Karena Sukses adalah Akibat dari Allah Ridlo kepada Kita

Catatan Sinau Bareng CNKK di SMA S Majapahit 1, Sabtu 3 Agustus 2019 (Bagian 3)

Tiga pertanyaan yang menjadi bahan workshop pada Sinau Bareng di Segoro Agung merupakan bentuk nyinauni sinau. Memelajari belajar.

Mbah Nun sengaja menciptakan atmosfer belajar. Caranya, peserta workshop ditantang, dipicu, didorong agar merumuskan isi pikiran mereka secara otentik. Poin-poin pertanyaan disodorkan. Belajar menjadi proses yang dinamis, bergerak ke segala arah, melalui dialektika yang seimbang.

Dialektika itu tidak bergerak secara linier. Isi pikiran yang diusung setiap pertanyaan menyentuh sisi-sisi lain dari pengalaman belajar mereka. Lintas disiplin ilmu bukan kenyataan yang tabu ketika proses belajar berlangsung dalam sikap yang komprehensif.

Pertanyaan berikut: “Apa tujuan orang belajar pada umumnya? Dan apa tujuanmu belajar?”, jawabannya tidak sesederhana dan sesingkat rangkaian kalimatnya. Pertanyaan tersebut mengisyaratkan setidaknya dua hal, yakni lingkup faktual dan ideal.

Kita kerap melakukan tumpang tindih pada dua lingkup itu. Kadang pula terbalik-balik saat menjawabnya. Untuk lingkup faktual kita menjawabnya secara ideal dan sebaliknya.

Menjawab secara akurat–juga merespon realitas–memerlukan kelincahan berpikir, keragaman sudut pandang, kekayaan paradigma dan terminologi. Jamaah Maiyah menjalani semua itu dalam setiap Sinau Bareng dan Majelis Ilmu yang rutin diselenggarakan di berbagai titik lokasi.

Buktinya, akurasi dan keseimbangan cara berpikir yang dipresentasikan oleh peserta workshop malam itu sungguh menggembirakan. Mereka tidak terjebak oleh “pakem” cara berpikir yang “itu-itu” saja.

Jawaban mereka melampaui kelaziman mainstream generasi seusia mereka. “Saya doakan Anak-anakku semua akan memimpin Indonesia,” doa Mbah Nun.

Akurasi jawaban atas pertanyaan: “Yang mana peran yang lebih penting: mengajar atau belajar? Kenapa?–dipresentasikan secara jujur, lengkap dan seimbang. Belajar adalah peran utama setiap manusia.

Adapun proses mengajar merupakan akibat logis dari kebutuhan dasar setiap manusia yang tengah melangsungkan proses belajar sejak dari gendongan ibu sampai liang kubur.

Wakil dari kelompok satu menekankan bahwa mengajar memang penting. Namun, hal itu bukan berarti harus mereduksi makna belajar. Kegiatan mengajar sesungguhnya bagian dari proses belajar pula.

Mengapa? Karena subjek dari proses belajar adalah kita sendiri yang terlibat dalam fungsi kegiatan belajar mengajar, sesuai proporsi dan posisi masing-masing.

Begitu banyak catatan yang menarik dalam workshop Sinau Bareng di Segoro Agung. Di antaranya, catatan dari Mbah Nun bahwa sukses tidak melulu sukses dunia. “Sukses adalah akibat dari ridlo Allah kepada Anda,” ungkap Mbah Nun.

Pernyataan itu memantik sekaligus membuka pintu-pintu ilmu. Sukses yang kita raih harus menyelamatkan kita di hadapan Allah. Bukan semata-mata sukses dan berjaya di dunia. “Dunia memang nikmat. Tapi, dunia bukan yang paling nikmat. Akhirat lebih baik dan lebih utama dibanding dunia,” ujar Mbah Nun.

Pesan Mbah Nun, keputusan apapun yang kita ambil untuk meraih sukses jangan membuat Allah marah. Buat apa meraih kejayaan di dunia sementara Allah murka kepada kita? Lebih luas lagi, rajinlah membaca diri untuk menemukan dirimu melalui aktivitas yang membuat Allah tidak tega kepadamu.

“Manusia modern telah kehilangan semua parameter itu,” jelas Mbah Nun. “Mereka hanya tahu pintar dan bodoh, kaya dan miskin, terkenal dan tidak terkenal dengan parameter yang serba terbalik.”

Pembahasan lintas disiplin ilmu yang berlangsung di Universitas Maiyah mengingatkan saya pada sebuah istilah, yaitu liberal arts. Kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis pada lintas disiplin ilmu. Yang termasuk dalam liberal arts adalah ilmu humaniora, sosial, sains dan seni.

Sinau Bareng bahkan telah memraktikkan lebih dari liberal arts: pendekatan kurikulum yang konon sejak 1828 telah diterapkan di Universitas Yale. Universitas Maiyah bahkan melakukan dekonstruksi dan merangkai puzzle pemikiran lintas disiplin ilmu nyaris di semua sisi dan bidang.

Berpikir holistik bukanlah kemewahan akademik. Anak-anak yang tergabung dalam workshop di kelompok satu adalah mereka berusia di bawah 20 tahun. Mereka menampilkan cara berpikir holistik saat merespon pertanyaan workshop. Keseimbangan dan keutuhan berpikir juga menjadi salah satu ciri khas Anak Maiyah.

Malam itu Sinau Bareng dipungkasi oleh ucapan terima kasih Ezrah Samta Tandiallo, S.Pd, Kepsek SMA S Majapahit 1 kepada Mbah Nun, KiaiKanjeng dan semua jamaah yang setia bertahan hingga lewat pukul 01.00 WIB.

Shalawat indal qiyam dan doa yang dilantunkan salah seorang ustadz Pondok Pesantren Segoro Agung menutup majelis ilmu Sinau Bareng.

Sampai jumpa di Majelis Ilmu Maiyah berikutnya. Dan jangan lupa untuk terus belajar dan bersyukur.[]

Buku Cak Nun