Telek Lincung and the Danger of a Single Story

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (10)

Karena waktu sudah mepet dan saking terburu-burunya keluar rumah untuk mengejar kereta Argo Wilis sore Jogja-Surabaya demi bisa mengikuti Maiyahan Bangbang Wetan Agustus yang temanya sangat antropologis, Ruwat, saya terpaksa harus mengalami kejadian tidak mengenakkan. Iya, ngidak telek lincung yang masih anget tepat di depan pintu rumah, yang ternyata tempat favorit kawanan ayam empunya tentangga biasa mangkal. Dan, alamaak, bau khas yang terhirup oleh hidung saya kok sedap sekali rasanya.

Sepanjang perjalanan di dalam gerbong kereta, bayangan telek lincung itu benar-benar belum lenyap dan menghantui pikiran saya. Bahkan secara reflek saya sampai beberapa kali mencium kaos yang saya pakai, jangan-jangan ada sedikit cipratan yang menempel, karena ternyata kaos itu juga mengeluarkan bau kurang sedap akibat buru-buru tadi, saya samper langsug dari jemuran dan nampaknya ketika saya pakai memang belum kering betul.

Kita kembali ke telek lincung tadi. Saya yakin mayoritas kita akan menganggap pengalaman di atas sebagai sebuah kesialan, tragedi, atau bisa juga disebut apes. Apalagi jika skenarionya lebih dramatis dengan tambahan adegan jatuh terpelanting dan pantat kita mak brokkk dan mak plenyek pas sekali menimpa gundukan telek lincung hangat itu. Ditambah celana yang kita pakai adalah satu-satunya yang tersisa di lemari pakaian.

Dan nampaknya, mainstream sudut pandang yang digunakan untuk melihat kejadian tersebut dari sisi kesialan ini jamak kita rasakan dan temukan di tengah masyarakat lokal kita. Bahkan masyarakat Indonesia, atau masyarakat dunia sekalipun. Seolah-olah, tafsir alternatif selain yang sudah menjadi mainstream tadi adalah salah, sesat, atau sekurang-kurangnya bid’ah. Padahal, keluasan sudut pandang dan kemerdekaan berijtihad, berpikir, berimajinasi, dan berkreasi senantiasa menjadi penekanan pada banyak ayat di kitab suci yang disindirkan dengan kalimat la’allakum tatafakkaruun, la’allahum yatafakkarun, atau afalaa ta’qiluun, atau sejenisnya.

Karena setelah sejenak saya renungkan dari balik jendela kereta yang selalu menginspirasi setiap perjalanan, jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu dan jemari untuk mengetik kata kunci telek lincung dan mencari samudera ilmu apa yang ada dibaliknya, mainstream yang secara tidak fair mengidentikkan ngidak telek lincung dengan kesialan tadi akan segera sirna. Ya…walaupun sewajarnya, pas kejadian tadi, teriakan jiangkrikkk sudah kadung keluar mendahului kalimat thoyyibah yang sering diajarkan oleh para ustad.

Dari sekian banyak kemungkinan tadabbur yang bisa kita lakukan. Kejadian di atas membawa saya pada upaya pencarian informasi tentang fakta bahwa kotoran ayam (termasuk telek lincung) memiliki kandungan unsur Nitrogen (N), Phospor (P2O5), dan Kalium (K2O) tertinggi dibandingkan dengan kotoran sapi, kuda, babi, domba, apalagi kotoran anda semua. Kandungan tersebut sangat penting sebagai bahan pupuk organik yang paling cepat terdekomposisi untuk membantu menyuburkan tanah.

Belum lagi keunggulan dari sisi efisiensi, produktivitas, dan kemudahan pengolahannya (sekali lagi dibandingkan dengan kompleksitas untuk mengolah telek saya dan anda semua). Anda bisa baca lebih rinci soal ilmu telek di bukunya S. Hardjowigeno (llmu Tanah: Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta. 1995) atau di laman blog ini.

Sampai di sini, agaknya su`udhon saya kepada telek lincung sebagai “pembawa sial” sangat prematur hanya gara-gara mengikuti tafsir tunggal dan mainstream pandangan atau mazhab yang sudah lazim digunakan semua orang secara turun-temurun, sehingga perlu didekonstruksi dan sinau lagi. Bahkan sesuai dengan tema Bangbang Wetan kemarin, mungkin perlu diruwat, karena faktanya di masyarakat, fenomena mainstreamisasi sudah bukan saja pada tahap mengancam keamanan kelompok-kelompok yang berbeda pendapat, tetapi mengarah pada kecenderungan penghancuran peradaban dengan saling mencoba membunuh dan menghancurkan satu sama lain.

Buku Cak Nun