Sinau Menjadi Khalifah Fil Ardl Bersama Nakula dan Sadewa

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan, 26 Oktober 2018

Bencana atau Musibah?

Entah rencana apa yang sedang dipersiapakan Gusti Allah untuk negeri ini? Seolah-olah apa yang terjadi di negeri ini terjadi secara beruntun tanpa henti. Apakah yang sedang menimpa negeri ini merupakan sebuah ujian, peringatan atau hukuman? Ya itulah ungkapan yang sering kita dengarkan di dalam forum sinau bareng. Mari kita refleksikan bersama apa yang terjadi pada negeri ini. Dan jangan-jangan apa yang menimpa pada negeri ini, merupakan sumbangan dari kesalahan yang kita lakukan juga. Wallahu A’lam Bish-shawawab. Jadi jangan anggap diri kita ini orang yang bersih dari lumpuran dosa. Kalau tidak salah lho ya, apa yang kita lakukan mempengaruhi siklus kehidupan. Karena kita berada dalam satu kesatuan sistem makrokosmos (alam semesta). Walaupun sekecil apapun perbuatan atau perilaku kita pasti ngefek atau mempengaruhi sistem alam semesta.

Pada pertemuan sinau bareng Suluk Surakartan yang ke-33 pada 26 Oktober 2018 ini, mencoba untuk mempelajari fenomena alam yang sedang terjadi di negeri ini. Terutama tentang bencana, eh bukan bencana ding, tapi musibah yang menimpa negeri kita yang tercinta ini. Lha terus apa bedanya bencana dan musibah? Bukannya kedua kata tersebut memiliki kesamaan arti? Menurut aplikasi KBBI, becana memiliki arti sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, bahaya. Sedangkan musibah memiliki arti kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Begitulah arti kedua kata tersebut menurut aplikasi KBBI.

Ya, kedua kata tersebut memiliki arti atau pengertian yang hampir sama. Tapi, menurut beberapa orang, penyebutan atas fenomena alam yang sedang terjadi saat ini, ialah musibah bukannya bencana. Mengapa demikian? Karena  secara rasa ataupun etika komunikasi penyebutan bencana gimana gitu, katanya. Dari hal tersebut, menurut Mas Indra yang pada malam itu berperan sebagai Nakula dalam memantik acara sinau bareng, penyebutan idiom bencana seolah-olah kita menyalahkan alam sebagai pelaku utamanya. Padahal alam cuma menjalankan hukum alam yang berlaku. Hukum-hukum alam tersebut berlaku atau tidak tergantung tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Misalnya terjadinya longsor, longsor terjadi karena minimnya pepohonon yang berfungsi sebagai penyangga tanah. Lha minimya pohon ya karena kita tebangi semaunya tanpa mempertimbangkan akibatnya. Sah to jika alam menghendaki longsor? Jikalau alam bisa bicara, hemmm jian, “nek kepenak lali, tp nek ora kepenak nyalahke aku, penakmen uripmu le adiku ragil, ncen diancuk kon!!!!  mungkin ia akan bicara begitu. Ngapunten niku namung fantasi kulo lur.

Maka dari itu, kata tepat dan  yang tersedia di dalam kumpulan kata-kata bahasa Indonesia untuk menjelaskan atau menyebut fenomena alam yang sedang  terjadi saat ini dengan sebutan musibah. Menurut Kang Kenyot, musibah memiliki akar serapan dari kata bahasa arab ashaba-yushibu-mushiibatan yang berarti segala sesuatu yang menimpa, baik yang berupa baik maupun buruk. Jadi musibah itu bisa berupa hal yang menyenangkan ataupun sebaliknya.

Posisi Manusia dan Seluruh Makhluk di Alam Semesta

Tuhan telah menciptakan kita di muka bumi ini dengan segala pertimbangannya. Terutama dengan menjadikan manusia sebagai Khalifah Fil Ardl, yang mempunyai tugas sebagai penyeimbang atau penyelaras tata  kehidupan di muka bumi ataupun alam semesta. Konon ceritanya, dalam pemberian jabatan sebagai Khalifah Fil Ardl, semua makhluk ciptaan-Nya ditawari oleh Allah untuk mengemban amanat tersebut. Dari Gunung, Batu, Samudra hingga Hewan pun ditawari jabatan tersebut. Namun dari kesemua makhluk-Nya tidak ada yang bersedia untuk mengemban amanah itu, kecuali manusia. Para kakak kita menolaknya karena mereka merasa tak sangup mengemban tugas yang begitu beratnya.

Khalifah merupakan kepanjangan tangan dari Gusti Pangeran di muka bumi ini. Maka tugas sebagai Khalifah ialah menjaga keselarasan atau keseimbangan alam semesta, baik itu antar sesama manusia maupun seluruh makhluk-Nya. Begitu berat memang amanah yang diberikan pada kita. Lantas apakah dari setiap diri kita sudah bisa menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin di muka bumi ini? Hanya diri kita dan Sang Khalik lah yang mengetahui itu semua.