Sinau Menjadi Khalifah Fil Ardl Bersama Nakula dan Sadewa

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan, 26 Oktober 2018

Menurut pengalaman Mas Indra selama menjadi tim relawan penanganan musibah gempa bumi di NTB kemarin, terdapat sebuah cerita yang cukup menarik untuk kita pelajari kembali. Antara lain tentang kemajuan produk teknologi pada masyarakat Nusantara pada zaman dahulu kala yang hingga sampai saat ini tak usang oleh kemajuan zaman. Misalnya saja ia ketemu rumah sasak (rumah adat NTB) di dusun Ranaseloka yang masih berdiri dengan kokoh pasca gempa melanda Lombok, NTB kemarin. Padahal banyak bangunan-bangunan modern yang rata dengan tanah. Teknologi bangunan perumahan yang lebih maju lagi ia ketemukan di Jawa dengan model perumahan joglonya. Dari rumah adat yang dimiliki setiap suku di Nusantara ini terbukti tahan terhadap musibah gempa bumi. Menurutnya hal ini lain dan tak bukan merupakan salah satu bentuk kemajuan peradaban Nusantara zaman dahulu yang mampu menyesuaikan dengan hukum alam yang berlaku.

Selain tentang kemajuan teknologi bangunan, ia juga menceritakan sewaktu menjadi relawan dalam proses pencarian orang tenggelam di aliran sungai Bengawan Solo. Selama tiga hari beruturut-turut ia terlibat dalam proses pencarian tersebut. Namun selama proses pencarian dengan mengunakan SOP yang berluku belum membuahkan hasil, namun pada akhirnya Timnya melibatkan jasa orang pintar (kalau orang-orang menyebutnya sebagai dukun). Sang dukun menggunakan alas kepala atau bantal si orang hilang tersebut, yang telah dirituali dengan seperangkat ubo rampenya dan bantal tersebut beliau jatuhkan di titik korban awal jatuh. Dan bantal tersebut dijadikan sebagai alat penunjuk di mana jasad berada. Akhirnya bantal berhenti pada satu titik dan menyuruh tim relawan untuk mencari jasad di sekitar titik tersebut. Dengan proses pelibatan dukun tersebut membuahkan hasil dan jasad pun ditemukan. Mas Indra menduga bahwa metode yang dilakukan sang dukun tersebut merupakan metode yang dilakukan oleh simbah-simbah kita dahulu untuk mengukur arus air.

Sebenarnya masih banyak sekali cerita-cerita menarik selama ia berkecimpung di dalam dunia relawan penanganan musibah yang belum mampu dijelaskan oleh logika moderen. Salah satunya pencarian pendaki hilang di Gunung Lawu yang diketemukan di Alas Ketonggo, Ngawi Jawa Timur sehari setelah hilang. Padahal menurut pengalaman beliau yang pernah jalan kaki dari Sragen kota ke Gunung Lawu sewaktu diklat SAR, membutuhkan waktu tempuh 2 hari dan si korban bisa ditemukan di alas Ketonggo dengan waktu tempuh sehari saja? Lebih jelasnya nanti silakan tanya sendiri kepada pelaku sejarahnya langsung. Dan saya jamin kalau ia tidak sibuk, pasti ia sangat senang sekali untuk diajak ngobrol tentang pegalaman selaku relawan musibah ataupun pencapaian-pencapaian dunia modern hingga konstelasi politik negara yang kita cintai ini. Jika belum mempunyai kontaknya silakan minta pada komandan tim media selaku admin media Suluk Surakartan atau minta ke narahubung Suluk Surakarta yang kontaknya sudah dipajang di media sosial Suluk Surakartan.

Kemesraan Nakula dan Sadewa

Sejak sekian lama saya menantikan duet Nakula dan Sadewa dalam forum sinau bareng Suluk Surakartan. Dan baru kali ini kesempatan untuk menyasikan keduanya duduk dan ngobrol bersama dalam sebuah forum. Namun sayang Sang Sadewa datangnya terlambat karena harus menyelesaikan makalah yang dijadikan prasyarat untuk mengikuti forum Kongres Bahasa Indonesia yang ke-11 oleh Kemendikbud. Beliau begitu antusias mengikuti forum tersebut karena salah satu poin pembahasan pada forum tersebut ialah penyederhanaan atau pengkerdilan bahasa daerah dan Mbah Nun juga diagendakan oleh panitia menjadi salah satu pemantik diskusinya. Namun sayangnya simbah batal hadir karena sesuatu hal. Dan Sadewa menjadi salah satu dari tiga kuota peserta yang disediakan panitia untuk mewakili dari sedulur-sedulur yang berkecimpung di dalam dunia bahasa daerah.

Akhirnya Agusta Junior ini sudah hadir di tengah-tengah sedulur-sedulur Suluk Surakartan. Padahal sekitar jam 11-an saya sudah agak risau ketika beliau belum datang. Akhirya saya Whatsapp beliau dan menanyankan posisi keberadaanya. Entah ia ngerjain saya atau gimana, dalam percakapan tersebut, ia merasa rikuh untuk hadir di tengah-tengah kita, karena waktu sudah terlalu malam. Sekitar jam 12 kurang 2 menit, ia menayakan kapan selesainya forum sinau barengnya, dan saya jawab jam 2. Karena saya melihat antusias para jamaah yang hadir masih tinggi. Kerisauan saya bermula saat beberapakali Nakula mengatakan seharusnya sesuatu yang ia ceritakan ini bisa dikupas secara mendalam oleh Sadewa, karena sang adiklah yang mendalami hal tersebut. Termasuk naskah-naskah kuno yang pernah ditorehkan para leluhur tentang kemajuan teknologi Nusantara. Baik itu teknologi pangan, banguan, komunikasi dan lain sebagainya. Namun sayangnya naskah-naskah tersebut tidak berada di Indonesia karena kesemuanya diambil oleh Belanda pada masa penjajahan dulu dan saat ini disimpan di Leiden. Menurutnya wajar jika kebudayaan Jawa yang berkembang saat ini kebanyakan sebatas tari, karawitan, wayang dsb.

Baru sekitar jam setengah satuan Nakula yang sudah hadir dipersiahkan maju kedepan untuk menceritakan atau melengkapai jawaban-jawaban dari sang kakak.  Mulai dari pertanyaan sang naratanya (istilah Yus untuk orang yang bertanya) tentang memayu hayuning bumi, baik secara awal mula muncul istilah tersebut maupun artinya. Hingga konsepsi kepemimpinan yang digunakan sebagai acuan masyarakat jawa pada masa dulu. Dan ahirnya, setelah sekian lama tak mendengarkan tembang di forum sinau bareng Suluk Surakartan, Agusta Junior menembangkan sebuah tembang gambuh dan menceritakan maksud dari tembang tersebut sebagai penutup sesi sinau bareng pada malam itu.

Lainnya