Tidak Lantas Bunuh Diri

Anak cucuku Jamaah Maiyah tahu, mengerti dan mengalami sendiri bahwa setiap kali berlangsung suatu kejadian dalam kehidupan bangsa kita, yang menurut pandangan kita merupakan potensi buruk ke masa depan, kita selalu melaksanakan apa yang Allah perintahkan: “Bangunlah, dan beri peringatan”. Qum faandzir. Dan Tuhanmu agungkanlah (terus berijtihad dan berjihad menemukan keagungan Allah). Dan pakaianmu (kebudayaanmu, sistem Negaramu dst) bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.

Kemudian yang juga sangat penting: “Wala tamnun tastaktsir”. Dan janganlah kamu memberi dengan mengharapkan (pamrih, balasan, proyek, eksistensi, popularitas) sesuatu yang lebih besar atau lebih banyak dari kadar perbuatanmu.

Dialog Jkw-HRS” saya lemparkan tidak hanya ke caknun.com, tapi juga ke semua kontak yang memungkinkan perwujudan idenya, hingga pun ke Istana, Mabes dan markas saudara-saudara kita yang terlibat. Saya tidak optimis, tidak pesimis, juga tidak mengharapkan apapun. Jika kemudian terjadi sesuatu atau tidak terjadi sesuatu, semuanya bernilai “Innama amruHu idza arada syai`an an yaqula lahu kun fayakun”. Saya, Jamaah Maiyah dan kita semua memperoleh keuntungan tidak lebih dari kesediaan dan keikhlasan kita untuk menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَـٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

Sebelum itu, kita lempar juga “10 Revolusi Jokowi”, kemudian “Revolusi Nyepi” dan “Menyongsong Revolusi Satu Indonesia” juga sejumlah momentum lain sebelum-sebelumnya kalau Jamaah Maiyah sregep niteni. Semua, sekali lagi, juga tidak dengan sikap optimis, tak juga pesimis, juga tidak mengharapkan apapun kepada Indonesia.

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi (semendalam apapun cintamu kepada Indonesia), tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

Sebagaimana Maiyah itu sendiri kita tekuni dan kita istiqamahi sama sekali tanpa pamrih untuk mengambil apapun dari Indonesia, apalagi sekadar kekuasaan dan harta benda. Indonesia amat kita cintai, tetapi Indonesia bukanlah segala-galanya dalam kehidupan. Indonesia bukan cerminan atau parameter sorga atau neraka. Apa yang kita lakukan kepada Indonesia itulah bagian dari potensi sorga atau neraka kita.

Kalau anjuran kita tidak dilaksanakan, kita sama sekali tidak kaget dan tidak menjadi kecil hati. Kalau umpamanya didengarkan dan dilaksanakan, kita juga tidak menjadi mungguh atau berbesar hati. Kalau kita menyampaikan saran umpamanya kepada pemimpin Pemerintahan atau Imam ummat, kita sampaikan yang paling murni, paling objektif, paling jujur, wajar dan terukur.

Tapi jangan dipikir kita tidak tahu bagaimana keadaan dan sikap hidup mereka. Pastilah seorang pemimpin politik memiliki pamrih, strategi dan goal-nya sendiri – yang kita tahu bahwa hal itu tidak memungkinkannya menerima saran kita. Jangan terlalu lugu untuk tidak tahu bahwa seorang Presiden dengan jajaran pemerintahannya tidak memiliki pengalamannya sendiri, kegeraman dan kemarahannya sendiri, perhitungan dan tergetnya sendiri, untuk mempertahankan dan menunjukkan kekuasaan menurut versinya sendiri. Juga kita tidak bego atas sisi atau kutub lainnya. Bukan hanya HRS, tapi juga semua atmosfer di sekelilingnya, yang murni maupun yang menunggangi, yang meneduhkan maupun yang memanaskan, yang membelanya dengan keluguan maupun yang memanfaatkannya untuk berbagai macam kepentingan termasuk subversi-subversi intelijen.

Lebih tidak pilon lagi untuk secara common sense saja mengerti bahwa ini era Globalisasi. Indonesia dengan Pemerintahnya tidak berdiri sendiri, tidak berdiri hanya dengan dirinya sendiri, tidak berdiri dengan keputusan otentiknya sendiri. Seseorang menjadi Presiden tidak karena dia punya keniscayaan diri sebagai Presiden dengan segala persyaratan kualitatifnya. Ia dipresidenkan. Subyek primernya bukanlah ia, sebagaimana demikian yang terjadi dengan Perang Dingin, Arab Spring, termasuk yang kecil-kecil seperti bentrok Ambon, Poso, gejala di pantura dst. Demikian juga yang di seberangnya.

