Mozaik Budaya Nusantara di Podium Mozaïek

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (2)

Ternyata tidak mudah dan butuh energi ekstra untuk melacak “artefak” fase tirakat gelandangan Cak Nun di Amsterdam di era pertengahan 1980-an. Namun, sebagai sebuah mozaik, saya sambung celoteh saya dengan serpihan-serpihan acak yang semoga kelak bisa terangkai menjadi simpul cerita yang lebih utuh.

Sebagai pambuko, saya harus menukil penggalan tembang Mocopat Wulang Reh (wulang=pitutur atau ajaran, dan reh=jalan) karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1768-1820) yang juga merupakan nilai dasar Maiyah, yaitu Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Dengan ganjel pitutur ini sebenarnya para leluhur di Jawa sudah memiliki visi dan metode belajar efektif untuk membekali anak-cucu, yang kemudian sering diterjemahkan secara sederhana oleh Cak Nun “wis tho, lakonono, mengko lak ketemu ilmune!”.

Sore kemarin, setelah ngontel kurang lebih 40 menit menempuh jarak 9,5 km dari Javastraat pada suhu minus 2 derajat celcius akibat anomali cuaca–dikenal dengan beast from the east, padahal lazimnya official Spring date 20 Maret sudah mulai hangat, akhirnya saya menemukan Podium Mozaïek.

Impresi pertama saya, bangunan yang oleh orang lokal disebut Pniëlkerk atau The Tealight ini sekilas memiliki nuansa arsitektur masjid atau setidaknya gereja, meski ternyata adalah sebuah gedung pertunjukan yang dulunya, sebelum tahun 2005, merupakan bangunan gereja milik Christian Reformed (Pniël) Church.

Sesampainya di Podium Mozaïek, ternyata sebuah event tahunan Internatioanl Folklore Festival baru saja usai, dan 20 orang penari Dayak yang dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu penampil dari 9 negara yang diundang. Mereka baru saja menampilkan Tari Burung Enggang lengkap dengan ubo rampe dan bulu-bulunya. Dan sudah bisa ditebak, sebagaimana cerita Ibu Ida–salah satu sesepuh orang Indonesia, dan suami beliau mengenal dekat sosok Cak Nun ketika di Amsterdam–yang hadir, penampilan mereka mendapatkan standing ovation dari penonton.

Gedung Podium Mozaïek, Amsterdam tampak luar. (Foto: Karim)

Di gedung inilah, Cak Nun dan Kiaikanjeng memungkasi Tur Belanda mereka tahun 2008 bertajuk VOICES & VISIONS: Indonesian Muslim Poet Emha Ainun Nadjib Sings a Multifaceted Society dengan sebuah workshop musik Gamelan. Ini berarti setelah 23 tahun masa peggelandangan Cak Nun di kota yang sama, dan ketika itu ibu Novia Kolopaking dan Sabrang (Noe) sudah turut serta dalam rombongan Kiaikanjeng.

Bahkan, Sabrang juga yang mengajak hadirin peserta workshop untuk berjoged bersama ketika seorang warga Belanda asal Suriname keturunan Jawa fasih menyanyikan lagu Layang Kangen-nya Didi Kempot. Sampai di sini, tidakkah kita belajar bahwa musik yang oleh sebagian kelompok Muslim diharamkan justru menjadi perekat persaudaraan dan media dialog lintas budaya, lintas generasi, dan lintas agama?

Perlu dicatat bahwa Tur Belanda ini adalah undangan khusus dari asosiasi gereja-gereja Kristen Protestan melalui Hendrik Kraemer Institute bekerjasama dengan Java Enterprise. Dalam rangka meredam tensi hubungan antarpemeluk agama di Belanda dan Eropa yang dipicu oleh film pendek kontroversial “Fitna” yang dibuat oleh politikus Belanda Geert Wilders yang ditayangkan secara nasional di Belanda di bulan Maret 2008.

Gelombang protes keras datang dari umat Muslim di seluruh penjuru dunia, termasuk dari Indonesia. Karena film yang mengandung pesan provokasi bahwa Islam merusak tatanan demokrasi dan mengurangi kebebasan ala Barat dianggap telah melecehkan umat Islam. Rilis film ini ndilalah juga memiliki momentum yang pas dengan sentimen kepada Islam. Karena beberapa hari sebelumnya di bulan yang sama terjadi serangan ledakan bom di Times Square New York, Yerusalem, Israel, dan 3 kota berbeda di Spanyol.

Pertanyaanya, mengapa Cak Nun dan Kiaikanjeng? Mengapa bukan mengundang para Mufti agung dari Timur Tengah atau para Syeikh dari Al Azhar, misalnya, untuk menjelaskan kepada para pembenci Islam di Belanda dan dunia Barat pada umumnya, tentang Islam yang sesungguhnya? Yang jelas, ajakan dari De Nederlandse Moslim Omroep/NMO (Asosiasi Broadcasting Muslim Belanda) untuk berdebat terbuka dengan Wilders.  Sebagaimana dirilis kantor berita ANP (Algemeen Nederlands Persbureau) tanggal 24 Maret 2008 yang dijawab oleh Wilders dengan “No way, NMO!”.

