Merawat Indonesia dengan Kegembiraan Bermaiyah

Dalam suasana kegembiraan karena kedatangan Marja’ Maiyah, Mbah Nun, sejak subuh teman-teman pengiat Jembaring Manah, Jember, sudah merapat ke Ambulu untuk menyambut beliau. Kedatangan beliau adalah tambahan energi untuk melingkar pada bulan-bulan ke depan.

Bertempat di Hotel Ambulu, Jember, 4 Agustus 2019, teman-teman pegiat Jembaring Manah silaturahmi kepada Mbah Nun. Dalam kesempatan itu, beberapa pesan yang disampaikan Mbah Nun adalah bagaimana jamaah Maiyah tidak terlalu memikirkan negara. Lebih baik memikirkan keluarga dan masyarakat terdekat. Negara tidak diciptakan oleh Allah, tetapi hubungan kekerabatan diciptakan oleh Allah. Jamaah Maiyah harus bisa memilih di antara tiga jenis manusia yakni manusia nilai, manusia pasar atau manusia kekuasaan.

Sebagai contoh guru, dosen dan kyai adalah manusia nilai. Manusia nilai adalah manusia yang penghidupannya dijamin Allah. Tidak ada ilmu yang bisa sebanding dengan materi. Kalaupun mendapat gaji itu hanya ganti uang lelah dan waktu. Kedua, manusia pasar adalah manusia yang penghidupannya di pasar seperti berbisnis atau berdagang. Ketiga adalah manusia yang hidupnya diciptakan untuk berkuasa. Allah sudah menciptakan manusia jenis ini tanpa minta dipilih. Cari kecenderungan di antara tiga itu tapi tetap berpegangan dengan nilai.

Ketiga jenis tersebut dapat dijadikan pemetaan dalam menganalisa berbagai hal yang terjadi. Hal ini perlu diperdalam, diperluas, dan diperinci untuk menghadapi lima tahun ke depan agar kita tidak terseok-seok. Agar kita tidak mudah terkecoh oleh segala hal yang terjadi. Melihat ustadz, kita bisa melihat apakah benar-benar ustadz. Ustadz berada di wilayah nilai, namun jika sudah memiliki “bandrol” maka yang sedang terjadi sesungguhnya dia sedang berada di wilayah pasar dengan menjual nilai.

Begitupun ustadz yang menjadi juru kampanye, maka dia sedang mengawinkan kekuasaan dengan nilai. Inilah perlunya memahami, memperdalam, memperinci ketiga hal tersebut agar kita dapat “woles”, dalam menghadapi yang terjadi. Tidak perlu gumunan, tidak terlampau fanatik dalam mendukung yang dianggap pemimpin.

Menggunakan amsal Fir’aun, di mana sebenarnya dia tidak benar-benar “Tuhan”. Karena di-framing oleh Qorun dan Haman sebagai Tuhan, dan dia pun mengiyakan bahwa dia sesungguhnya Tuhan. Inilah perlunya memahamami pemetaan ketiga nilai tersebut. Bahkan hal itupun yang terjadi di Indonesia. Sudah berapa banyak pemimpin-pemimpin yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dalam di bidang tersebut tapi mengiyakan, dan karena ketidaktahuan “masyarakat kita” akhirnya turut memilih pemimpin yang sesungguhnya “bukan pemimpin”. Inilah runtutan masalah yang akan terjadi jika kita tidak benar-benar mengkaji betul pemetaan ketiga hal tersebut.

Terkait dengan peta Indonesia di kancah global, kita tidak perlu khawatir tentang Indonesia. Karena kita bukan hanya berkomitmen, tapi sudah terlampau mencintai Indonesia. Kita tidak perlu memikirkan terlalu jauh mengenai Indonesia, mengenai dunia. Jangan pernah taruh dunia ini di hatimu, jangan dekap dunia itu di dadamu. Cukup jinjing dunia dengan tanganmu, kalau perlu jinjing dengan tangan kiri. Karena kita sesungguhnya bukan makhluk asli dunia, kita adalah makhluk akhirat. Dunia ini hanya senda gurau belaka maka jangan telalu dipikirkan.

Setelah mendapat nasihat dan kucuran berkah, satu persatu dari pegiat Jemaring Manah bersalaman, berpamitan dengan perasaan gembira dan semangat untuk terus menyayangi Indonesia. Semua pulang dengan perasaan bahagia, karena segala kerinduan yang sudah terbalaskan kepada Mbah Nun.[]

Buku Cak Nun Majalah Sabana