Madhep Mantep Ki Sudarsono

Foto: Adin (Dok. Progress)

Tatkala matahari naik belum melebihi sepenggalah, Allah Swt. memanggil hamba-Nya yang tinggal di Dusun Sekiteran, Kelurahan Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Beliaulah Ki Manteb Sudarsono.

Tidak penting sebab-musabab kepergiannya. Kita semua optimis Allah membisiki jiwanya: “Ya ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’i ila Rabbiki radliyatan mardliyah. Fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati”. Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Maha Pengasuhmu dengan lila legawa dan diridlai oleh-Nya. Bergabunglah dalam rombongan para penyembah-Ku. Dan masuklah ke dalam sorga-Ku.

Siapapun yang tidak berjiwa lila-legawa, hampir tak mungkin bisa menjadi Dalang. Siapapun saja yang ruang di dalam dirinya tidak bisa diajak nyegara, bahkan men-semesta, hampir mustahil ia punya kesanggupan pengetahuan, daya olah ilmu hidup, ketekunan serta keuletan untuk menjadi “kancah” bagi segala macam perangai manusia, segala macam jenis dialektika dan konfliknya, sebagaimana seorang Dalang harus “muthmainnah” mengelolanya.

Tidak banyak manusia dianugerahi “fadhilah” seperti itu. Dan Dalang, dalam tradisi kebudayaan Jawa, mungkin lebih dari itu. Mereka para Dalang itu duduk bersila semalaman, tidak buang air kecil maupun besar, kaki dan seluruh badannya tidak boleh kesemutan, aktivitas intelektual dan estetiknya harus stabil selama sekian jam. Dan Ki Manteb Sudarsono masih menambah dinamika “amal saleh”nya itu dengan keterampilan kedua tangan beserta sepuluh jari jemarinya. Suatu pekerjaan sangat berat lahir batin, yang membuat masyarakat menggelarinya “Ki Dalang Setan”.

Belum ada ilmuwan dan budayawan yang meneliti kepada masyarakat Jawa dan Indonesia umumnya memakai figur “Setan” untuk menyebut kehebatan seseorang di antara manusia. Tidak mungkin Ki Manteb disebut “Ki Dalang Malaikat”, meskipun juga tidak digelari “Ki Dalang Iblis” atau “Ki Dalang Jin”.

Saya, bersama teman-teman KiaiKanjeng, pertama kali berkenalan dan bekerja sama dengan Dalang Setan ini di sebuah acara kampus di Karanganyar. Pertemuan terakhir saya dengan beliau adalah ketika memperingati dan mengupacarai meninggalnya Yunior beliau Ki Dalang Seno Nugroho.

Swargi Ki Mantep langsung menjadi sedulur dan sahabat sangat dekat saya. Tanpa ada proses “lita’arofu”. Tidak ada proses komunikasi budaya. Tidak ada tahap saling mempelajari dan mengapresiasi. Kami langsung “nyawiji”, seolah-olah kami adalah sehabat lama sejak belum dilahirkan di dunia. Tidak ada jarak budaya atau psikologis.

Masih ada sejumlah orang bertanya-tanya apa agama Swargi Ki Manteb. Sebagian lain menjawab: “Beliau Muallaf”. Maksudnya orang yang “converting” dari agama entah apa ke Islam. Entah ustadz atau kiai atau ulama siapa dan kapan yang memperkenalkan kata “muallaf” sampai hari ini ditekankan pada “pindah agama”-nya, dan bukan pada asumsi tentang kondisi yang masih lemah iman Islamnya.

Kalau pakai pengertian “muallaf” yang berlaku umum di kalangan masyarakat modern Indonesia, maka Yusuf Islam atau Cat Steven atau Mike Tyson adalah tokoh internasional yang selama hidupnya “Muallaf”.

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ
وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Swargi Ki Manteb sedulur dunia akhirat saya itu juga Muallaf seumur hidupnya sampai meninggalnya 2 Juli yang lalu. Padahal “hati Islam”-nya Ki Manteb tidak lemah. Sejak hari pertama saya dan kami KiaiKanjeng mengenal beliau, Ki Manteb bukanlah Muallaf. Bahkan beliau Muqawwy. Beliau selalu sangat menguatkan dan memperkuat keyakinan Islam kepada siapa saja yang srawung dengan beliau.

Mas Manteb hidupnya selalu gembira karena lila-legawa hati kemanusiaan dan kemuslimannya. Dan itu merupakan sumber otentik dari kemampuan beliau untuk menggembirakan para penonton wayangnya, serta semua masyarakat yang berada di sekitarnya.

Semua orang yang menonton Ki Manteb ndalang, hampir tidak mungkin tidak bergembira dan tertawa. Setiap orang yang berjumpa dengan beliau, hampir tidak mungkin tidak membawa pulang rasa nyaman dan keriangan hati.

Rasululah Saw sendiri bersabda: “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” Bahkan menurut beliau juga:

من ادخل على قلب اخيه المسلم فرحا وسرورا في دار الدنيا
خلق الله تعالى من ذلك ملكا يدفع الافات فاذا كان يوم القيامة
جاء معه قرينا فاذا مر به هول يفزعه قال لا تخف
فيقول من انت فيقول انا الفرح والسرور الذي ادخلته على اخيك المسلم في دار الدنيا

Barangsiapa yang memberikan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hati saudaranya yang muslim saat di dunia, maka Allah Swt. akan menciptakan malaikat yang akan menolak seluruh musibah darinya. Ketika hari kiamat sudah tiba, maka ia akan menjadi sahabat sejatinya. Ketika terjadi sesuatu yang mengerikan, maka ia akan berkata : jangan takut! Lalu dia akan bertanya, siapakah engkau? Maka ia akan berkata lagi, aku adalah kebahagian dan kegembiraan yang engkau berikan pada saudaramu yang muslim waktu di dunia.

Kita ber-husnudhdhon Kiai Manteb sudah mulai digembirakan oleh para Malaikat Allah. Kita juga memohon Allah Swt mengampuni kesalahan dan kekhilafan beliau selama di dunia, karena tidak mungkin siapapun yang hidup bersih dari kesalahan.

Sejak awal pertemuan sesungguhnya banyak hal ingin saya rembug dengan beliau, terutama hal-hal yang menyangkut kreativitas dan pengembangan dunia Wayang. Mungkin tawaran sejumlah Carangan. Mungkin mendiskusikan dan merenungi bersama sejumlah pemaknaan atas dimensi apapun dalam dunia pewayangan. Wayang bukan hanya kesenian. Bahkan tidak cukup hanya disebut aktivitas budaya atau karya kebudayaan. Wayang Jawa sudah terbukti memiliki ciri-ciri kualitas sebagai peradaban suatu masyarakat.

Kita tidak punya maqam dan kapasitas untuk memastikan bahwa Ki Menteb dan kita semua akan masuk sorga. Apalagi Rasulullah bersabda bahwa tidak ada manusia masuk sorga karena amal salehnya. Kita semua hanya punya peluang untuk masuk sorga semata-mata kalau Allah merahmati kita. Tetapi kita wajib ber-husnudhdhon kepada kemurahan dan cinta kasih Allah kepada hamba-hamba yang mencintai-Nya. Sedulur saya selama saya mengenalnya selalu madhep mantep hidupnya, dan itu sangat tercermin pada kematangan dan dinamika kiprah kedalangannya.

Bahkan kita juga menjadi tenang dan bahagia ketika mentawakkali kemurahan Allah. Bahkan saya berharap kelak nonton wayangan Pak Manteb di sorga ‘adn jannatunna’im.

Lainnya