Takziyah Pagi ini

Ya Beben Salamullah ‘Alaika

Sejak kemarin Ina Kamari intensif, konstan, dan khusyu’ dalam nuansa keprihatian yang mendalam kontak kepada Ibu Novia Kolopaking, memberitahuan perkembangan Beben suami terkasihnya yang ia sebut “suamiku, guruku, sahabatku tercinta”. Dari saturasi 89 turun ke 30 kemudian naik lagi hingga 90, tetapi pagi tadi pukul 06.15 turun hingga 0.

Ina sudah dituntun oleh Allah Swt dari kecemasan menuju ketenangan dan insyallah keikhlasan dan ketabahan. “Bu, saturasi Mas Beben sudah 0. Mohon doakan aku dan Mas Beben dianugerahi mukjizat oleh Allah”. Kemudian pukul 06.10 WIB: “Bu, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Mas Beben telah kembali ke haribaan Allah. Mohon doakan Bu. Aku pulang dulu. Melihat dan mengurus kemungkinan pemakaman dan semua hal lainnya”.

Siapakah makhluk di seantero jagat raya ini yang punya sedikit saja kuasa atau daya negosiasi kepada qadla dan qadar Allah Swt? Tadi sesudah shalat Subuh saya berdoa dan ndremimilIn lam yakun biKa ‘alayya ghadlabun fala ubali” sebagamanai yang dibisikkan oleh Kanjeng Nabi dalam posisi sangat kepepet dan mustahil sebelum Perang Badar.

Dan ternyata saya sendiri pun sesungguhnya tidak benar-benar siap mental tatkala mengucapkan “Fala ubali, fala ubali”. Sekilas teringat juga bakda Subuh itu di ingatan saya tentang cerita Bu La Tappa Mandar yang melihat saya menegosiasikan kepada Allah Swt agar bermurah hati kepada beliau karena masih sangat diperlukan oleh semua anak-anak Teater Flamboyan dan Jamaah Maiyah Mandar. Kemudian ‘ajib Allah memperkenankan Bu La Tappa siuman dan hidup kembali sesudah koma beberapa hari.

Terbukti bukanlah saya yang melakukan negosiasi itu. Karena tatkala saya melakukannya tentang Beben yang sangat saya sayangi, Allah mutlak sudah menentukan “laisa liwaq’atiha kadzibah”. Tidak ada yang sanggup menolak detik ketentuan-Nya itu.

Kemarin saya mensugestikan bahwa Allah melimpahkan setetes dua tetes dari seluruh dimensi kuasa, kekuatan, dan kebijaksanaan-Nya. “Huwallahulladzai la ilaha illa huwal ‘Azizul Qowiyyul Qodiru Dzul Quwwatil Matinul Muqtadirul Jabbarul Mutakabbirul Qohirul Qohhar”. Tetapi “Innallaha ‘ala kulli syai`in Qadir”. Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Ketidakberdayaan absolut dan ketidakberkuasaan mutlak saya itu tidak hanya hal Beben, tetapi juga atas apapun lainnya dalam kehidupan ini, termasuk atas diri saya sendiri. Landasan jiwa setiap manusia hanyalah harapan, dan puncak pencapaiannya hanyalah keyakinan. Keyakinan bahwa setiap yang Ia qadla dan qadarkan adalah yang terbaik bagi semua hamba-Nya. Ya Allah, Ina, mungkin keajaiban Allah justru di-tanazzul-kan ke dalam jiwamu pada detik diambilnya suamimu oleh Allah. Saya, Bu Novia, teman-teman Kenduri Cinta, dan semua Jamaah Maiyah mengerti dan merasakan persis bahwa bagi Mbak Ina tidak ada manusia semulia Beben. Tidak ada suami sesabar Beben. Tidak ada lelaki sesantun dan sesamudera Beben. Mbak Ina pagi ini harus legowo ditinggalkan oleh manusia istimewa dan terkasih itu, dan Allah yang Maha Bertanggung Jawab entah akan menganugerahkan apa, siapa, dan bagaimana kepada Mbak Ina sesudah hari ini.

Juga tidak ada musisi seberuntung Beben dihujani rahmat dan fathonah oleh Allah Swt. Beben seperti bulatan bumi di mana kutub musik Jazz dijadikan oleh Beben sekebulatan keindahan dengan kutub tasawuf Islam. Dan warna suara Beben masih mengusap-usap gendang telinga saya mengucapkan “Allah adalah audiensku”, yang menjadi “makrifat” utamanya dan dijadikan wacara utama buku yang ditulisnya.

Seluruh ingatan tentang yang saya pernah alami dengan Beben dan Jamaah Maiyah adalah sebuah buku urgen tersendiri yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh semua makhluk Sekularis Modern. Terutama para penggiat Kenduri Cinta masing-masing atau semua punya “nyanyian” masing-masing di dalam hati dan pikirannya. Perjalanan hidup Beben bukan hanya alur perjalanan kreatif tentang Musik Jazz, tetapi juga perjalanan dinamika pemikiran, perjalanan makrifat batin, perjalanan pencarian dan penemuan atas hakikat rahmat dan sunnah Tuhan. Perjalanan yang Allah memperkenankannya hanya terjadi atas Beben, tidak pada atau untuk pemusik Jazz siapapun lainnya.

Itu semua sebuah buku besar dengan ribuan lembar-lembar yang indah. Pagi ini kita mendapatkan cover buku itu. Dan buku yang juga sangat tebal dan indah sedang dialami halaman pertamanya oleh Mbak Ina Kamari. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. Aura dan nuansa shalawat itu memenuhi rumah Beben dan Ina. Dan Allah membenihkan ketabahan, kekuatan, dan fadhilah yang aneh dan dahsyat ke dalam dada dan kepala Mbak Ina mulai pagi ini.

Karena semua yang dirintis, dilakukan, dan dialami secara khusyuk, kemantapan hati, keyakinan jiwa dan kesungguhan hidup oleh Beben selama bertahun-tahun, membuah sepuluh fadhilah dari Allah, yang sepuluh kali lipat menshalawati Beben setiap kali Beben bershalawat. Sekarang dan kita semua Jamaah Maiyah akan mempersaksikan sepuluh hal:

  1. Shalatul malikil ghaffar (rahmat dari Allah yang maha kuasa dan maha pengampun)
  2. Syafa’atun nabiyyil mukhtar (syafaat Nabi Muhammad, nabi pilihan)
  3. Al-iqtida bil mala’ikatil abrar (mengikuti tradisi malaikat abrar)
  4. Mukhalafatul munafiqin wal kuffar (membedakan diri dari orang munafik dan orang kafir)
  5. Mahwul khathaya wal awzar (penghapusan kesalahan dan dosa)
  6. Qadha’ul hawa’ij wal awthar (pemenuhan hajat dan harapan)
  7. Tanwiruz zawahir wal asrar (penerangan lahir dan batin)
  8. An-najatu minan nar (keselamatan dari neraka)
  9. Dukhulu daril qarar (masuk ke dalam surga)
  10. Salamul azizil jabbar (salam dari Allah yang maha mulia dan kuasa)

Amin amin insyaallah, Beben. Insyaallah amin amin, Beben.

Yogyakarta, Senin 5 Juli 2021

Lainnya