Saya teringat pelajaran di semester pertama kuliah antropologi tentang 7 unsur kebudayaan yang digagas oleh antropolog Clyde Kluckhohn (1905-1960). Yaitu sistem kepercayaan/religi, sistem pengetahuan, bahasa, sistem teknologi, mata pencarian hidup/sistem ekonomi, kesenian, sistem organisasi kemasyarakatan, dan teknologi/peralatan hidup.

Terlepas dari perdebatan panjang dan rekonstruksi maupun dekonstruksi dari gagasan 7 unsur universal yang dimiliki semua budaya di muka bumi tersebut, pilihan Cak Nun menggunakan mozaik kesenian yang memugkinkan dialog pertamanya menggunakan sentuhan rasa dan hampir semua jenis manusia bisa masuk–menurut saya adalah sebuah ijtihad yang cerdas.

Karena manifestasi dialog menggunakan pendekatan 6 unsur yang lain, misalnya dalam bentuk dogma (religi), debat (pengetahuan), argumen (bahasa), demo (organisasi kemasyarakatan), pertukaran atau kuat-kuatan materi (mata pencaharian), apalagi senjata (teknologi) sudah terbukti hanya semakin memupuk benih kebencian dan memperkuat ketegangan baru.

Inilah pesan mozaik budaya Nusantara yang saya maksud. Dari bumi Nusantara, kelompok-kelompok manusia yang menghuninya sejak dahulu menjadikan kesenian sebagai tetenger siklus hidup sekaligus pemersatu hajat kolektif, maupun seluruh interaksi sosial yang ada.

Tak terkira betapa kayanya setiap daerah dengan kreativitas dan ijtihadnya masing-masing melahirkan ekspresi-ekpresi kesenian yang menyapa dan menggembirakan, bukan menunjuk dan menyalahkan. Dan saya kira contoh dari kanjeng Sunan Kalijaga sangat jelas bagaimana beliau mem-bilhikmah-i kesenian sebagai penyambung rasa antara manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.

Suasana ruang lantai 1 Gedung Podium Mozaïek, Amsterdam yang sebelumnya merupakan tempat peribadatan umat Kristen Protestan (Foto:Karim)

KiaiKanjeng hanya sebutir dari sekeranjang kekayaan itu. Namun dengan prinsip manajemen untuk menyapa dan melayani, ia terpaksa harus telaten, membuka ruang seluas-luasnya untuk diterima semua orang yang terkotak-tersekat-terbatas. Karena untuk dipahami, berarti ia harus bisa berkomunikasi menggunakan bahasa lawan bicaranya. Dan musik adalah bahasa yang bisa dimengerti semua orang yang masih menggunakan hatinya. Sehingga tidak heran, lahirlah lagu-lagu shalawat versi orang atau budaya kelompok orang yang mereka sapa, tidak hanya di Nusantara, tetapi juga dunia.

Ketika menyapa orang-orang Belanda yang sedang “panas” karena film Fitna di tujuh kota berbeda (Rotterdam, Den Haag, Zwole, Leeuwerden, Duventer, Nijmegen, dan Amsterdam) di tahun 2008, sebagian besar lokasinya adalah di gereja. Bahkan ada yang di synagogue Yahudi. Dan KiaiKanjeng mengumandangkan sholawat aransemen Silent Nigt Holy Night yang nyambung dengan tata roso dan estetika kelompok orang yang mengundang mereka. Sebagai tamu, mereka juga menghormati tuan rumah, meski tampak lucu, misalnya harus memakai peci khas Yahudi untuk memasuki Synagoge, dan melakukan sholat ashar tepat di depan tanda salib di dalam gereja, yang semuanya adalah ekspresi kemesraan bersama.

Jangan lupa, KBBI mendefinisikan mozaik sebagai “seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat”. Menurut saya itulah Kiaikanjeng yang memadukan kepingan gamelan Jawa dengan kepingan lain dari instumen musik Barat.  Yang disusun dan ditempelkan bersama untuk merekatkan puing-puing perpecahan sosial, memadahi reruntuhan perselisihan etnis dan agama, dan memesrakan kubu-kubu perseteruan politik dan kasta.

Dan meskipun tur Voices & Visions itu adalah bentuk konkret dari kontribusi anak bangsa Nusantara untuk upaya menjaga perdamaian dunia tanpa sokongan negara–bahkan salah satu versi sholawat Ya Thoyibah di Album Terus Berjalan (2009) Kiai Kanjeng videoclip-nya diambil pada rangkaian tur tersebut–tetap saja banyak orang yang melarang anaknya mendengarkan musik sebagai ciptaan Tuhan yang sangat indah.

Padahal, ketika membid’ahkan dan melarang santrinya memainkan alat musik dan menirukan irama jaipong yang kebetulan keras sekali mengalun di sebelah pesantren, tanpa sadar pak kyai berteriak keras tak mau kalah dengan alunan musik sambil menggerak-gerakkan kakinya mengikuti irama jaipong yang maknyus itu. Itulah mozaik Anggukan Ritmis Kaki Pak Kyai.

Amsterdam, 21 Maret 2018

Ternyata tidak mudah dan butuh energi ekstra untuk melacak “artefak” fase tirakat gelandangan Cak Nun di Amsterdam di era pertengahan 1980-an. Namun, sebagai sebuah mozaik, saya sambung celoteh saya dengan serpihan-serpihan acak yang semoga kelak bisa terangkai menjadi simpul cerita yang lebih utuh.