Meneropong Segitiga Cinta Maiyah dari Menara Eiffel

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (4)
Meletakkan Solusi Bulatan ke dalam Solusi Segitiga Cinta

Sederhananya mungkin begini, di puncak segitiga cinta ada Tuhan, dan Beliau tak henti-hentinya menunjukkan aneka ragam kemesraan (intimacy), baik secara langsung ke hambanya melalui kapasitas akalnya masing-masing untuk direnungkan dan di-akal-i dengan logika dan intelektualitas yang mengandalkan panca indera, maupun melalui Rosulullah berupa risalah yang kemudian disebut agama untuk diyakini dan dicerna dengan hati.

Rasulullah, seluruh hidup beliau adalah mencontohkan kesetiaan dan keinginan yang sangat kuat (passionate) untuk mengabdi dan menuruti apapun pesan-pesan kemesraan dari Tuhan sehingga dipanggil oleh Tuhan sebagai kekasih-NYA. Tetapi beliau juga sangat menginginkan umatnya diampuni dan dicintai, bahkan lebih suka memposisikan diri dengan segala nilai kemanusiaan yang paling miskin sekalipun (bukan raja, bukan penguasa) sehingga diberi gelar Al-Amin. Manusia, hanya butuh terus mengingat dan menjalankan komitmen kehambaan untuk dapat langsung menggapai kemesraan Tuhan maupun cipratan kesetiaan Rasulullah dalam caranya mencintai Tuhan dan mencintai sesama manusia.

Rumus solusi segitiga ini berlaku untuk entitas dan lingkaran hidup yang paling kecil, dari individu, kemudian keluarga, kelurahan, negara, sampai yang paling besar misalnya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena setiap bentuk pengkhianatan, penjajahan, kekacauan, konflik, bahkan perang, pasti terjadi karena ada pihak yang menempatkan keinginan material keduniawian melingkari segitiga cinta itu.

Sebaliknya, solusi bulatan. Sebagaimana seluruh dunia dan isinya, mulai dari industrinya, uangnya, rotasi manajemen bisnisnya, pemasarannya, sampai sistem pendidikannya adalah prinsip lingkaran. Bulatan-bulatan kecil dan besar yang terus berputar tanpa ujung, sehingga tiap saat kita sering mendengar istilah masalahe kok mbulet ngene!

Dan Ironisnya, itulah yang terjadi pada mayoritas dari kita, bahkan mayoritas manusia di dunia. Entah sadar atau tidak, kita lebih sering menempatkan Tuhan pada posisi “pesuruh” kita. Segitiga cinta berada di dalam lingkaran (pola pikir, motif ekonomi, bahkan orientasi dan tujuan hidup) keduniawian kita. Akibatnya, meskipun misalnya sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, semua indikator kemajuan dan keberhasilan kehidupan lebih sering ditentukan oleh “kekuasaan dan kekayaan yang maha jaya”.

Sehingga doa-doa di setiap peresmian proyek, pancalonan kepala negara dan hampir seluruh pimpinan masyarakat pada level di bawahnya, yang paling nyaring adalah “Amiinnn”-nya, bukan bareng-bareng bertanya “Tuhan dan Rosul-Nya bilang apa ya untuk urusan ini?”

Jika teori ini digunakan untuk berkaca melihat Indonesia, dan setiap orang memiliki kecenderungan untuk mencintai kampung halamannya, pulang kampung, merindukan desa kelahirannya, mengingat memori kepolosannya, maka hanya dengan memahami solusi segitiga cinta Maiyah ini, kita akan paham mengapa kemudian kita diajak untuk berikrar bahwa Indonesia adalah Bagian dari Desa Saya.[]

Populer