Seumpama Saya Manusia

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (8)

Salah satu cara Tuhan berkomunikasi dan mengajari manusia adalah dengan amsal, analogi, atau perumpamaan. Bahkan secara eksplisit, Tuhan sendiri yang menegaskan bahwa Beliau tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang oleh manusia dipandang lebih rendah dari itu.

Jika kita renungkan dan perhatikan, saya kok haqqul yaqin bahwa kecenderungan analogis ini adalah karakter universal yang dimiliki oleh makhluk manusia dari generasi apapun dan yang tinggal di manapun. Sehingga jangan-jangan Nabi Adam dahulu diajarkan nama-nama benda juga dengan permisalan, layaknya anak TK yang ditunjukkan bentuk wajah monyet oleh gurunya dengan diminta memperhatikan dan menirukan sang guru memanyunkan bibir tebalnya.

Setiap orang pasti pernah mengalami situasi jengkel manakala diminta menjelaskan sesuatu, dan sudah kita jelaskan dengan bersemangat dan panjang lebar, namun tiba-tiba lawan bicara kita nyelethuk, maksudnya? Piye mau? Kedhuwuren! Wah ramudheng! atau ekspresi lain yang sejenis. Secara refleks, beberapa orang akan merespons dengan, Jian*uk! Asem ik! A*u! Dan sebagain orang yang lain ada yang dengan sabar mengulangi penjelasan dengan dengan menambahkan ngene lho, umpamane, seumpama, ethok-ethok`e dan sejenisnya.

Jika metode amsal ternyata berhasil menyederhanakan hal-hal rumit, sebagaimana Tuhan menjelaskan kerumitan cara kerja otak dan hati manusia, termasuk alam semesta, dengan sesuatu yang bisa dicap dengan panca indera, maka sebenarnya persoalan-persoalan rumit kebangsaan, kebudayaan, dan peradaban manusia bisa disederhanakan.

Bahkan ternyata, saya juga baru menyadari bahwa metode ilmiah yang digunakan di dunia akademik, apapun bidangnya, penyelesaian masalah atau pencarian jawaban paling jitu adalah dengan permisalan-permisalan. Perbedaan istilah amsal yang digunakan kemudian muncul hanya untuk memudahkan pemahaman dan kecocokan dengan nature dari bidang ilmu yang digeluti. Misalnya, preparat untuk bidang kimia dan biologi, fiksi untuk bidang sastra, bilangan x untuk bidang matematika, random sampling untuk bidang statistik, dan seterusnya.

Kesadaran ini juga ternyata baru saya temukan di penghujung bulan pertama studi etnografi saya tentang non-state actors dealing with security provision di Yogyakarta dan Surabaya. Forum Maiyahan rutin Bangbang Wetan 27 Juli kemarin yang untuk pertamakali saya harus merasakan satu panggung dengan Cak Nun, yang menurut saya adalah profesor Amsal sejati. Ini berhasil membuat saya grogi dan lupa bahwa saya harus bercerita tentang perumpamaan semut (sesuai dengan tema: Urip Sesemutan) dalam hubungannya dengan studi terhadap Jamaah Maiyah. Menurut saya Maiyah itu sendiri adalah adalah cara, ijtihad, dan kreativitas luar biasa, a new and authentic way of providing security.   

Sebagai Sarjana Antropologi (S. Ant.), yang orang sering memplesetkannya dengan sarjana semut, sesungguhnya saya buta sama sekali dengan ilmu persemutan (Myrmecology). Tapi tema Bangbang Wetan soal semut ternyata sangat relevan dengan isu security yang saya teliti. Bagaimana tidak, satu dari ratusan fakta tentang metode pengamanan yang semut lakukan saja, jika manusia tiru dengan konsisten, angka kemiskinan yang oleh BPS diklaim tinggal 1 digit (dibawah 10 persen dari total jumlah penduduk) setelah lebih dari 70 tahun kemerdekaan, harusnya sudah khatam di zaman yang di “pantat” truk banyak tertulis “Penak Jamanku Tho!”.

Fakta itu adalah trophallaxis, sebuah proses di mana semut melakukan “kissing” atau salaman sesama semut setiap kali bertemu, yang sesungguhnya adalah saling memberikan cadangan makanan yang mereka simpan di dua ruas perutnya. Satu ruas perut untuk menyimpan makanan untuk tubuhnya sendiri, dan satu ruas yang lain untuk “shadaqah” kepada siapapun yang ditemui di jalan.

