Sinau Menjadi Khalifah Fil Ardl Bersama Nakula dan Sadewa

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan, 26 Oktober 2018

Dengan memosisikan tugas utama kita sebagai Khalifah, maka secara otomatis kita harus menjalin hubungan yang harmonis dengan seluruh makhluk di sekitar kita. Baik itu yang bergerak ataupun tak bergerak dan nampak maupun tak nampak. Wujud kedekatan manusia dengan seluruh makhluk-Nya, menurut pemeran Nakula pada malam itu, simbah-simbah kita telah memberikan tauladan bagaimana hidup secara harmonis dengan seluruh makhluk disekitarnya. Dengan kedekatan-kedekatan inilah yang menjadikan simbah-simbah kita waskita dalam kehidupan.

Nakula asal Sragen ini melanjutkan ceritanya tentang contoh sederhana dari leluhur kita berupa kesadaran sebagai Khalifah. Salah satu contohnya dengan pelabelan tempat-tempat tertentu dengan pengangkeran, penyakralan dan lain sebagainya. Selain itu juga beliau-beliau juga menggalakan kampanye dari mulut ke mulut tentang pelabelan tersebut. Sehingga dengan sendirinya orang-orang akan takut untuk merusak ekosistem di sekitar itu. Dengan metode tersebut terbilang cukup ampuh dalam mengatasi kerusakan alam pada masanya. Namun sayangnya manusia sekarang, termasuk saya sendiri, gagal dalam menangkap nilai-nilai yang dimaksudkan para leluhur. Apalagi diperparah dengan keserakahan dan ketamakaan manusia zaman now yang merajalela bagaikan macan kelaparan.

Mas Yus Sang Pencipta Suasana

Majelis Suluk Surakartan tanpa Mas Yus terasa hambar. Ya, beliau kalau boleh saya katakan sebagai salah satunya icon-nya Suluk Surakartan. Dengan hadirnya beliau di forum sinau bareng Suluk Surakartan, hampir selalu ia memberikan pertanyaan atau pertanyaan yang membuat para jamaah mengerutkan dahi, geleng-geleng kepala, terbahak-bahak bahkan memancing emosi. Bagaimana tidak? Ia selalu melontarkan pertanyaan ataupun pernyataan yang memancing nuansa forum sinau bareng menjadi seperti yang di atas tadi. Dan tentunya itu tergantung bagaimana penyikapan masing-masing dari setiap jamaah sendiri.

Terkadang terbesit di dalam benak pemikiran saya, yang dilakukan oleh Mas Yus itu bertujuan sengaja mengetes, sengaja membuat nuansa, atau itu lahir dari naluri alamiah dalam dirinya? Sejak pertama kali kenal beliau sampai saat ini, saya belum bisa memecahkan misteri itu. Mungkin saya butuh ta’arufan lagi dengan beliau secara seksama. Tapi terlepas sosok Mas Yus yang sedikit nganu tersebut, terkadang dari beberapa pertanyaan atau peryataannya yang khas dari dirinya seolah-olah memaksa dan mengajak saya untuk berpikir dan menjawab. Dari setiap pertanyaan ataupun pernyataannya, menurut saya memiliki karateristik yang hampir sama dengan pola pertanyaan Socrates (tapi prosentase kesamaanya saya juga tidak tahu seberapa persen) yang katanya salah satu bapak filsafat Yunani dalam mencari kebenaran. Dalam proses pencarian kebenaran, Socrates melakukan dengan menanyai orang satu persatu tentang sesuatu hal. Misalnya saja, ini benda apa lalu dijawab gelas. Lalu bertanya lagi ini kenapa bisa dikatakan gelas dijawab karena digunakan untuk minum dan seterusnya sampai ia puas dengan segala jawaban yang didapatkan.

Pola pertanyaan dan pernyataan yang mendasar tersebutlah terkadang jarang dipikirkan oleh dulur-dulur jamaah, terutama saya. Entah saya terbawa suasana yang ia ciptakan atau memang saya terlalu polos, ketika ia melontaran pertanyaan tentang tema sinau bareng pada malam itu, saya langsung pegang hp dan langsung mencari di mbah Google tentang tema malam itu sambil mendengarkan jawaban dari Wasis selaku moderator diskusi. Dalam hati saya pun berkata, “oh iyo yo neng google idiom Hamengku Bumi gur onone neng website Suluk Surakartan tok”. Dan saya baru sadar ketika Wasis dengan sabarnya menjawab pertanyaan Mas Yus secara runtut, “Owalah iyo, iki kan proses kreatif sek unik nang Maiyah, jane wingi yo melu rapat ngolah tema tapi kok ijik kegowo suasana sek diciptake Mas Yus yo. Jian Mas Yus ki Ncen T.O.P bangets”.

Peradaban yang Maju atau Mundur?

Banyak orang yang sepakat kalau zaman sekarang yang disebut era modern, paska modern atau apalah itu sebutannya. Mayoritas umat manusia di muka bumi ini berbondong-bondong menggunakan produk-produk modern termasuk saya sendiri. Tapi ketika kita coba pelajari dan bandingan antara kemajuan teknologi era leluhur kita dahulu dengan era sekarang, tidak bisa dikatakan kalau era leluhur dulu itu terbelakang dari sekarang. Dan salah besar jika ada orang yang mengatakan hidup di masa nenek moyang adalah era yang terbelakang yang tak melek teknologi.

Lainnya