Reformasi dan “Mei-sasi” Bangsa Indonesia

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (5)

Akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Rotterdam. Kota yang saya yakin banyak mewarnai mozaik literasi dan kiprah kepenulisan Cak Nun. Terutama melalui The Rotterdam International Songwriters Festival yang beliau ikuti di tahun 1984 dan penggelandangan beliau di Belanda setelahnya. Tahun 2008, dalam rangkaian tur KiaiKanjeng di 9 kota di Belanda, di Rotteram mereka difasilitasi oleh organisasi lokal The Foundation for Islam and Dialog yang sangat aktif mempromosikan dialog lintas agama di Eropa. Dan menarik untuk dicatat, setahun kemudian, meskipun citra Islam di Belanda dan Eropa kala itu tercoreng karena film Fitna, Ahmed Aboutaleb seorang Muslim keturunan Maroko, justru terpilih untuk pertama kalinya sebagai wali kota Muslim di Rotterdam dari partai Buruh yang masih menjabat sampai sekarang.

Inilah barangakali bukti nyata wolak-waliking jaman. Dan Mei tahun ini banyak sekali momentum titik balik dan transformasi penting bangsa Indonesia. Yang mau tidak mau memaksa kita untuk men-taddabur-i kembali makna ke-Indonesia-an kita. Di tengah hiruk-pikuk perniagaan, atau perdagangan, atau dalam bahasa kitab sucinya tijaroh dunia yang Tuhan selalu ingatkan dengan tegas bahwa itu semua sering melalaikan kita.

Kota Rotterdam ini juga memiliki reputasi sejarah tijaroh yang luar biasa. Sampai warganya lalai dan pada tanggal 14 Mei 1940 luluh lantak oleh Rotterdam Blitz. Dihujani bom oleh Luftwaffe (pasukan angkatan udara Jerman) pada perang Dunia II. Sehingga memaksa Belanda menyerah kepada Jerman.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun, kota pelabuhan tersibuk di dunia (sebelum dikalahkan Shanghai) dan berjuluk Manhattan di Meuse ini juga menjadi “Gerbang ke Eropa” bagi dunia luar dan “Gerbang ke Dunia” bagi Eropa. Tentunya tidak hanya menjadi hub bagi arus keluar-masuknya orang dan barang, tetapi juga pemikiran dan ideologi. Termasuk ide-ide awal transformasi dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan Bung Hatta yang namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota ini juga belajar dan menggalang kekuatan mentalnya di Rotterdam.   

Perlu diingat. Sebelum ada ide tentang Indonesia, terutama setelah Jan Pieterszoon Coen resmi diangkat menjadi gubernur jenderal Kompeni VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di Hindia Belanda, pada tanggal 30 Mei 1619 dia berhasil merebut Jayakarta. Kemudian mengganti namanya menjadi Batavia. Momentum inilah yang kemudian menjadi tonggak awal dari kejayaan VOC. Ini tidak saja bertujuan memonopoli tijaroh rempah-rempah dunia, tetapi juga melanggengkan 3,5 abad pengerukan kekayaan bumi Nusantara. Saking senangnya mereka dengan keuntungan perniagaan rempah-rempah itu, mereka lalai bahwa bumi yang mereka keruk kekayaan alamnya. Mereka eksploitasi habis-habisan penduduknya. Lambat laun mereka merasa harus memiliki seluruh bumi pertiwi. Padahal itu bukan milik mereka.

Jika kemudian saya sedikit melihat paralel dari pola penguasaan dan motif ekonominya, para company lokal di era reformasi zaman now yang sudah berlogo partai atau berafiliasi langsung dengan partai, atau menjadi donator utama partai, kok tampaknya memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang banyak miripnya dengan Kompeni VOC ya?

Untuk itu, mengapa Mei tahun ini menjadi penting dan harus dimaknai lebih dalam. Sepertinya kita perlu terlebih dahulu sedikit merunut penggunaan istilah May yang diadopsi ke Indonesia menjadi Mei pada penanggalan Masehi.

Istilah May berasal dari kata Maia. Nama untuk Dewi Bumi di musim semi untuk bangsa Romawi (Roman earth goddess of Springtime) yang memiliki arti dasar great atau juga mother. Dalam mitologi Yunani, Maia adalah Ibu dari Hermes, sang Messenger of the Gods. Padanan katanya dalam bahasa Sansekerta adalah māyā yang berarti Ilusi (illusion), tetapi juga diartikan sebagai wisdom and extraordinary power.

Ini akan menjadi sebuah riset filologis, historis, dan etnografis yang sangat menarik. Barangkali ini bisa menjelaskan hubungan antara May, Maia, dan Maiyah. Termasuk fakta bahwa Cak Nun dilahirkan tanggal 27 Mei. Serta adannya kecenderungan kolektif maupun tradisi “feminin” atau women-centered pada peradaban manusia di tanah Jawa. Misalnya, ratu untuk menyebut raja, siti untuk menyebut tanah, bahkan bangsa Indonesia kemudian menggunakan istilah ibukota (sesuatu yang dihormati) untuk menggantikan istilah capital city (kapital, uang). Serta ibu pertiwi (bukan homeland) sebagai personifikasi tanah air yang memberikan kehidupan kepada seluruh anaknya. Atau tradisi mistik dan hantu-hantuan yang juga sangat feminis. Seperti Nyi Roro Kidul, wewe gombel, kuntilanak, sundel bolong, atau yang kekinian suster ngesot.