“Aforisme” Cinta Model Mas Sabrang

Jamaah sudah memadat. Area halaman Padhangmbulan penuh, meluber hingga ke jalan depan swalayan SMK Global.

Bapak Abdullah Qayyim dengan lagu tartil yang khas, membuka Pengajian Padhangmbulan. Ayat demi ayat dilantunkan. Sesaat kemudian, teman-teman dari Lemut Samudro menyambungnya dengan lantunan Da’uni.

Jamaah berdiri. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama jamaah. Suasana bulan Agustus, bulan kemerdekaan, terasa cukup kuat semangatnya. 

Lampu dimatikan. Shohibu Baity mengisi ruang dada kesadaran. Senyap seketika. Mata berkaca-kaca. 

Mas Sabrang dan Letto sudah berada di atas panggung. Cak Yus memberi pengantar, membuka pintu supaya terjalin kesinambungan dengan tema Padhangmbulan bulan lalu dan kali ini. Sekaligus mengantarkan Mas Sabrang menyapa jamaah.

“Perlu saya ingatkan, pembagian tiga klasifikasi manusia bukan pembagian yang bersifat memecah,” ujar Mas Sabrang. Sementara berjenis-jenis manusia menurut ilmu psikologi, terminologi Jawa, tuntunan agama tidak berdiri sendiri. 

Manusia tetap utuh, tegas Mas Sabrang. Justru yang kerap kebablasen adalah potensi intelektual manusia. Intelektual yang tajam tak ubahnya pisau yang tajam pula. Ia bisa mengiris, memecah, mencacah keutuhan manusia. 

Mas Sabrang memberi saran, gunakan kemampuan intelektual tidak untuk memecah, melainkan untuk mengutuh kembali. 

Jadi, sambung Mas Sabrang, manusia nilai, manusia pasar, manusia istana merupakan potensi yang laten dimiliki manusia. Persoalannya, apa yang dominan? Transaksi dan kekuasaan yang dibimbing oleh kesadaran nilai kemaslahatan, ataukah sebaliknya?

Mas Sabrang pada akhirnya menawarkan nuansa cinta. Cinta disajikan dalam rangkaian aforisme. Ya, aforisme cinta model Mas Sabrang. 

Tekanan kata-katanya kuat. Berisi. Nuansanya indah. Ditambah lirik cinta lagu dari Letto di sela pemaparan, benar-benar menggugah perasaan. Malam ini Padhangmbulan diguyur pendar-pendar cinta. 

Kita catat statement cinta dari Mas Sabrang. “Cinta tidak bisa dimiliki tapi dialami.” Mencintai suami atau istri adalah pintu masuk menuju semesta cinta, ungkapnya.

“Kalau kita bisa melakukan harmoni dengan satu orang, mengapa kita tidak bisa melakukan harmoni dengan dua, tiga, sepuluh orang?” tanya Mas Sabrang. “Kalau kita mampu berharmoni dengan sepuluh, seratus, seribu orang mengapa kita tidak bisa berharmoni dengan semua umat manusia?”

Lanjutannya, kalau kita bisa melakukan harmoni dengan umat manusia mengapa kita tidak bisa berharmoni dengan tanah, pohon, udara dan alam semesta?

Kalau bisa berharmoni dengan ruang alam semesta, mengapa kita tidak berharmoni dengan Tuhan?

“Pada saat kita berharmoni dengan Tuhan, saat itulah kita menanggalkan ego,” kata Mas Sabrang. Ditekankan juga, cinta itu ditransformasikan melalu tahapan untuk manusia, alam, dan memuncak untuk Tuhan.

Di tengah sinau bareng berlangsung, Cak Fuad dan Kyai Muzamil rawuh menyapa jamaah. Malam ini, jamaah gayeng bertanya jawab, berbagi cara pandang, bercerita pengalaman. 

Syukur tak terkira ketika Cak Fuad membesarkan hati kita semua terkait pentingnya regenerasi. Simak dan ikuti terus catatan selanjutnya.[]

Buku Cak Nun Majalah Sabana