Sang Penawar Puasa

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (6)

Menjelang bulan puasa kemarin, napak tilas rangkaian tur Kiakanjeng di 9 kota di Belanda tahun 2008 saya lanjutkan di kota Nijmegen. Tepatnya di Museumpark Orientalis Heilig Landstichting. Museum ini tidak hanya mengoleksi segala rupa atribut tiga agama utama di dunia (Islam, Kristen, dan Yahudi). Tetapi juga miniatur proses awal diturunkan, sejarah pengembangan, dan dinamika hubungan ketiganya sejak zaman para nabi hingga era post-modern. Untuk urusan manejemen preservasi arsip kuno, benda-benda antik, dan replikasi artefak bersejarah dari seluruh peradaban manusia di bumi, negara Walandi ini memang tak diragukan keseriusannya.

KiaiKanjeng bahkan sempat membuat videoklip lagu Ya Thoybah versi Blues di halaman depan Museum Park Orientalis yang luas, rindang, dan hijau penuh pepohonan ini. Untungnya mereka diundang ke tempat ini sebelum musim dingin tiba. Sehingga lagu Ya Thoybah (sang penawar) benar-benar memiliki nuansa yang pas. Bukan misalnya lagu Duh Gusti di album yang sama (Terus Berjalan, 2009), yang akan lebih tepat estetika dan chemistry-nya jika dinyanyikan di musim dingin bersalju.

Saya tidak akan membahas “sang penawar” ini dalam konteks isi lagunya. Ya Thoybah bercerita tentang sahabat Ali dan cucu Rasulullah, Hasan dan Husein yang banyak orang kemudian mempertentangkan lagu itu. Saya lebih tertarik melihat konteks bulan Ramadlan dan makna puasa bukan saja sebagai ritual perintah agama, sebagai bulan Pembebasan Makkah (Fathul Makkah), atau bulan perang Badar. Tetapi sebagai bulan penawar untuk hidup manusia yang penuh racun, gampang over dosis, mudah terinfeksi atau tercemari, enteng mengecap radikalisme, dan dipenuhi ketidakseimbangan.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, puasa atau poso, dari kata upo (pertalian) dan woso (wewenang atau kekuasaan) sudah dikenal jauh sebelum Islam. Sebagai sebuah upaya untuk menyambungkan diri dengan kekuatan Sang Hyang Wenang. Sehingga ibu saya–dan saya yakin ibu-ibu ndeso yang lain juga melakukan hal yang sama–sehingga ketika saya minta doa restu untuk sebuah ujian di sekolah, pasti beliau mendadak masani agar ujian saya dimudahkan dan lulus.

Puasa juga merupakan tapa brata untuk membuktikan daya tahan dan ujian. Bertolak belakang dengan asumsi dunia modern dan logika kapitaslisme bahwa atas nama produktivitas, konsumsi harus terus ditingkatkan, bahkan dilipatkagandakan. Meskipun sayangnya, logika itu justru di-follow dengan jahlun murakkab-nya mayoritas Muslim di Indonesia yang men-double-triple-kan belanja makanan yang bahkan di bulan selain puasa jarang dikonsumsi.

Penawar, dari kata dasar tawar yang berarti ‘tidak ada rasanya’. Namun bisa memiliki banyak makna, tergantung konteks penggunaannya. Misalnya penawar racun. Maka titik fokusnya pada sesuatu yang bisa menetralisir efek negatif dari racun, atau penawar rindu. Maka bisa diartikan penyembuh hati yang galau setelah sekian lama merindu, atau bisa juga penawar tertinggi dalam kasus jual-beli barang yang berarti orang yang mencapai titik kesepakatan harga tertinggi.

Demikian juga puasa, dari bahasa Arab Shiyam (masdhar atau kata benda) atau shoum (fi’il atau kata kerja) yang makna dasarnya ‘menahan’. Menahan lapar dan haus sederhananya adalah mekanisme biologis-fisiologis untuk menawar otak dan tubuh agar terus berada pada titik keseimbangan.

Formulanya juga sederhana. Bahwa menu atau pasangan atau momentum paling enak dan lezat bagi manusia di seluruh muka bumi yang hendak makan dan minum adalah lapar dan haus. Dan semakin lapar dan haus itu ditahan, maka semakin enak dan lahap ketika tiba saatnya makan. Tetapi mengapa kemudian perintah pada orang yang berpuasa malah hendaklah berbuka dengan makan dan minum sekedarnya?

Ternyata, hukum ekonominya sangat jelas pula. Bahwa kenikmatan memiliki nilai equilibrium yang jika terus-menerus dipenuhi sampai mencapai titik maksimum justru akan mengurangi kenikamatan itu sendiri. Dan titik keseimbangannya ternyata bukan berada pada lapar atau kenyangnya. Tetapi pada keputusan untuk menahan agar senantiasa lapar (bukan kelaparan). Kalau istilahnya Cak Nun, lapar itu yang baik, kenyang kurang baik, kekenyangan tidak baik, kelaparan sangat tidak baik.