Lèt-Mèlèt….

Mocopat Syafaat, Yogyakarta.
Foto: Adin (Dok. Progress).

Coba siapa di antara para penggiat atau Jamaah Maiyah sejak kapan dan tulisan apa yang saya cantumkan dan maksudkan “Untuk Anak Cucu Maiyah”. Itu artinya saya menulis tidak untuk selain yang saya sebut. Saya tidak menulis untuk masyarakat umum, bangsa Indonesia atau penduduk dunia. Saya bicara kepada anak-anak cucu-cucu saya Maiyah.

Kalau kau matur kepada Ibumu, itu artinya tidak kepada Bapakmu, saudaramu atau apalagi tetanggamu. Yang kau matur kepada Ibumu tidak tepat dan tidak pada maqam-nya untuk didengar oleh selain Ibumu. Demikian juga kalau kau berbisik kepada pacarmu atau istrimu, itu artinya kau maksudkan agar tidak didengar oleh selain istrimu atau pacarmu. Karena kau manusia, bukan kambing.

Itu namanya psikologi silaturahmi. Itu namanya etika budaya. Itu namanya akhlaq Agama. Itu namanya keharusan ada batasan-batasan dalam komunikasi. Itu namanya tindakan saling menyelamatkan di antara semua yang ada dalam bebrayan hidup. Karena kau manusia, bukan ayam.

Bahkan di kantor, kalau kau bermaksud mengemukakan sesuatu kepada Direktur atau Kepala Bagian, kau mengkhususkan diri menghadap kepada beliau. Engkau bukan tiba-tiba teriak dari tempatmu sehingga semua penghuni kantor mendengarnya. Karena kau manusia, bukan kirik atau anjing.

Bahkan kalau engkau menjalankan tugas persuamiistrian di kamar, jangan sampai menimbulkan suara yang bisa didengar oleh anak-anak dan keluargamu seisi rumah. Apalagi oleh tetanggamu. Apalagi sampai kalian melakukannya di gardu dan kau sewa sound-system untuk mensosialisasikan pentas kalian ke seantero kampung. Karena kalian manusia, bukan kadal atau tekèk.

Itulah kehidupan. Itulah adab budaya. Itulah kebudayaan dan peradaban. Itulah manusia. Bukan kambing, anjing, ayam, atau tekèk dan kadal.

Sepanjang bersama Jamaah saya Maiyahan, sejak awal saya menyesalkan tidak adanya aturan jurnalisme yang melindungi hak-hak off the record forum Maiyahan. Saya selalu merindukan Maiyahan tanpa kehadiran wartawan, pers atau petugas media apapun. Karena saya punya pengalaman puluhan tahun sehingga sangat mengkhawatirkan distorsi yang akan dimunculkan oleh pelaporan wartawan, reportase para reporter. Ada pasal tentang off the record, tapi sangat terbatas, dan tidak bisa melindungi forum Maiyahan yang sebenarnya sangat memerlukannya demi kemashlahatan yang seluas-luasnya.

Salah satu keputusan hidup saya adalah keluar dari sistem media massa sejak tahun 1998. Padahal saya aktif sebagai wartawan sejak 1970-1975 kemudian berposisi sebagai penulis. Tapi saya keluar dan menjauh dari media massa, meskipun saya harus merelakan tidak memperoleh pendapatan penghidupan dari itu.

Kalau tim Kadipiro atau sejumlah tim terukur lainnya bikin video atau wawancara dengan saya, sejak awal itu dimaksudkan untuk bisa dan boleh dilihat dan didengar oleh siapapun saja, tidak terbatas anak-cucu Jamaah Maiyah.

Tetapi kemudian media massa berkembang pesat menjadi media global yang tanpa batas etika. Menjadi medsos, Youtube dan aplikasi-aplikasi lain. Apa yang saya bisikkan kepada istri atau Ibu saya kemudian ada yang mengumumkannya ke seluruh dunia dan alam semesta. Setiap isi Maiyahan di hampir 5.000 tempat dibocorkan ditayangkan diunggah oleh kadal-kadal, kambing-kambing dan kirik-kirik.

Di alinea atas saya sebut “Itulah kehidupan. Itulah adab budaya. Itulah kebudayaan dan peradaban. Itulah manusia. Bukan kambing, anjing, ayam, atau tekèk dan kadal”. Ternyata sebagian dari anak-anak cucu Maiyah saya sendiri yang berlaku kambing, anjing, ayam, tekèk atau kadal,

وَلَوۡ شِئۡنَالَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ
وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ
يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۚ
فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Mereka adalah fakir miskin yang mencari nafkah dalam keadaan apapun saja. Mereka adalah fuqara wal masakin yang terus mencuri dalam situasi masyarakat susah kayak apapun saja. Meskipun seluruh dunia disiksa pandemi, semua penduduk bumi keruh hatinya dan penik hidupnya, ribuan bahkan jutaan orang dan keluarga sakit, sesak nafas dan mati, mereka terus saja nyolong dan nyolooong dan nyolooooong.

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Allah sendiri yang menyatakan “tentulah kamu merasa jijik kepadanya”. Tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak. Terbukti mereka gak jembek babar blasss. Mereka teruuuuuuuuuuus saja melakukan kekirikan dan kekadalan itu.

Anak-anak cucu-cucu saya sendiri yang mencoreng-moreng wajah saya. Anak-anak cucu-cucu Maiyah saya sendiri yang merusak imaji kepribadian saya. Anak-anak cucu-cucu Maiyah saya sendiri yang menggambarkan kenyinyiran, kecrewetan, keusilan dan watak kampungan dan perjuangan sejarah hidup saya. Anak-anak cucu-cucu Maiyah saya sendiri yang menghancurkan integritas kepribadian saya.

Dan di antara kambing, anjing, ayam, tekèk dan kadal itu semua itu belum tentu ada 1% yang membaca tulisan saya ini, apalagi merenunginya. Untung mereka bukan pemegang otoritas qadla dan qadar. Untung mereka tidak berkuasa atas min haitsu la yahtasib. Untung mereka tidak sanggup mengelak d walakinnalloha roma. So kindly watch your back, take care of your faith, health, flesh and blood of you yourself and your family.

Lainnya