Dewan Keamanan Maiyah dan Eksperimentasi Strategi Keamanan Multidimensi

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (9)

Apakah sedulur semua tahu bahwa sejak pertama kali dibentuk, Dewan Keamaman PBB/DK-PBB (United Nations Security Council/UNSC) yang tugas utamanya memelihara keamanan dan perdamaian internasional, sudah mengeluarkan tak kurang dari 2500 resolusi?

Sejak rapat pertama mereka di London pada hari Kamis Wage tanggal 17 Januari tahun 1946 yang menghasilkan kesepakatan pembentukan The Military Staff Committee untuk membantu penyelesaian krisis Iran. Sampai rapat terakhir minggu lalu di New York tentang upaya penyelesaian konflik di negara yang sebelumnya bernama Zaire dan sekarang manjadi Republik Demokratik Kongo di Afrika Tengah.

Karena saya yakin jawaban panjenengan adalah ra urus! Atau setidaknya gak ruh rek! Sesungguhnya informasi ini kurang relevan dengan kehidupan panjenengan sedoyo. Namun, manakala cerita saya lanjutkan dengan fakta bahwa Ban Ki-moon (mantan sekjen PBB yang menjabat 2007-2016) pernah sangat pesimis dengan statement-nya tanggal 25 September 2013 yang menyebut bahwa lembaga ini sudah sampai pada tahap “systemic failure, terutama karena kegagalannya membantu menyelesaikan konflik di Sri Lanka di masa tugasnya.

Dan jika saya jlentrehkan daftar panjang kegagalan DK-PBB selama 72 tahun kiprahnya sebagai “polisi dunia” (karena sebelum Perancis bergabung, empat negara anggota tetap lembaga ini disebut “Four Policemen” atau “Four Sheriffs”), imajinasi anda akan langsung menukik pada salah satu puisi Pak Mustofa W. Hasyim yang berjudul Oseng-Oseng Negoro. Disebutkan bahwa di atas markas besar PBB sebenarnya masih ada markas besar PQQ, atawa Persatuan Qorin-Qorin yang semestinya turun tangan menjadi juru damai dunia. Sudah lebih relevan?

Sebentar. Sabar. Yang paling relevan barangkali adalah berita beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 8 Juni. Pas seminggu setelah ultah saya. Indonesia terpilih untuk keempat kalinya menjadi anggota tidak tetap (mungkin semacam pegawai kontrak kalau memakai rumus di kantor saya) di DK-PBB. Jadi, bait kedua yang diulang empat kali dan muncul dalam empat bait puisi Pak Mus di atas (mungkin ini pertanda betapa pentingnya puisi ini) terpaksa harus saya munculkan lagi di sini, Njur piye ye ye njur piye ye ye.

Lha apa ndak lucu? Lha wong 5 negara (AS, Rusia, Inggris, China, dan Perancis) yang punya NIP atau Nomor Induk (bekas) Penjajah sebagai anggota tetap DK-PBB saja ndak mampu mendamaikan apalagi mengamankan negara-negara yang berkonflik. Bahkan asbabun nuzul dibentuknya DK-PBB juga karena konflik besar antar mereka sendiri pada perang Dunia ke-II. Mereka jua yang menjadi produsen utama rupa-rupi senjata dan peralatan perang termutakhir. Malahan mereka pula yang paling sering menjadi sumber konflik, atau para analis sering dengan berani menuduh mereka sebagai desainer konflik.

Lha kok Indonesia mau, malah bangga menjadi penumpang sementara, di gerbong kelas ekonomi pula. Rangkaiannya cuman nyanthol di belakang gerbong super eksklusif. Mereka kemudikan dengan hak prerogatif mutlak yang mereka beri nama veto. Sehingga tak sedetik pun para penumpang di gerbong belakang berhak mengetahui arah kemudi kereta, jangankan ikut menentukan tujuannya.

Mengingat kegamangan ini saya dapatkan dari aksentuasi cara berpikir dan logika Maiyah, kiranya lebih fair jika alternatif penjelasannya atau sekurang-kurangnya hasil exercise-nya saya pelajari dari forum-forum Maiyahan. Agar lebih mudah dan nyambung dengan kulonuwun saya di awal tadi, yuk saya ajak sedulur sedoyo beranalogi.

Saya umpamakan saja Dewan Keamanan Maiyah (DK-M) sebagai pengganti DK-PBB, nama resminya nanti kita bisa bahas di Sinau Bareng. Sudah nemu satu alternatif nama yang unik? Simpan saja dulu. Seumpama Padhangmbulan sebagai anak mbarep dan inisiator awal Maiyah adalah pengganti Amerika Serikat, Mocopat Syafaat sebagai karib terdekatnya adalah pengganti Inggris Raya, Kenduri Cinta yang romantis sebagai pengganti Perancis, sementara Rusia digantikan oleh Bangbang Wetan, dan China digantikan oleh Gambang Syafaat. Sebentar, apa ndak kebalik ya? Lalu, resolusi penciptaan perdamaian dan keamanan dunia yang bagaimana, dan strategi seperti apa yang dijalankan oleh DK-M? Dan di manakah posisi Indonesia atau digantikan dengan simpul Maiyah mana yang paling mewakili di dewan ini? Ada usul?

Pertama, jika DK-PBB memiliki misi utama menjaga international collective security sebagaimana didefinisikan dan diatur dalam United Nations Charter, DK-M memiliki misi pengamanan yang lebih konkret dan realistis yang mencerminkan kebutuhan dasar peradaban manusia dari hasil tadabbur teks agama yang berbunyi Islam rahmatal lil ‘alamin. Yaitu “meng-katakerja-kan” dua konsep utama.

Buku Cak Nun Majalah Sabana