol bergulirnya Revolusi Perancis.

Jika di kemudian hari menjadi simbol cinta, bahkan ungkapan kecintaan suporter klub sepak bola kebanggaan kota ini Paris Saint-Germain (PSG) ketika menyambut kedatangan bintang baru mereka Neymar pada 2017 lalu juga diekspresikan dengan mewarnai menara ini, maka di sinilah menariknya membahas gagasan dan bentuk cinta, apalagi jika diskusi ini dilakukan di puncak menara Eiffel.

Diskusi ini kita awali dengan teori cinta. Tahun 1988, soerang psikolog dari Yale University, US, bernama Robert Sternberg menerbitkan buku yang berjudul The Triangle of Love dan mengajukan gagasan tentang Triangular Theory of Love. Inti dari teori segitiga cinta menurut Stenberg adalah bahwa hubungan interpersonal seseorang bisa disebut sebagai hubungan cinta jika memiliki 3 (tiga) komponen utama, yaitu: intimacy (kemesraan), passion (gairah, keinginan yang kuat, kesetiaan), dan commitment (komitmen).

Ketiganya harus ada, karena jika salah satu saja hilang, maka bangunan cinta itu akan ambruk atau minimal bocor. Ambil saja kasus kemesraan dan gairah tanpa komitmen (maka ini adalah pelacuran, perselingkuhan, bahasa kampung saya nggragas), komitmen dan gairah tanpa kemesraan (maka ini mengarah ke onani atau paling mulia long distance relationship, atau kasih tak sampai), atau kemesraan dan komitmen tanpa gairah (maka ini sering disebut lemah syahwat).

Triangular Theory of Love, Robert Sternberg. Sumber: https://www.elitesingles.ca/en/mag/find-match/consummate-love

Entah merupakan sebuah kebetulan atau murni hidayah Tuhan, toh yang orang sering sebut sebuah kebetulan juga sejatinya adalah perkenan Tuhan untuk meng-kebetulan-kan sesuatu ke seseoarang pada momentum yang Beliau kehendaki, dan sejauh penelusuran saya, Cak Nun muda sampai sekarang, jarang sekali menggunakan kata cinta dalam judul-judul tulisannya, buku-bukunya, puisi-puisinya, naskah-naskah drama dan orasi budayanya, kecuali beberapa judul yang nyelempit di beberapa buku. Itupun hampir semua ekspresi cinta relijius kepada Tuhan atau Rasullullah.

Misalnya Kecuali Cinta itu Sendiri di Kumpulan Sajak Cahaya Maha Cahaya tahun 1991, Menjelma Cinta (1988) dan Tahajjud Cintaku di Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1988), Cinta Palsu di Sedang Tuhanpun Cemburu (1994), Cinta Kasih Lokal di Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), dan sedikit di buku-buku kumpulan esay Cak Nun yang lain. Artinya dari sisi kuantitas dan produktivitas tulisan yang begitu luar biasa banyaknya, tema dan judul literally cinta bukan hal yang gemar Cak Nun ekplisit-kan.

Padahal, gerakan Maiyah yang diusung Cak Nun untuk menyapa dan mengajak semua orang bershalawat, iya semua orang–dari Finlandia hingga Australia, dari Skotlandia sampai Philadelphia, dari Jazirah Arabia ke daratan Eropa, dan dari bumi Nusantara ke beberapa sudut negeri di Asia–semua adalah aplikasi tertinggi dari Triangular Theory of Love.

Dan shalawat itu sendiri adalah pernyataan cinta, sebagaimana Tuhan juga bershalawat kepada Muhammad. Maiyah, sebuah gerakan yang awalnya hanya bentuk protes dan kekecewaan terhadap “pengkhianatan” reformasi pasca lengsernya Suharto, kini menjadi sebuah cara baru untuk mengungkapkan dan memaknai teori segitiga cinta.

Sebagai wong Jowo, mungkin secara naluriah dan kulturiah Cak Nun hendak berkata, “ra sah kakean cangkem, nek pancen cinta yo dilamar!”, sebagaimana ketika dia melamar Novia tanpa basa-basi kata cinta. Maka Maiyah barangkali adalah cara Cak Nun untuk mengajak semua orang “melamar” Tuhannya, dan satu-satunya cara adalah dengan “melamar” Rasulullah yang dirinya sendiri adalah cinta, bukti cinta, wujud cinta, metode cinta, dan hakikat cinta.