Kewaspadaan ke Dalam
(Di Dunia Belatung)

Kepada semua Jamaah Maiyah saya memohon perhatian dan kewaspadaan ke dalam diri masing-masing.

Judul Tajuk ini aksplisitnya adalah “Waspada Terhadap Emha”. Tetapi untuk tidak terasa lebay dan ekstrem, saya ubah menjadi “Kewaspadaan Ke Dalam”.

Setiap hari melalui CakNun.com terus mengalir kalimat-kalimat melalui saya. Akan masih terus-menerus, di laci saya masih bertumpuk ratusan, mungkin akan menjadi ribuan lagi kalimat demi kalimat berikutnya, dalam berbagai bentuk, satuan, konteks, tema dan nuansa.

Di samping teks dan bacaan, akan segera bergulir juga butiran-butiran lain dalam bentuk yang lain, sesuai dengan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin merambah.

Sebelum akan makin mengalir, juga sebelum saya dan Maiyah akan tidak mungkin mengelak dari persentuhan dan dialektika dengan dunia luar, terutama Indonesia, saya sungguh-sungguh mohon perhatian agar meningkatkan kewaspadaan ke dalam diri masing-masing.

Kewaspadaan ke dalam diri masing-masing yang saya maksud antara lain:

  1. Tidak berpendapat bahwa apa yang saya sampaikan pasti benar dalam ukuran mutlak dan sejati.
  2. Tidak menelannya mentah-mentah.
  3. Tidak memperlakukannya sebagai bahan yang pasti sudah matang dan final.
  4. Tidak membacanya sebagai informasi, nilai atau ajaran sebagaimana firman Allah dan tutur kata Kanjeng Nabi Muhammad Saw serta para Nabi dan Rasul yang lain.
  5. Tidak menerimanya sebagai barang jadi yang mandek dan statis.
  6. Setiap Jamaah Maiyah sebaiknya selalu waspada terhadap proses kejiwaan, pengalaman mental serta pelatihan berpikir yang dialami secara dinamis dari hari ke hari.
  7. Setiap Jamaah Maiyah senantiasa menjaga kedaulatan dalam diri masing-masing, mengalami setiap kata sebagai bagian dari pengalaman diri yang diotentikkan dalam kewajaran dan kejujuran.
  8. Setiap Jamaah Maiyah hendaknya menghindari apapun saja yang berasal dari saya kalau tidak dalam ketepatan, proporsi, keutuhan dan keseimbangan dalam diri masing-masing.
  9. Setiap Jamaah Maiyah meningkatkan kadar kritisisme, daya olah batin dan kewajaran berpikir yang diseimbangkan di dalam diri masing-masing.
  10. Setiap Jamaah Maiyah selalu waspada dan menyelamatkan diri masing-masing dari prasangka, mitologi, pengkhayalan, membesar-besarkan atau meremehkan, serta dramatisasi atau eksajerasi terhadap saya di dalam persentuhan apapun yang dialami dalam proses ber-Maiyah.

Kita semua Jamaah Maiyah sedang semakin mengalami kebusukan zaman pada kadar yang semakin tidak terbayangkan sebelumnya. Kita hidup di tengah Peradaban Belatung di mana makhluk-makhluk memiliki kesanggupan dan bahkan mampu menemukan kenikmatan hidup sebagai belatung. Jamaah Maiyah harus berjuang ke dalam diri masing-masing agar jangan pula sampai menjadi belatung di kubangan Maiyah.

Yogya, 13 Februari 2019
Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun