Qadla Qadar Virus dan Iblis

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam pengetahuan budaya sehari-hari virus seperti Covid-19 biasa disebut benalu. Sejenis makhluk yang hidupnya tergantung pada inangnya. Benalu tidak tumbuh sendiri di tanah. Ia numpang pada makhluk tetumbuhan yang lain. Tetapi keistimewaan virus dibanding benalu adalah bahwa virus punya kemampuan untuk menginveksi inangnya. Bahkan memperlakukan atau membikin inangnya sebagai semacam pabrik untuk mereproduksi dirinya, memperbanyak salinannya, bahkan memutasikan atau memperkembangkan dirinya.

Maka jika suatu virus menginangi manusia atau menginangkan manusia sebagai pabriknya, manusia harus mengenali algoritma untuk mengantisipasinya. Sebenarnya algoritma adalah semacam susunan langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah. Tetapi pada benalu virus, algoritma adalah susunan langkah-langkah sistematis untuk mengembangkan dan menambah masalah. Jadi algoritma itu sendiri terpapar virus.

Di dalam wacana Islam, algoritma itu mirip dengan fenomena takdir Allah yang disebut “Qadla dan Qadar”. Makhluk pendahulu manusia yang disebut Iblis melakukan dan memperkembangkan hidupnya dengan cara menginangkan diri pada manusia. Iblis bukan makhluk seram berbadan aneh dengan wajah seram dan gigi siung yang menakutkan, sebagaimana film-film atau kisah-kisah budaya lainnya sering memperkenalkan Iblis melalui wujud seperti itu.

Iblis bekerja seperti virus. Iblis tidak bisa bekerja sendiri. Iblis tidak berbahaya oleh dan karena dirinya sendiri. Iblis berbahaya kalau sudah menginang pada manusia. Bahaya Iblis teraplikasi oleh dan melalui manusia.

Iblis tidak kasat mata. Ia bisa jauh lebih kecil dibanding virus yang masih bisa diidentifikasi melalui alat teknologi tertentu hasil karya manusia. Untuk mengidentifikasi virus Iblis manusia memerlukan alat “kasyaf” yang non-materiil, yang lebih dekat ke gelombang rohaniah. Sepanjang dan sejauh ilmu dan kebudayaan manusia enggan dan gengsi mengakui dan mempelajari fakta-fakta “beyond material”, maka virus Iblis selalu menikmatinya dan memperkembangkan dirinya sehingga menyebabkan manusia semakin pandai merusak dirinya.

Iblis berjanji akan “menyesatkan” manusia sampai kiamat, ialah tatkala durasi kontraknya berakhir. Maka kehidupan manusia sebagai inang utama Iblis, dengan seluruh ilmu pengetahuannya, kebudayaan dan peradabannya, cenderung permanen berposisi “kufur”terhadap Allah Swt. Itulah sebenarnya substansi peradaban manusia modern.

Iblis pernah menginangkan Malaikat sampai menjadi pemuka para Malaikat, disepuhkan dan diseniorkan, bahkan Malaikat Jibril sering meminta bantuan Iblis untuk mengajukan proposal tertentu kepada Allah Swt. Hanya saja virus Iblis tidak mampu memapari atau menginfeksi Malaikat, karena jenis kemakhlukan atau terapan qadla qadar-Nya Allah Swt. sama terhadap Malaikat maupun Iblis. Jadi ketika Allah mengusir Iblis dari sorga, para Malaikat yang ditinggalkan oleh Iblis di sorga, tidak ada yang terpapar virus Iblis.

Sejak awal tahun 2020 kemarin Allah bermurah hati memperkenalkan kembali untuk kesekian kalinya tentang bahaya Iblis melalui “wa yadhribullahul amtsala linnas” atau simbolisme Covid-19. Seluruh manusia yang menjadi penduduk Bumi kelabakan oleh amstal Iblis itu, tetapi sampai hampir dua tahun berlalu, para pakar di kalangan manusia tetap tidak mau membuka dirinya terhadap kenyataan-kenyataan yang tak terjangkau oleh ilmu-ilmu materialisme mereka. Sampai hari ini Covid-19 belum membunuh sepertiga penduduk dunia, sebagaimana sejumlah pihak mengasumsikannya.

Secara umum manusia belum berpendapat bahwa Covid-19 sebegitu berbahaya bagi mereka. Bahkan Singapura segera akan mengumumkan bahwa Covid-19 ini sebenarnya adalah semacaam virus Flu biasa. Sementara Indonesia, sebagaimana biasa, tidak pernah mendasar pengetahuan, ilmu, dan sikapnya terhadap pandemi ini, selain “anut grubyug” mengekor pada WHO dan pandangan Globalisasi jajarannya. Indonesia tidak tampak mempelajarinya, merenunginya, mengijtihadinya. Tidak menggunakan ilmu, Agama, Al-Qur`an atau disiplin rohaniah atau ilmiah apapun untuk menunjukkan kedaulatannya dalam menanggapi masalah-masalahnya. Tidak ada gerakan nasional untuk bertanya atau memohon petunjuk kepada Tuhan. Tidak melakukan apapun yang menunjukkan bahwa hidup mati mereka punya ketergantungan kepada Allah. Bangsa Indonesia tergolong bangsa paling sakti di alam semesta. Mereka sanggup menjalani kehidupan tanpa data yang pasti, tanpa pengetahuan yang saksama, tanpa ilmu yang mendasar, tanpa pola pandangan yang komprehensif dan substansial. Bahkan terus tersenyum dan tertawa-tawa tanpa iman atau ketergantungan kepada Tuhan.

Manusia Indonesia bisa jadi merupakan contoh dan teladan bagi konsep “ahsanu taqwim”nya Allah Swt. Makhluk yang terbaik, paling unggul, paling tangguh. Mau hidup dalam negara, dalam demokrasi, dalam Pancasila, dalam Republik, dalam Kerajaan, dalam Kesultanan, atau tetap di hutan rimba, manusia Indonesia selalu siap. Bagi “ahsanu taqwim” Nusantara, berkerajaan tidak harus mengerti Raja, berkesultanan tidak harus memahami “Sulthan”, bernegara tidak harus paham Negara, tidak harus mengerti bagaimana hidup bernegara. Manusia sanggup hidup dalam ketidakpastian, ketidakmenentuan, fitnah, salah dan gagal paham, atau situasi apapun. Manusia Indonesia punya semacam algoritma atau “qadla qadar” mungkin Iblis pun heran dan takjub dibuatnya. Mereka unggul sedemikian rupa, meskipun tidak sesakti Iblis dalam hal akan terus hidup sampai Hari Kiamat.

Manusia Indonesia mungkin tergolong ummat atau kaum yang sangat kompatibel dengan penginangan Iblis. Bahkan prima-algoritma manusia Indonesia bisa mengubah bukan masalah menjadi masalah, serta menganggap masalah bukan masalah. Jargon mereka tatkala menggadaikan jiwanya kepada Iblis adalah “mengatasi masalah tanpa masalah”. Bisa jadi Allah sangat menyukai manusia Indonesia yang demikian itu, atau jangan-jangan memang Allah sengaja menciptakan jenis manusia yang memang seperti itu. Manusia Indonesia adalah manusia pasca-manusia.

Nanti akan tiba saatnya Covid-19 mereda di Indonesia “mak bedunduk” begitu saja. Sembuh dan negatif semua tanpa ada proses apa-apa. Tanpa sebab yang mengakibatkan kesembuhannya. Kemudian di antara mereka akan bersaing untuk mengklaim jasa-jasa. Akan terjadi misinformasi dan hoax nasional, rekayasa dan pencitraan sedemikian rupa. Itulah virus yang sebenarnya pada manusia Indonesia. Dan tidak ada yang mengherankan karena sudah sejak dahulu kala memang demikian. Manusia memiliki “algoritma atas algoritma” yang sangat sukar dipahami oleh makhluk-makhluk lain, apalagi oleh sesama manusia di dunia.

Tetapi konsep Tuhan menciptakan manusia dengan level “ahsanu taqwim” memang lebih unggul dibanding Iblis dan Malaikat. Jangan-jangan selama ini Iblis bukan menginfeksi atau memapari manusia, melainkan manusia Indonesia memapari Iblis. Dengan kata lain: qadla qadar virus Iblis “ora kodal” terhadap manusia Indonesia. Dunia boleh menghina Indonesia dengan istilah “herd stupidity”, karena memang mereka tidak sanggup menembus “herd mistery” manusia Indonesia.

Yogyakarta, 29 Juni 2021.

Lainnya