Dari Jawa Tengah ke Javastraat

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (1)

Amsterdam Centraal Station (Foto: Karim)

Entah dari mana celoteh yang saya sebut sebagai Otoetnografi Pejalan Maiyah ini harus saya mulai. Bukan hanya karena saya takut nguyahi segoro, tetapi khazanah ilmu dan samudera sudut pandang yang sudah dibangun para pejalan Maiyah sampai hari ini sudah sedemikian dalam dan luasnya.

Bahkan, untuk satu ide lingkar Maiyah saja, misalnya ‘Kenduri Cinta’ mau kita seriusi, sebuah disertasi doktoral pun tidak akan mampu membedah dengan lengkap ihwal rantai nilai, tafsir, dan aplikasi kontekstualnya di dalam keseharian kita. Dan ini saya sadari setelah kurang lebih empat minggu di bulan Februari lalu saya nginthil Mocopat Syafaat, Suluk Surakartan, Padhangmbulan, dan SabaMaiya.

Saya akan coba mengawali dari Amsterdam, yaitu dengan salah satu dari sekian banyak cara atau semiotika kultural mengkreatifi dialog yang Cak Nun kembangkan di berbagai kesempatan, yaitu metode othak-athik gathuk (tur yo mathuk) yang sebenarnya sangat filosofis dan membuktikan bahwa sejak dahulu mbah-mbah kita di Jawa sudah sangat maju dalam berdialektika.

Pasalnya, pendekatan ilmu sosial Barat yang akhir-akhir ini sangat popular dan terus dikembangkan, misalnya, mengutip Danermark dkk (Explaining Society: Critical Realism in the Social Sciences, 2002), “social scientists do not discover new events that nobody knew about before…what is discovered is connections and relations by which we can understand and explain already known occurrences in a novel way”.

Dengan kata lain, inti pencarian dari ilmu sosial adalah othak-athik gathuk itu tadi. Bedanya, orang Jawa mengamati fenomena sosial tidak hanya dengan logika atau akal dan panca indera, tetapi juga dengan roso, dan pendekatan ini yang Cak Nun rintis dan saya kira sangat relevan untuk dieksplorasi lebih jauh di dunia akademik bagi anak-anak sekolah zaman now.

Dengan pendekatan ini, ada dua kata kunci sebagai mukadimah, yaitu gelandangan dan masjid, yang kemudian saya sadari tidak saja menjadi titik awal persentuhan saya dengan Maiyah, tetapi juga menjadi tirakat penting bagi Cak Nun dalam mengawali perjalanan Maiyah. Bagaimana tidak, pada masa awal-awal kuliah dengan status keren sebagai mahasiswa FE UGM yang sudah di tangan dan tinggal menjalani, beliau dengan mudahnya membuang “kursi” itu. Padahal saya pribadi sampai rela 3 kali ikut UMPTN (yang kemudian berganti SPMB) untuk mendapatkan “identitas” yang keren dan menjanjikan dari sisi prospek karier dan masa depan.

Gelandangan sebagai salah satu penghuni setia di salah satu sudut Amsterdam Centraal Station. Entah di sudut mana Cak Nun menjadi Robin Hood bagi para gelandangan. (Foto: Karim)

Yang kemudian kita semua mafhum, dan saya yakin tidak jamak dari kita yang memiliki keberanian dan kesadaran untuk memilih live in sebagai “gelandangan”. Tidak hanya di Malioboro, tetapi juga di Amsterdam (dua ethnographic sites) yang mungkin Tuhan pilihkan untuk Cak Nun–yang kelak menjadi perpaduan amunisi kultural yang ampuh bagi kiprah beliau mewarnai nusantara dan banyak kota di dunia dengan segala macam dekonstruksinya terhadap pakem-pakem sosial, budaya, politik, sastra, seni, dan wabil khusus agama. Termasuk persentuhan langsung beliau dengan berbagai latar budaya di muka bumi, dari ujung utara di Helsinki sampai ujung selatan di Melbourne, atau mlipir sedikit ke London dan tetangga-tetangganya, sampai ke kota-kota besar di negeri paman Sam yang sebagaian besar bisa saya napak tilasi.

