Mukadimah Suluk Surakartan, 28 Februari 2020

Kemrungsung

Ajang perhelatan perfilman dunia baru saja selesai digelar, OSCAR. Sederet nama-nama judul film, sutradara, sound engineer, videografer, dan original script writter dikumpulkan menjadi satu untuk merebutkan mana yang menjadi terbaik. Salah satu film yang menarik adalah Ford v Ferrari film balapan Lee Man 24hours, dimana perhelatan ini merupakan ajang bergengsi mengendarai mobil balap sehari-semalam dengan lintasan tertentu.

Ford v Ferrari kemudian masuk ke 5 nominasi OSCAR, dan memenangkan kategori best film editing dan sound editing yang sampai idealisnya sound mobil yang dihadirkan di film itu adalah suara asli dari Mobil GT-40 asli seperti sejarah yang ingin disampaikan di film ini.

“We’re lighter, we’re faster, and if that doesn’t work, we’re nastier.”

Dialog ini yang disampaikan oleh Carrol Shelby, tokoh utama dari film yang punya visi sangat besar untuk menaikkan prestige Ford dari pabrik  buruk yang cuman dikenal sebagai produsen dan penjual mobil menuju nama legendaris yang akan menjadi warisan yang akan dikenang oleh dunia sepanjang masa. Caranya dengan mematahkan mitos bahwa di arena balapan terus menerus dimenangkan oleh perusahaan idealis Ferrari. Tentu tidak mudah ada harga yang harus dibayar mahal oleh Ford demi mencapai titik bernama legacy.

Sebagai perusahaan raksasa Ford tentu tidak punya masalah dengan sumberdaya kapital, resource-nya lebih dari cukup untuk membiayai proyek prestisius tersebut. Masalahnya adalah ada banyak hal lain selain punya uang yang cukup. We’re doesn’t create a car, We’re going to make history.

Memikirkan Desain Terbaik Sebelum Dicoba

Membuat mobil yang menjadi sejarah adalah pekerjaan besar dari memikirkan bentuk bodi mobil supaya proporsinya pas, air circulation nya optimal, mendesain mesin, rem, posisi kursi, handle gigi sampai sedetail pijakan rem. Semua harus dipikirkan sangat matang. Pada proses desain ini dibutuhkan akademisi-akademisi dan pemikir terbaik yang bisa direkrut, mereka yang kuat untuk menelisik semua kemungkinan, mereka yang secara teoritis tau betul setiap kemungkinan eror jauh sebelum mesin itu dibuat, mereka yang secara konseptual meminimalisir kecelakaan karena jikalau terjadi crash hanya terjadi di angan-angan mereka lalu dibenahi dengan membentuk sistem yang optimal, semua dikerjakan rapi, detail dan tidak terburu-buru. Setelah semua konsep jadi barulah mobil itu dirakit.

Dalam proses perakitan juga demikian Ford membayar mahal engineer mereka, demi mewujudkan konsep yang dipikirkan matang-matang sebelumnya tadi, dibuat dengan bahan terbaik, detail terbaik dan tentu zero-error. Lalu uji coba dimulai, trial and error, menguji keseimbangan laju kecepatan, menguji ketahanan mesin, yang bahkan bisa meledak dalam suhu tertentu.

Driver Terbaik

Shelby yang berani mengkritik Henry Ford II, kali ini Ford tidak sekedar jualan mobil yang dipakai awam, namun adalah mobil balap untuk memenangkan kompetisi, maka dari itu harus ada sopir terbaik untuk mengendarai mobil terbaik. Sebagus apapun kendaraan jika sopirnya tidak paham betul mobil yang dia kendarai akhirnya hanya jadi seperti naik mobil rongsokan.

Kemudian Shelby mengajukan Ken Miles, driver tua yang jam terbang dan detailnya sudah terjamin brilian. Ketika mobil yang sangat kencang tadi dicoba, Ken Miles jauh lebih tahu apa-apa yang seharusnya bisa dirubah lagi untuk menambah kencang mobil, mengganti sistem rem supaya lebih optimal di tikungan, dan tentu adalah strategi ketahanan Miles sebagai pengendara yang akan bertarung 24 jam. Tentu harus latihan mengasah fokus, feeling, juga ketahanan fisik dan tahu kapan loncatan untuk memenangkannya.

Berkaca dari film tadi dalam banyak hal yang kita temui akhir-akhir ini di sekeliling seringkali nyaris sama frame-view nya. Kita terus punya sumberdaya yang melimpah, akademisi-akademisi yang jempolan, bahkan sejak SMP – SMA koran berkali-kali menceritakan keberhasilan anak didik kita dalam menjuarai berbagai kompetisi. Artinya SDM kita tidak main-main ampuhnya, sangat bisa diandalkan. SDM unggul ini juga tidak menjangkiti kaum elit saja, hampir setiap kali wisuda kita terus mendengar kabar dari seantero negeri bahwa lulusan terbaik anak dari tukang becak, anak dari tukang angkot, anak yatim piatu mereka yang secara finansial kurang mujur untuk bertarung di kampus akhirnya juga bisa memenangkan angka.

Atau jika kita berbicara sumber daya, negara ini sangat punya banyak resource namun dalam realitasnya bukan anak-anak kita yang menguasai, anak-anak kita berhenti dengan menjadi pegawai dari perusahaan multinasional yang terus mengeruk bumi nusantara. Ini kan sebenarnya naif, SDA – SDM kita punya, namun kenapa kita tak pernah mewarisi sejarah tentang keberhasilan untuk mensejahterakan semuanya?

Pertanyaan tadi terus berputar di kepala saya, atau jangan-jangan kita yang salah milih sopir, atau sistem regulasi yang menetapkan standar-standar kelayakan orang jadi sopir masih perlu dibenahi, atau malah perusahaannya, atau malah sopirnya sendiri yang tidak tahu menahu bagaimana mengendalikan laju kecepatalan mobil, mung mancal gas, ning malah njungkel. Kita ini terlalu menuhankan kecepatan. Seno Gumira Aji pernah mengkritisi dalam pidato kebudayaannya dalam tajuk “Slowbalization” berlogo keyong. Kadang-kadang driver kita terlalu ambisius untuk mengejar cepat, modern, membangun ini itu, tapi lupa bahwa menjaga keseimbangan, menjaga ketahanan itu jauh lebih bermakna. Jika memang sudah waktunya baru masuk ke 7000rpm, dan memenangkan pertarungan.

Tetapi kembali lagi kita akhirnya terburu-buru namun hasilnya juga sama sekali tak opmital. Alon pingin banter, bareng banter sing dioyak ora kencandak. Coba amati apa-apa saja yang kemrungsung disekitarmu, apakah rumah tanggamu, pekerjaanmu, pendidikan, ekonomi, seni-tradisi, agama, otoritas cendekiawan, militer, administrasi dll apakah sudah seperti kisah Ford tadi? Sudah dihitung, dianalisis secara mendalam, atau malah semua dilakukan secara sadar namun serampangan?

Mari bertemu, ning aja kemrungsung. [IA]

Lockdown 309 Tahun