DJ’s DAY, 20 Oktober

Tadzakkur wa Tafakkur

“La Ilaha illa Anta subhanaKa inni kuntu minad-dholimin”
“Barang siapa menolak ketentuanKu, Aku persilahkan pindah dari wilayahKu”.
“Kami ikhlasi izinMu hari itu atas keputusan itu, kami terus jalani ujianMu.”
“Atas perlindunganMu, iman kami tidak terguncang oleh cobaanMu.”

Robbana dholamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin.

Hari Dholuman Jahula

Kepada Jamaah Maiyah. DJD adalah Dholuman Jahula’s Day. 20 Oktober. Itu momentum kesadaran diri, yang saya rasakan dan temukan juga pada Jamaah Maiyah. Di puncak suatu keadaan, saya menemukan keadaan diri yang “dholuman jahula”, lalim dan dungu pada level yang sangat parah. Allah swt sendiri pencipta definisi dan istilah itu. Aku bercermin padanya dan menemukan wajah dholuman jahulaku sendiri. Aku tidak mengerti beda antara kemuliaan dengan kekonyolan, antara kebesaran jiwa dengan kehinaan, antara kenegarawanan dengan remehnya kepribadian. Seharusnya aku malu malah bangga, semestinya aku tahu diri malah berbusung dada. Sungguh aku tergolong manusia yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa aku mengerti, bahkan membawakan citra seolah-olah aku yang paling mengerti.

Dua Pribadi Muqarrabun

Dalam kerendahan diri itu, aku menyaksikan dari kejauhan dua pribadi “Ulaikal Muqarrabun” yang seluruh sejarah hidupnya berada sangat dekat dengan Allah swt: dilantik menjadi pemimpin suatu Negeri besar. Jika sesuatu sudah berlangsung dan terjadi, maka telah ia lewati garis “amar”, “idzn”, “istidraj”, “inkhadzal”, “tark” atau “idzlal” nya Allah swt. Dulu orang keduanya adalah Saudagar Muqarrabin, kini orang keduanya Ulama Muqarrabin kelas satu di antara ribuan Ulama. Maka orang pertamanya mestinya lebih dari Muqarrabin: semacam manusia setengah Malaikat kesayangan Allah, semacam Dewa Agung yang diturunkan ke bumi.

Kadar takut mereka kepada Allah

Bagaimana sampai mereka memimpin Negeri yang jumlah Kaum Musliminnya terbanyak di dunia atau di seluruh muka Bumi? Karena kebanyakan Kaum Muslimin pemilihnya menyimpulkan bahwa beliau berdua, di antara seluruh penduduk Negeri ini, adalah orang yang paling “yakhsyallah”, yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah swt. Orang yang kedua saja adalah Ulama puncaknya kwalitas ummat yang paling takut kepada Allah swt, maka orang yang pertama pastilah berderajat lebih tinggi lagi, yang tidak bisa dirumuskan betapa taqwa dan takutnya kepada Allah swt.

Salah satu puncak pencerahan

Memandang dari kejauhan “dua menara tinggi” itu, saya dan Jamaah Maiyah yang dholuman jahula bisa menemukan bahwa itu adalah puncak ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah swt. 20 Oktober adalah momentun hidayah yang berlaku khusus bagi bangkitnya kesadaran kami.

Merupakan hari pencerahan dan kecerahan yang memperjelas kerendahan maqam kami. Oleh karena itu saya dan Jamaah Maiyah menyepakati dan meneguhkan sejumlah hal :

  1. Inilah jawaban sementara Allah atas uzlahku sejak 22 Mei 1998. Sudah lebih 21 tahun kami melakukan “Sinau Bareng” atau “Belajar Bersama” dengan kerumunan-kerumunan rakyat, tetapi nyatanya kami belum mencapai apa-apa, belum bermanfaat untuk rakyat, masyarakat, ummat dan sejarah bangsa. Belum sampai pada tingkat yang membuat kami layak dan berguna untuk menjunjung beliau berdua. Kemuliaan jangan sampai disentuh oleh kehinaan. Kerendahan kami tidak layak menjunjung ketinggian pasangan Muqarrabin, malahan bisa mencederainya. Wilayah “tho’at” kami adalah syahadatain kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Di luar itu adalah wilayah “Ijtihad”.
  2. Maka kami tahu diri dan meneguhkan bahwa kami belum punya kepantasan bagi mulut dan pena kami untuk menyebut-nyebut nama dua orang terdekat kepada Allah itu, untuk memandang wajah beliau atau memajang-majang foto beliau, apalagi menilai atau mengkritik apapun yang kedua beliau itu lakukan. Yang bersama Jamaah Maiyah bisa saya lakukan adalah memohon ampun kepada Allah swt atas kadar parah kelaliman dan kedunguan atau dholuman jahula kami sendiri. Kami belum memiliki derajat dan kemampuan yang mencukupi untuk turut “berisytirak” atau menjadi “musahim” di bidang apapun, semata-mata karena kekurangan dan kelemahan kami.
  3. Kecuali atau sebelum Allah mentanazzulkan perintah yang baru, maka bersama Jamaah Maiyah saya akan meneruskan, memperbanyak dan memperluas Istighatsah memohon agar Allah swt berkenan membimbing “su`ul hayat” kami berproses menuju “husnul khatimah”. Adapun beliau berdua dan semua pemimpin Negeri ini, sejak awal sudah “husnul ula”, “husnul ‘amal” dan “husnul hayat”, sehingga tidak memerlukan dan tidak berposisi untuk “husnul khotimah”. Kami yang dholuman jahula sajalah yang memerlukan “husnul khotimah”. Kepada para Jamaah Maiyah saya mengajak untuk terus “Sinau Bareng”. Tandang “iqra`”, memburu dambaan “‘allamal insana ma lam ya’lam”. Mengelola spektrum ruang dan aransemen waktu “Rububiyah”, “Mulkiyah” dan “Ilahiyah”. Besertaan dengan seluruh komprehensi Ilmu dan Lelaku Maiyah yang selama ini kita riyadlohi dengan berkeliling “Sinau Bareng”. Agar kita pantas bergabung ke barisan bangsa Negeri ini demi menemukan kembali keutuhan dan keseimbangan Nusantara.

MasyaAllah la quwwata illa bil-Lah.
Sujud hingga rebah di hadapan-Nya dan santun kepada sesama.

21 Oktober 2019,
Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun Majalah Sabana