Tawassulan atau Tawashshulan

Tawassulan dari Tawassul. Tawashshulan dari Tawashshul. Seperti Tahlilan dari Tahlil. Diba’an dari Diba’. Manakiban dari Manakib. Penambahan “an” dalam hal ini adalah bentukan kata dalam bahasa Jawa yang mengandung arti suatu kegiatan atau menunjukkan makna tempat.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Tawassul dan tawashshul memiliki persamaan makna yaitu taqarrub atau mendekatkan diri. Bedanya, tawassul mendekatkan diri dengan wasilah atau perantara (Kamus Lisanul Arab dan Al-Mu’jam Al-Wasith), sedangkan tawashshul mendekatkan diri dengan halus atau lembut (Kamus Lisanul Arab dan Al-Mu’jam Al-Wasith).

Dalam khazanah agama Islam, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan menggunakan atau menyebut sesuatu sebagai wasilah atau perantara.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang kesunnahan tawassul. Dasarnya adalah firman Allah dalam surat Al-Isra’ dan Al-Maidah.

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ یَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِیلَةَ أَیُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَیَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَیَخَافُونَ عَذَابَهُۥۤۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورࣰا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (mendekat) kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Surat Al-Isra’: 57]

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوۤا۟ إِلَیۡهِ ٱلۡوَسِیلَةَ وَجَـٰهِدُوا۟ فِی سَبِیلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” [Surat Al-Maidah: 35]

Tawassul dengan menyebut nama Allah atau sifat Allah (Al-Asma’ul husna), tawassul dengan amal saleh, tawassul dengan orang saleh yang masih hidup disepakati kesunnahannya oleh semua ulama. Adapun tawassul dengan orang saleh yang sudah meninggal ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Tawassulan yang dilakukan oleh Jamaah Maiyah digagas oleh Cak Nun dengan rangkaian dzikir dan doa yang khas, dimaknai sebagai “mengemis kepada Allah dengan berlandaskan asma-Nya sendiri atau dengan mengatasnamakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”. Rumusan tawassul dengan pemaknaan seperti ini akan terhindar dari kontroversi berkaitan dengan berbagai macam tawassul yang dipraktekkan di tengah masyarakat.

Karena istilah tawassul masih bersifat kontroversial, maka pemakaian tawashshul barangkali bisa menjadi alternatif dan memjadi kekhasan Maiyah.