Padahal, jika kita mau sungguh-sungguh merenungkan, justru dengan menjadi gelandangan itulah kekuatan terbesar Cak Nun, di mana proses pembelajaran alamiah yang sering beliau sebut sebagai dadiyo menungso sik dijalani tanpa teori atau formula hidup yang muluk-muluk, kecuali ketekunan. Sesuatu yang sebenarnya sederhana namun tidak banyak diinsyafi orang. Dan tidak ada momentum paling relijius bagi seseorang untuk mengetuk pintu rumah Tuhannya, entah ia sebut masjid, gereja, vihara, atau apapun namanya, melebihi saat ia berada pada posisi sebagai homeless.

Dengan alasan inilah barangkali kemudian Sabrang juga secara naluriah memilih menjadi gelandangan dan numpang ngemper di masjid di Edmonton, Kanada, ketika kuliahnya di University of Alberta terpaksa harus berkompromi dengan dampak krisis moneter tahun 1998. Dalam ilmu antropologi yang saya pelajari, di mana etnografi adalah salah satu metode yang diklaim sebagai senjata utamanya, “menggelandang” itulah sebenarnya esensi dari etnografi.

Jika saya tahu ilmu ini dari awal, barangkali setelah lulus SMA dari Wonosobo tahun 2000–dengan modal nilai Ebtanas matematika hanya 3.0–saya tidak perlu susah-susah belajar Etnografi di Jurusan Antropologi UGM yang tidak dilirik orang, yang untuk masuk ke sana saya harus rela mengikuti UMPTN sampai tiga kali, dan baru diterima di tahun ketiga. Untunglah, salah satu ilmu dasar Maiyah saat itu sudah Tuhan ilhamkan, bahwa niat kuliah itu semata-mata untuk menyenangkan hati orang tua, yang kebetulan hanya seorang supir truk yang tidak mambu sekolah–bahkan Ibu saya pun buta huruf, baik huruf Latin maupun Arab. Dan berbekal ilmu dasar ini, saya malah “kecanduan” sekolah.

Meskipun saya tidak “mendapatkan hidayah” untuk menjadi gelandangan di Yogya, salah satu keberuntungan terbesar saya adalah bisa nyicipi tinggal di masjid selama kurang lebih 4 tahun, dan bergaul dengan puluhan maestro pembecak Jalan Solo (orang-orang dari Klaten) yang setiap malam selama puluhan tahun masih mampu mensyukuri hidup mereka dengan tidur nyenyak berjejer di emperan masjid.

Masjid PPME Al-Ikhlas–numpang di kompleks sekolah Muslim Maroko sebelum memiliki gedung sendiri untuk masjid–tempat berkumpul para pejuang penggelandang di Amsterdam, dan tempat Cak Nun terakhir mengisi ceramah Maulid Nabi. (Foto: Karim)

Dan ketika menjadi penjaga masjid inilah, Bang Ma’ruf nyangking saya bersentuhan pertama kali dengan Mocopat Syafaat di tahun 2002, di titik genting antara nasib akan menjadi gelandangan sesungguhnya jika tidak masuk UGM, atau jika masuk pun, niat baik untuk menyenangkan hati orang tua bisa berubah amarah karena harus memulai kuliah dari awal lagi setelah 2 tahun.

Entah kemudian disebut kebetulan atau takdir, saat berkesempatan belajar di Indianapolis tahun 2013, saya menulis sebuah etnografi tentang gepeng (gelandangan dan pengemis) dan nututi perjuangan seorang Maurice Young. Ia budayawan lokal yang terinspirasi Mahatma Gandhi untuk menolong kaum homeless dengan total menceburkan diri menjadi gelandangan, karena hanya dengan cara itu dia bisa memahami apa, siapa, dan mengapa homeless.

