Meneropong Segitiga Cinta Maiyah dari Menara Eiffel

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (4)

Dari Roma, Romawi, dan kisah penghancuran-penggantian peradaban, kita singgah sejenak di Paris, kota yang diasosiasikan dengan cinta dan romantisme. Meminjam istilahnya Cak Nun, dari sisi etnotalentologi, cinta dan romantisme inilah yang sepertinya dianugerahkan Tuhan kepada orang Perancis. Jangan lupa, bagi penggemar film-film romantik-melankolis, tak terhitung sudah berapa banyak sutradara dan produser film sejagad mengambil Paris sebagai latar penggarapan sinematografi mereka.

Beberapa yang sangat popular garapan studio Hollywood misalnya Before Sunset (Ethan Hawke dan Julie Delpy, 1995), Everyone Says I Love You (Woody Allen dan Julia Roberts, 1999), Le Divorce (Kate Hudson dan Naomi Watts, 2004), French Kiss (Meg Ryan dan Kevin Kline, 2009), dan Midnight in Paris (Owen Wilson dan Rachel McAdams, 2011), termasuk produksi sineas lokal yang cukup terkenal berjudul Amélie (Audrey Tautou dan Mathieu Kassovitz (2011). Bahkan, film Indonesia juga tak kalah latahnya mengambil seting Paris sebagai penegasan identitas yang mereka klaim the city of love, sebut saja contohnya Eifel I’m in Love (2003) dan yang terbaru Wa’alaikumussalam Paris (2016).

Apa pasalnya? Salah satu yang sudah lazim adalah dari hasil survey. The Travel Magazine tahun 2011 misalnya merilis hasil survey WhichBudget.com dengan judul Paris is the most romantic city in the world. Majalah The Independent tahun 2016 juga mendapuk Paris sebagai the most romantic cities in the world berdasarkan hasil survey WeLoveDates.com, dan tentunya banyak lagi media lain yang ikut-ikutan melambungkan nama Paris.

Majalah The Local edisi February 2018 lalu memiliki penjelasan lebih meyakinkan dengan menyebut beberapa faktor kunci, antara lain karena keindahan kotanya (banyaknya arsitektur artistik di bawah Unesco heritage protection, bahkan kantor pusat Unesco ada di kota ini), karena big screen-nya (promosi dan image building lewat film).

Karena makanannya (lebih dari 40.000 restoran yang semuanya laris manis), karena sejarahnya (sebagai pusat ide, seni, dan puisi dunia Barat seperti digambarkan Ernest Hemingway di bukunya A Moveable Feast yang terkenal itu, kisah cinta Napoleon dll), dan juga karena orang-orangnya (Je t’aime, me neither, punya bakat sebagai perayu ulung).

Dan yang terakhir ini saya cukup terkesan, meskipun mungkin sekadar kebetulan, terutama ketika sedang bingung mencari informasi public transport dari bandara ke sebuah alamat di sekitar pusat kota Paris. Saya iseng menanyakan ke seorang perempuan bule yang sedang menunggu mobil jemputan bersama pasangannya. Sambil senyum dan antusias dia menjawab pertanyaan saya.

Tidak hanya itu, ia bahkan sampai meninggalkan pasangannya untuk menunjukkan, mengecek, dan memastikan di halte yang mana saya harus menunggu bis (karena haltenya banyak sekali, ada dua sayap terminal berbeda, dan petunjuk informasinya kurang jelas). Termasuk berapa menit lagi bis akan datang.

Dan saat di bis, satu keluarga Muslim keturunan Maroko yang salah satu anaknya bisa sedikit berbahasa Inggris juga dengan sangat ramah menunjukkan rutenya, harus berhenti di mana, sebaiknya beli tiket yang mana, sambil menanyakan asal kami. Sang ibu bahkan menawarkan sebungkus kurma di saat saya benar-benar sedang kelaparan.

Love Padlock di Jembatan Pont des Arts sebelum dibersihkan. Foto: Tripadvisor

Dari sekian banyak spot romantis ala film-film berlatar Paris, salah satu yang paling legendaris adalah Pont des Arts, yaitu sebuah jembatan untuk pejalan kaki di atas sungai Seine yang menghubungkan Institut de France dengan Central Square of the Palais du Louvre. Selama bertahun-tahun jembatan ini dijadikan simbol pernyataan cinta para pasangan dari seluruh penjuru dunia dengan mengabadikannya pada love padlock (kunci gembok) yang digantungkan di sisi kanan-kiri jembatan.

Kebiasaan turis memasang love padlock yang sudah berlangsung sejak akhir 2008 ini kemudian dianggap membahayakan keamanan pengunjung karena bisa dibayangkan jutaan kunci gembok yang beratnya mencapai 45 ton menggantung membebani jembatan, sehingga sejak tahun 2015, petugas setempat mulai memotong setiap kunci gembok yang dipasang dan mengganti dinding jembatan dengan lempengan kaca.