Ini kan ilmu Maiyah, ilmu mengamankan sesama. Belum lagi fakta lain dari beberapa spesies semut yang sama sekali tidak memiliki mata dan menggunakan “sungut” (antenna) untuk berkomunikasi dengan semut yang lain dengan tetap bisa melakukan proses trophallaxis di atas. Bukankah cara berkomunikasi Maiyah juga bukan dengan mata lahir? Tetapi dengan frekuensi yang oleh Sabrang sering disebut sebagai cahaya Maiyah. Banyak orang datang ke Maiyah melalui frekuensi hatinya, terutama setelah mereka lelah dengan komunikasi via amplop, make up, dan proposal proyek.

Pun pada forum Padhangmbulan di Jombang sehari sebelumnya. Amsal paling up to date adalah prestasi pelari Lalu Mohammad Zohri yang beritanya sudah mulai berlalu. Kemenangannya pada kejuaraan dunia sprint 100 m di Helsinki membawa Cak Nun pada penjelasan karakter manusia sprint dan manusia maraton. Kebetulan, manusia Indonesia memang pencinta sprint, buru-buru, jalan pintas, potong kompas, dan hobi ngegas sampai lupa ngerem. Sehingga Tuhan dengan murah hati menunjukkan bahwa “iku lho kowe sejatimu!”

Dan Maiyah Padhangmbulan yang sudah hampir seperempat abad berlangsung itu bukan sprint. Ia adalah lari maraton yang tidak kecepatan terkadang kurang diperlukan. Ia melatihkan strategi hidup ala maraton, mengajarkan kesabaran marathon, dan meng-amsal-kan beratnya jarak yang harus ditempuh pelari maraton. Karena perjalanan Indonesia adalah perjalanan maraton.

Jika kita teliti lebih jauh, peradaban masyarakat Jawa sebenarnya sudah memuncaki ilmu amsal. Coba perhatikan struktur bahasanya, arsitekturnya, tata kelola penghidupan ekonominya, sistem kemasyarakatannya, sistem religinya, bahkan produk budaya pewayangannya, yang hampir seluruhnya adalah perumpamaan, sanepo, kiasan, pasemon, personifikasi.

Maka puncaknya, ketika Sunan Kalijaga berijtihad mengawinkan antara tradisi Jawa dengan nilai Islam, yang oleh Cak Nun disebut sebagai tumbu ketemu tutup, maka tak ada lagi peradaban di muka bumi ini yang sanggup mengunggulinya. Maka barangkali karena alasan itulah Cak Nun dan rekan-rekan seperjuangannya membentuk KiaKanjeng, berteater, menulis, sebagai sedikit dari sekian banyak amsal perkawinan bumi dengan langit. Sehingga terbukti ia disebut maestro oleh para maestro musik klasik di negeri para maestro musik dunia. Ia memainkan peran apapun, kapanpun, dan di manapun, dan ia juga menulis tanpa henti ketika semua orang sudah berhenti.

Maiyah yang dirintis di Jombang, dan kini sudah lebih dari 50 simpul Maiyah Nusantara, mengikuti tradisi amsal itu. Di Lampung ada Dusun Ambengan, di Jawa Barat ada Pamengkeut Asih, Sibar Kasih, Jampring Asih, dan Lingkar Daulat Malaya, di Jawa Tengah ada Pasemuan Bebrayan, Semak Tadabburan, Sabamaiya, Suluk Pesisiran, Tembang Pepadang, Galuh Kinasih, Jabalakat, dan banyak lagi. Di Jawa Timur tak kalah banyak. Ada Rampak Osing, Paseban Majapahit, Jembaring Manah, Jimat, Damar Kedhaton, dan lain-lain. Di Bali ada Masuisani. Di Kalteng dan Kalsel ada Cangkir Syafaat dan Syafaat Batangbanyu. Di Sulbar ada Papperandang Ate. Dan bahkan di Korea Selatan ada Tong’il Qoryah.

Lihatlah nama-nama, logo dan slogan-slogannya. Semua mencoba kembali pada kesejatian kecenderungan manusia yang amsal. Karena keberadaan manusia itu adalah perumpamaan. Dan yang benar-benar sejati adalah Beliau yang mengajarkan amsal itu.

Ketika saya iseng melihat lagi semua judul tulisan Cak Nun, dan saya tambahkan satu kata di depan judul-judul itu dengan kata “seumpama”, ternyata cocok. Sehingga saya berani berkesimpulan “seumpama saya manusia”.

Salah satu cara Tuhan berkomunikasi dan mengajari manusia adalah dengan amsal, analogi, atau perumpamaan. Bahkan secara eksplisit, Tuhan sendiri yang menegaskan bahwa Beliau tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang oleh manusia dipandang lebih rendah dari itu. Jika kita renungkan dan…