Menangkap Pesan Tuhan dalam Covid-19

Saya mengikuti perkembangan dunia yang kini sedang dilanda kepanikan luar biasa akibat muncul dan merebaknya virus Corona atau yang lebih populer Covid-19. Meski memang belum ada vaksinnya, namun menurut Presiden Joko Widodo tidak perlu terlampau menakutkan, lantaran dari yang terpapar dengan virus tersebut ada 94 persen bisa disembuhkan. Tapi mobilisasi dunia sungguh luar biasa menghadapinya dan belum pernah ada yang menyamai hebohnya kecuali, barangkali suasana Perang Dunia II.

Terlepas dari adanya rumor bahwa virus tersebut adalah semacam senjata biologi yang ditanam entah oleh negara mana dan di mana, tapi melihat eskalasi jumlah korbannya dan akselerasi penularannya memang sungguh mengerikan. Wajar jika negara-negara di dunia mengambil sikap satu barisan untuk melawan dan menghentikan penularannya hingga nanti kemudian ditemukan vaksinnya.

Melihat suasana dunia sekarang, terbayang dalam benak saya lima ayat pertama QS. Al-Hajj. Dengan amat impresif Allah menggambarkan suatu keadaan yang membuat manusia panik begitu rupa seolah mereka mabuk padahal sangat sadar. Zalzalah al-sa’ah, istilah yang digunakan Al-Qur`an yang berarti hentakan atau guncangan waktu yang amat dahsyat. Tafsir tradisional memahaminya secara dogmatis sebagai awal proses kehancuran sistem tata surya dan pertanda manusia berproses menuju kiamat. Namun sejatinya lebih relevan manakala dipahami secara realistis terutama jika kelima ayat tersebut dibaca secara keseluruhan.

Allah menyapa umat manusia dan mengingatkan agar waspadalah terhadap hentakan waktu yang akan membuat manusia memuntahkan seluruh kandungan-kandungan batinnya atau para penggembala melepas gembalanya, atau para pemegang tanggung jawab pada cuci tangan menyelamatkan diri masing-masing, lantas manusia terlihat mabuk padahal mereka amat sadar.

Covid-19 hendak menyadarkan umat manusia bahwa realitas yang mereka pahami bukanlah realitas yang sejati, melainkan realitas hasil rekayasa alam pikiran mereka sendiri. Manusia mempercayai keunggulan dirinya di antara berbagai makhluk lain. Mereka mempercayai keunggulan ilmu pengetahuannya yang bahkan mampu menjelajahi ruang angkasa tapi amat lemah di hadapan makhluk kecil yang namanya virus.

Inilah pesan pertama yang hendak disampaikan Tuhan dalam Covid-19 agar dalam mengapresiasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetaplah harus melibatkan Tuhan. Pengetahuan harus bertransformasi menjadi makrifat agar umat manusia tidak tertipu oleh pikirannya sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju sedemikian rupa tak mampu menjawab mengapa Covid-19 muncul sekarang? Bukan tahun-tahun sebelumnya, atau tahun-tahun yang akan datang.

Hidup dalam kepalsuan ini bermula dari semenjak lahirnya peradaban Yunani Kuno, di era para filsuf Yunani yang berhasil menciptakan konsep ilmu pengetahuan dan hingga kini prinsip-prinsipnya masih dipedomani. Yaitu ilmu pengetahuan yang mengandalkan akal pikiran yang independen dalam memahami kehidupan, alam semesta, dan dunia manusia sendiri tanpa melibatkan Tuhan.

Boleh jadi, keengganan mereka melibatkan Tuhan dalam aktivitas alam semesta dan manusia karena rumusan konsepsi teologi mereka yang memandang Tuhan sebagai ‘sosok’ laksana dewa Yunani, yang memang tidak mungkin sejalan dengan rasionalitas di manapun adanya.

Tapi konsepsi teologi ini kemudian diadopsi oleh gereja dengan berbagai modifikasi, selanjutnya tanpa disadari umat Islam terpengaruh dengannya. Akibatnya, Al-Qur`an yang didatangkan Tuhan untuk memberi pedoman untuk membangun peradaban tersendiri malah ditafsirkan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Yunani tersebut. Padahal pandangan Al-Qur`an tentang Tuhan sama sekali berbeda dengan pandangan Yunani.

Menurut Al-Qur`an, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang dipersepsikan atau pikiran yang dikonseptualkan. Melainkan Al-Haqq, yakni sang Mutlak yang transenden tapi juga imanen dalam laku kebaikan dan cinta. Dengan sendirinya konsep ilmu pengetahuan menurut Al-Qur`an juga berbeda, di mana akal pikiran tidak hanya difungsikan untuk membangun persepsi dan konsepsi, tapi lebih dari itu, akal harus difungsikan untuk memperoleh pengetahuan yang melekat di hati dan menjadi keyakinan yang utuh.

Dengan kata lain, membangun keyakinan berdasarkan nalar dan hati nurani. Proses kognitif yang menyatukan nalar dengan hati nurani ini disebut makrifat. Al-Qur`an memberi pedoman untuk sampai kepada makrifat, akal harus dibebaskan dari segala macam syahwat dan hawa nafsu.

Adapun pesan kedua yang hendak disampaikan Tuhan lewat Covid-19, khusus untuk mereka yang suka mengendarai agama untuk kepentingan kekuasaan dan berbagai syahwat dunia lainnya, seperti penumpukan harta dan mengejar popularitas. Peringatan itu sungguh nyata pada implikasi keagamaan yang ditimbulkan oleh Covid-19 di mana ritual yang selama ini wajib dilakukan ‘terpaksa’ harus ditangguhkan atau bahkan dibatalkan, seperti niat ibadah umroh, dan shalat Jum’at, bahkan adzan yang seharusnya mengajak shalat jamaah di masjid malah mendorong orang untuk shalat di rumah saja.

Dengan fenomena ini, Tuhan seolah-olah menghentak mereka yang selama ini menampilkan diri sebagai orang yang sangat ketat memegang ajaran-ajaran agama, semata-mata karena ingin dianggap sebagai tokoh agama yang berpengaruh, serta menduduki posisi tinggi dalam hirarki otoritas keagamaan yang mereka ciptakan. Covid-19 menghadapkan mereka ini kepada fakta bahwa keyakinan mereka amat rapuh, tidak utuh, dan tidak menyentuh hati. Lantaran akalnya belum terbebas dari syahwat dan nafsu.

Mereka akhirnya lebih mementingkan loyalitas kepada otoritas keagamaannya ketimbang loyal kepada ajaran-ajaran esensial agama itu sendiri. Akibatnya, kontribusi ahli-ahli agama pada kegiatan penanggulanan Covid-19 menjadi ironis. Sebab peran mereka tidak lebih dari menguraikan ini haram itu halal, alkohol haram dan seterusnya. Sementara shalat Jum’at yang sudah jelas hukumnya wajib malah boleh ditinggalkan. Itulah yang terjadi jika agama dipisahkan dari esensinya sebagai laku kebaikan, akhlak, dan cinta.***

Lainnya

Buku dan Merchandise