Namun bagi saya fakta-fakta siluman dan situasi samar itu saya anggap sekunder. Dan yang primer adalah “rahmatan lil’alamin” untuk bangsa Indonesia. Adalah “fatabayyanu antushibu qauman bijahalah”. Adalah “faashlihu bainahuma”, adalah persatuan dan kesatuan, adalah bangsa Indonesia seutuhnya, untuk meratakan jalanan masa depan semua penghuni Indonesia, yang mereka semua mengabdi kepada Allah, bukan menyembah Presiden atau bersujud kepada yang dimusuhi atau memusuhinya.

Maka semua itu tetap kita ungkapkan, karena kita hidup bukan untuk mereka, kadar nilai dan kualitas kita tidak diukur oleh mereka. Indonesia bukan Dewan Juri kita. Indonesia bukan Tuhan kita dan juga bukan Nabi kita. Indonesia adalah Ibu dan rakyatnya adalah anak yang kita cintai. Jamaah Maiyah adalah penguntit sikap hidup Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Hidup kita berprinsip Islam, yang kita breakdown menjadi formula ma’iyatullah, bersama Allah, di hadapan Allah, bersujud patuh kepada Allah. In lam yakun biKa ‘alayya ghadlabun fala ubali. Hanya itu garis batas kehidupan kita.

Saya ke Jakarta bulan April 1998, kemudian menjelang akhir Mei 1998 Pak Harto lengser, sama sekali tidak ada niat untuk ke Jakarta apalagi niat untuk melengserkan Pak Harto. Juga dua tahun kemudian tak ada juga niat untuk meloloskan Gus Dur menjadi Presiden melalui sejumlah pertemuan yang juga bukan karena saya niati sejak awal.

Pun ketika sepasukan berkelengkapan pedang mencegat di tangkis Jombang, kemudian saya liburkan Padangbulan tiga bulan, kemudian Gus Dur dilengserkan. Atau peristiwa Dayak di Sanggau, Kedungombo, lumpur Sidoarjo, bentrok Tulangbawang dll. Tak ada satu pun yang saya meniatinya, mempamrihinya, atau bergairah mempahlawaninya.

Itu semua bukan pekerjaan besar. Bukan pula kegiatan kecil. Itu kelaziman hamba Allah berlaku dalam hidupnya. Sebagaimana tandur di sawah, shalat lima waktu, mandi pagi dan sore, keluar rumah ke tempat kerja, momong anak dan cucu, atau kelaziman-kelaziman lainnya.

Jika keberadaan kita tidak diakui oleh manusia, kita tidak menangis atau meratap. Jika darma bakti hidup kita tidak dijadikan manfaat apa-apa oleh manusia, kita tidak mengamuk, menjadi nyinyir dalam pergaulan atau melakukan trollying atau bullying di medsos. Jika peringatan kita tidak didengarkan oleh manusia, kita tidak frustrasi dan bunuh diri.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada pertanda-pertanda yang kau ungkapkan”.

Sudah sejak awal 1990-an bersama semua warga KiaiKanjeng kami pasrah mlumah dan patuh pada

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Demikian juga hari-hari ini tatkala Allah menyebarkan amtsal Covid-19, berlanjut pada sejumlah kejutan melalui kepatuhan alam kepada sunnatullah yang hanya Ia sendiri yang mengetahui segala sesuatunya.

Bagi kita semua itu bersifat “lailan”, bukan “naharan”. Dan kita terus berpasrah “asra bi’abdiHi”. Anak cucuku Jamaah Maiyah sregeplah niteni semua yang ditanazzulkan oleh Allah dalam hidupmu, keluargamu, siang malammu, rentang waktu yang kau alami kemarin hingga besok, lingkunganmu, Negaramu, duniamu.

Di tengah kesulitan penghidupan oleh wabah global setahun belakangan ini saya mendoakan keluarga-keluarga Maiyah dianugerahi Allah sawab Maryam ibunda Nabi Isa AS: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.

Lainnya

Buku dan Merchandise