Aktivismenya berhasil meloloskan Indianapolis homeless bill of rights, meskipun kemudian diveto oleh walikota setempat atas desakan Gubernur Indiana kala itu–Mike Pence, yang kemudian menjadi Wapres-nya Trump. Dari Amerika, pelajaran “menggelandang” Cak Nun tahun 80-an nampaknya memiliki dimensi lain karena beliau justru memiliki banyak privilege sebagai tamu di sana, dibandingkan ketika di Malioboro atau Amsterdam.

Saat ini, ketika saya berkesempatan belajar di Amsterdam dan tinggal di Javastraat (Jl. Jawa), dan kebetulan lagi lembaga yang mengundang Cak Nun dan Kiaikanjeng ke Belanda tahun 2008 bernama Java Enterprise, dan Cak Nun sangat konsisten nggowo Jowo ke mana-mana, sehingga banyak sekali aspek dan “penggelandangan etnografis” beliau yang bisa digali dalam tiga aspek: Jowo digowo, Barat digarap, Arab diruwat.

Menapak tilasi pengalaman beliau di Amsterdam akan sangat kaya nilai, mulai dari persentuhan dengan komunitas Muslim Maroko, sehingga beliau hafal semua jago-jago MMA berdarah Maroko. Ngemper di Centraal Station Amsterdam yang di musim dingin luar biasa bekunya. Kucing-kucingan dengan polisi, menghuni rumah angker, sampai terakhir Desember 2016 mengunjungi Amsterdam lagi untuk ceramah peringatan Mauli Nabi Muhammad di masjid PPME Al-Ikhlas.

Di masjid ini pulalah tempat di mana setiap hari minggu saya bermain badminton bersama komunitas Indonesia yang oleh hukum pemerintah Belanda disebut “gelandangan”. Karena teman-teman ini memang illegal migrant workers. Meskipun ilegal, merekalah pejuang keluarga dan bonek sejati. Bermodal bismillah, mereka rela mengeluarkan modal 40-60 juta rupiah di awal untuk sekadar bisa berangkat dengan tanpa kepastian akan bekerja apa (umumnya domestic jobs), risiko tertangkap dan dipenjara, tinggal bersama 4-6 orang di apartemen milik keluarga Suriname-Jawa–beberapa bahkan bersama anak dan istrinya, dan harus memastikan tidak terkena razia polisi.

Di tangan mereka jugalah cerita di balik juara kompetisi badminton atau bola voli antar kota, bersih dan beresnya karpet masjid, sound system, konsumsi yang enak bagi setiap penyelenggaraan acara keagamaan, termasuk acara peringatan Maulid Nabi bersama Cak Nun Desember 2016 lalu.

Jika menurut KBBI gelandangan diartikan sebagai orang yang “berjalan ke sana sini tidak tentu tujuannya”, dan hakikatnya sebagian besar, kitalah gelandangan itu. Maka masjid seyogianya menjadi ruang di mana kita menemukan tujuan itu. Dan itupun belum cukup karena keluar dari masjid kita baru menemukan tujuan, belum melewati jalan terjalnya.

Suasana Jamaah sholat dhuhur di sebuah masjid komunitas Muslim Maroko di dekat Muideport Station, Amsterdam (Foto: Karim)

Yang jelas, di kota yang dikenal dengan the city of freedom–dan sorganya pecinta molimo–ini, dengan populasi Muslim sekitar 11 persen, saya mendapati setiap hari jumlah jamaah shalat wajib di masjid hampir selalu lebih banyak dari yang saya temui di kampung saya yang 100 persen warganya ber-KTP Islam. Mungkin karena mereka masih banyak yang menjadi gelandangan di kampung sendiri.

Amsterdam, 19 Maret 2018