Mantra Peradaban Zaman Now itu Bernama Maiyah

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (3)

Mbah Nun, Ibu Via, dan KiaiKanjeng pentas di Teatro Dalmazia at Municippio Due saat wafatnya Paus Yohannes Paulus II.

Di awal musim semi yang masih dingin ini, seorang teman asal Madura yang sedang studi ilmu hukum di Michigan, US, dan berkesempatan mengikuti sebuah konferensi di Madrid menyempatkan diri untuk mampir ke Amsterdam. Karena hanya punya waktu 3 hari sebelum kembali ke US, saya menawarkan untuk menemaninya jalan-jalan paling tidak ke 2 kota besar di Eropa, dengan satu syarat salah satunya harus ikut saya ke Roma, dan kemudian kita sepakati Roma dan Paris.

Mengapa Roma? Jelas karena ada jejak Cak Nun di sana, khususnya lantunan lagu Duh Gusti, Adagio, dan Obituary yang berkumandang di Teatro Dalmazia at Municippio Due pada saat seluruh jadwal konser musik dan pertandingan bola dibatalkan kecuali pentas KiaiKanjeng, itu pun hanya diizinkan dengan suasana dan dimensi spiritual demi menghormati masa berkabung atas meninggalnya Paus Yohanes Paulus II pada 2 April 2005. Sementara Paris, ini memang murni karena teman saya ingin selfie berlatar Eifel Tower.

Nuansa perjalanan saya kali ini agak religius, selain karena tujuan utamanya adalah Vatikan sebagai kota suci umat Katolik, teman saya ini sangat bersemangat mengajak diskusi hal ihwal agama ala Madura, plus bonus drama-drama kecil di sepanjang perjalanan yang benar-benar memaksa saya untuk nyebut:

Duh Gusti, mugi paringo ing margi kaleresan
Kados margineng menungso kang manggih kanikmatan
Sanes margining menungso kang paduko la’nati

Drama itu bermula dari alasan menghemat budget, karena saya memilih rute penerbangan paling pagi dan paling murah Eindhoven-Roma-Paris-Amsterdam. Walhasil, kami harus terlebih dahulu naik kereta Amsterdam-Eindhoven di malam hari untuk memastikan besok paginya tidak ketinggalan pesawat. Ndilalah, kereta paling malam yang memang sengaja kami rencanakan dibatalkan perjalanannya karena ada insiden kebakaran kecil, dan terdamparlah kita beberapa saat di Amsterdam Centraal Station.

Penampilan KiaiKanjeng di Conservatorio Di Musica San Pietro a Majella.

Untunglah, akibat insiden itu, masih ada kereta terakhir jurusan Amsterdam-Utrecht yang mundur jadwal keberangkatannya menjadi jam 1.30 dini hari, dan kami bisa ikut naiki dengan asumsi bahwa nantinya bisa nyambung pakai Uber dari Utrecht-Eindhoven dengan harga masih terjangkau kantong mahasiswa.

Ndilalah lagi, satu-satunya opsi adalah taksi yang meskipun bisa tawar-menawar, harganya tetap jauh lebih tinggi dari harga dua tiket pesawat yang akan kami naiki. Ironisnya, meskipun supirnya adalah imigran Muslim asal Maroko yang mengaku mengetahui sosok Soekarno dan sudah hafal jalanan Belanda, ternyata harus ada adegan lupa jalan dan muter-muter di kota Eindhoven yang berujung pada nambahnya ongkos taksi €100 lagi. Karena sang sopir ngotot layaknya Badr Hari ketika berlaga di ring K-1 championship, kami tak tega untuk menawar lagi. Dan sesampainya di Eindhoven Airport, pintu bandara masih dikunci sehingga mau tidak mau kami harus menikmati semribit dinginnya angin dini hari.

Sambil agak ngampet gelo, syarat untuk online check in khusus bagi pemegang tiket pesawat low cost Ryan Air pun ternyata tidak sempat kami baca, dan ujung-ujungnya kami terkena denda yang nilainya hampir sama dengan harga tiket yang kami beli. Tak cukup sampai di situ, sesampainya di Roma, karena HP drop sehingga terlambat memberi kabar ke teman yang rumahnya akan kami tumpangi untuk menginap, kami tlisiban sehingga agenda awal pun agak buyar.

Awalnya, saya merencanakan untuk mengunjungi salah satu dari dua “situs” jejak peninggalan pementasan KiaKanjeng di Teramo dan Napoli, khususnya Conservatorio Di Musica San Pietro a Majella Music Conservatories of Naples). Di mana salah satu gamelan dan partitur yang berisi naskah notasi karya mereka berjudul Pambuko IPambuko II dan demung dimuseumkan. Situs di museum musik klasik Konservatorium Napoli ini menurut saya monumental karena grup musik ndeso KiaKanjeng dan karyanya disejajarkan dengan karya para musisi klasik yang juga diabadikan di sana. Seperti Guiseppe Verdi, Robert Wagner, Guiseppe Tartini, dan Antonio Vivaldi.

Meskipun sedikit misuh asemik! Ada hal sederhana yang kemudian mampu membesarkan hati dan menjauhkan sifat ingah-ingih di dalam diri. Saya mencoba membayangkan bagaimana kru KiaiKanjeng blangkra’an menggotong bonang, saron, dan umbo rampai-nya sendiri ke sana-kemari pada tur kedua mereka ke Eropa (UK, Jerman, dan Italia). Sama persis di awal musim semi yang masih dingin (Maret-April) tahun 2005. Tur Eropa kedua ini membentang di garis diagonal yang memotong Frankfurt di tengah-tengah, diawali dengan pentas bertajuk Cultural Diplomacy in Action ujung Barat Laut benua Eropa di Eberdeen Skotlandia dan dipungkasi dengan Flying the Red-And-White di bagian selatan Eropa di Napoli Italia.