Menikmati Atmosfer Belajar yang Manusiawi dan Menggembirakan

Catatan Sinau Bareng CNKK di SMA S Majapahit 1, Sabtu 3 Agustus 2019 (Bagian 2)

Tiga kelompok workshop terbentuk. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Kelompok pertama diisi oleh level usia di bawah 20 tahun. Kelompok dua level usia 20-30 tahun. Kelompok tiga usia 30-40 tahun.

Masing-masing kelompok menerima pertanyaan. Mereka berdiskusi untuk merumuskan pandangan, pendapat, dan sikap pikiran dari pertanyaan tersebut.

Pertanyaan itu tertuang sebagai berikut:

Kelompok 1

  1. Yang mana peran yang lebih penting: mengajar atau belajar? Kenapa?
  2. Allah Swt mengutamakan manusia mengajar atau belajar? Mana buktinya
  3. Orang mengajar itu tujuannya untuk menyampaikan ilmu kepada yang belajar, ataukah menciptakan atmosfer atau dorongan agar orang pandai belajar? Alasannya?

Kelompok 2

  1. Apa tujuan orang belajar pada umumnya? Dan apa tujuanmu belajar?
  2. Mana yang lebih penting: belajar agar memperoleh pekerjaan? Ataukah belajar agar diterima oleh Allah Swt? Ataukah gabungan antara keduanya?
  3. Sebutkan contoh mata pelajaran yang bersifat Agama dan berkaitan dengan Allah Swt, serta mata pelajaran yang umum dan tidak berkaitan dengan Agama dan Tuhan?

Kelompok 3

  1. Menurut tradisi Sekolahan, orang yang sah dan perlu didengarkan adalah pakar ilmu, para ekspert, misalnya Prof Dr. Apa pendapatmu?
  2. Menurut Islam, yang utama harus kau dengarkan adalah Ibumu, kemudian Ibumu, lantas Ibumu, baru Bapakmu dan lainnya. Kenapa? Apakah Islam bertentangan dengan prinsip kaum intelektual atau Sekolah?
  3. Urutkan berdasarkan keutamaan siapa saja yang kau taati!

Sebelum sesi workshop dimulai, Mbah Nun membekali jamaah paradigma berpikir yang “tidak lazim”. Pemikiran formal sekolah didekonstruksi. “Allah memerintahkan kita belajar atau mengajar? Mana yang utama?” tanya Mbah Nun.

Kalau kita hendak belajar, siapa pihak yang selama ini menentukan bahan-bahan belajarnya? Pernahkah kita diberi ruang atmosfer untuk menemukan siapa diri kita?

Fungsi sekolah atau lembaga pendidikan, juga tugas guru dan dosen yang sesungguhnya adalah menciptakan atmosfer belajar sesuai kebutuhan mereka yang belajar.

Sayangnya, praktik pendidikan masih jauh dari kenyataan itu. Siswa belajar di sekolah tidak dibukakan pintu kesadaran untuk mengenali siapa diri mereka. Siswa memelajari bahan pelajaran yang sudah disiapkan lalu mereka harus mengunyah dan menelannya.

Malam ini, proses belajar dikembalikan pada akar kesadaran, bahwa subjek belajar adalah kita. Yang mengidentifikasi kebutuhan bahan belajar lalu memutuskan akan belajar apa adalah kita sendiri. Semua ini dikerjakan dengan satu catatan: jangan lupa bergembira saat belajar.

Di sela-sela kelompok workshop berdiskusi, Kiai Kanjeng memandu Ujian Ukhuwah. Tiga lagu dipilih: Yaa Thibah, Lir Ilir dan Shalatullah. Lagu sama lirik berbeda.

Jamaah bersemangat dengan suara lantang menyanyikan lagu tersebut. Mas Doni, Mas Imam, Mas Islamiyanto dan Mas Jijit memandu Ujian Ukhuwah. Silih berganti setiap kelompok menyanyikan lagu yang jadi tugas kelompok. Bersahutan sesuai kode dan arahan.

Bukan hanya melatih konsentrasi, jamaah belajar kompak dan peka terhadap momentum sesuai dinamika tempo musik. Mulai tempo normal hingga paling cepat.

Alhasil, irama suara nyanyian tiga lagu dan lirik berbeda, saling bergantian dan bersahutan dalam tempo musik yang dinamis.

Di sela simulasi Ujian Ukhuwah, Mbah Nun menekankan kesadaran pentingnya koordinasi antara otak dan hati. Mengapa? Faktanya, belajar kerap tidak diselenggarakan dalam harmoni dan komprehensi antara otak dan hati.

Pendidikan diselenggarakan dalam satu paket tujuan. Setiap peserta didik dicetak ke dalam output yang sama. Mereka dididik untuk bercita-cita kaya, terkenal, berkuasa–lengkap dengan variasi, lapisan dan efeknya.

Terminologi syu’uban wa qabaaila tidak dijadikan filosofi utama proses belajar. Padahal setiap anak, setiap peserta didik, setiap manusia menerima amanah potensi yang berbeda-beda dari Allah. “Kalau engkau rumput, suksesmu adalah jadi rumput,” ungkap Mbah Nun.

Penjabarannya, kalau kita memiliki potensi seperti burung misalnya, sukses adalah manakala kita bisa terbang. Bukan diukur oleh parameter yang bukan kita, misalnya berenang. Sebab mustahil seekor burung ahli berenang layaknya ikan.

Bukan hanya simulasi Ujian Ukhuwah, malam ini jamaah diajak melakoni permainan Jamuran. Dalam setiap permainan tradisional mbah buyut kita mengajarkan silaturahmi dan paseduluran. Kemesraan hidup bersama menemukan kenikmatan.

Jamuran dadi kethek menek, kebelet pipis, hingga ekspresi cinta diperagakan oleh peserta yang naik ke panggung. Yang agak sial adalah Mas Jijit. Lagi memeragakan ekspresi cinta dengan angkrukangkruk di atas tiang penyangga panggung, Mbah Nun menjelaskan dimensi jarak komunikasi.

Akhirnya terkuak mengapa Mas Jijit naik ke ketinggian. “Hukum itu letaknya paling bawah. Cinta berada paling atas,” kata Mas Jijit.

Puncak ketaatan kepada Allah adalah cinta. Jika kita cinta kepada Allah, ikutilah Nabi Muhammad. Mengerjakan amal shalih dipuncaki oleh cinta kepada Allah.

“Kita berbuat baik supaya Allah senang dan cinta kepada kita,” ujar Mbah Nun. “Kita ingin berjumpa dengan Allah karena kita cinta kepada-Nya. Dan karena itu pula kita mengerjakan amal shalih.”

Apa yang disampaikan Mbah Nun didasari oleh surat Al-Kahfi ayat 110. “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku. Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.[]

Buku Cak Nun Majalah Sabana