Ashabul Maiyah: Sebuah Hijrah Dimensi

Judul Ashabul Maiyah tidak dimaksudkan untuk menganggap apalagi menyombongkan diri sebagai representasi Ashabul Kahfi masa kini. Ashabul Maiyah hanyalah kalimat dalam bahasa Arab yang artinya para penghuni (gua) Maiyah.

Tetapi tidak bisa dihindari, membahas Ashabul Maiyah, suka-tidak suka, mau-tidak mau, sukarela-terpaksa, memang harus dimulai dengan mentadabburi Ashabul Kahfi. Bukankah “kaki anjing” juga termasuk anggota Ashabul Kahfi?

Al-Qur`an dengan jelas memberi informasi bahwa manusia pasca Ashabul Kahfi alih-alih mentadabburi kisah Ashabul Kahfi, justru terjerumus ke dalam perdebatan tentang jumlah Ashabul Kahfi.

Jumlah! Kuantitas!

Terbentuklah formasi 3-1, 5-1, dan 7-1 (Al-Kahfi: 22) yang di dalam Daur 303 – Manusia dalam Gelembung paragraf ke-9 digambarkan dengan:

mereka berhimpun dalam kotak-kotak, di garis-garis, aliran-aliran, kubu-kubu, madzhab-madzhab, sekte-sekte. 

Padahal bisa jadi formasi Ashabul Kahfi ternyata adalah 1000-1. Atau bahkan 1000-0, karena film Ashabul Kahfi yang disutradarai Farajullah Salahshur (Iran) benar-benar tidak menyertakan anjing sebagai aktor sebab Raqiim menurutnya bukanlah nama seekor anjing melainkan nama sebuah kampung.

Kotak-kotak itu, garis-garis itu, aliran-aliran itu, kubu-kubu itu, madzhab-madzhab itu, sekte-sekte itu, masih terus saja berdebat tentang jumlah, tentang kuantitas, yang, tentu saja telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengaburkan pandangan bahwa yang mereka perdebatkan, yang mereka pertengkarkan, yang mereka pertikaikan hanyalah berhala.

Bukan hanya kuantitas yang diberhalakan. Bahkan kotak-kotak itu, garis-garis itu, aliran-aliran itu, kubu-kubu itu, madzhab-madzhab itu, sekte-sekte itupun telah menjadi berhala. Masing-masing berhala mempunyai nama. Ada berhala bernama Harga Mati, ada berhala bernama Aswaja, ada berhala bernama Islam Nusantara, ada berhala bernama Islam Berkemajuan (sejak kapan Islam tidak berkemajuan?), dan yang terakhir (tetapi bukan yang paling akhir) berhala bernama Kotak-kotak dan Putih-putih.

Pokoknya segala yang bersifat materi, bisa bahkan harus diberhalakan. Daur 304 – Konsistensi Terhadap Kehancuran paragraf ke-7 mengisyaratkan kenyataan ini dengan:

Kosakata ‘kemajuan’, ‘sukses’, ‘pembangunan’, dan yang sejenisnya, maksudnya adalah materialisme. Bahkan manusia yang rajin menyembah Tuhannya, ketika mengucapkan kosakata ‘Tuhan’, ‘Nabi’ ‘iman’, ‘berkah’, ‘ridlo’, ‘dunia dan akhirat’, ternyata maksudnya adalah materialisme.

Gua Bukan Tujuan Ashabul Kahfi, Maiyah Bukan Tujuan Ashabul Maiyah

Mengapa Ashabul Kahfi pergi dan tidur panjang di gua? Mungkin karena benar-benar sudah tidak ada lagi aktivitas yang tidak mendatangkan ataupun didatangi kedzaliman selain tidur dan benar-benar sudah tidak ada lagi tempat yang penduduknya tidak “bersatu padu memeluk Satu Agama Dunia” (Daur 305 – AlMizanu wal’Adalah paragraf ke-7).

Mengapa Ashabul Maiyah datang ke dan duduk panjang di lingkaran Maiyah? Mungkin karena:

di tengah pancaran obor-obor cahaya itu terdapat semacam telaga yang sangat luas, yang permukaan airnya tak terkirakan indahnya. Telaga yang datar, tetapi kedalaman airnya tak terukur oleh matematika, fisika, dan biologi,… (Daur 306 – Obor-obor Cahaya paragraf terakhir).

Di depan hanya sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan. Ada kemungkinan jawaban lain yang tampak berbeda namun sebenarnya “sebelas-dua belas”: Ashabul Kahfi hanya singgah sebentar di gua, sekadar beristirahat melepas lelah untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Ashabul Kahfi sesungguhnya sedang dalam perjalanan berhijrah sebagaimana Muhammad Saw dan Abu Bakar berhijrah dari Mekkah ke Madinah yang mana keduanya juga singgah sebentar di gua Tsur.

Jadi, tujuan Ashabul Kahfi bukan gua. Dan begitulah Ashabul Maiyah memposisikan Maiyah atau begitulah Maiyah memposisikan Ashabul Maiyah meskipun memang:

tangan tak bisa mengepal kalau tak ada lengannya, engsel di antara tulang-tulangnya, kakinya, seluruh anatomi tulang belulangnya, gumpalan-gumpalan dagingnya, aliran darahnya, detak jantungnya, getaran hatinya, listrik urat syarafnya, semesta fuad qolbu dan matahari akalnya (Daur 307 – Bermain Urat Leher paragraf ke-11).

Hijrah Dimensi sebagai Bentuk Perjuangan dan Perlawanan

Mungkin memang sudah benar-benar tidak ada tempat lagi bagi Ashabul Maiyah untuk meneruskan perjalanan hijrah mereka sampai-sampai Daur 309 – Yang Sejodo dan Yang Separo paragraf terakhir mengibaratkan dengan “mata uang kami tidak laku di luar sana”, sehingga satu-satunya hal yang bisa dilakukan di dalam gua hanya memohon sebagaimana Ashabul Kahfi memohon tak henti-henti (sampai tertidur dalam arti berpindah dimensi) agar ditunjukkan bagaimana cara Tuhan memberi hidayah kepada penguasa yang arogansinya Namrudz, kepada pemuka agama yang hipokrisinya Abdullah bin Saba’, dan kepada masyarakat yang jahiliyyahnya Thaif.

Ashabul Maiyah bisa saja meniru permohonan Ashabul Kahfi tersebut karena permohonan semacam itu memang relevan dengan situasi terkini, namun Ashabul Maiyah tahu diri bahwa Ashabul Maiyah tetaplah bukan Ashabul Kahfi sehingga merasa perlu merendahkan “volume” permohonannya dengan:

agar Allah bermurah hati dan bertoleransi memberikan waktu yang sepanjang-sepanjangnya sesuai dengan kebutuhan perjuangan dan perlawanan (Daur 308 – Allah Sendiri yang Memerintahkan paragraf terakhir).

Dari Ashabul Kahfi Ashabul Maiyah—dengan bantuan DAUR—mengerti, jika hijrah tempat tidak mungkin dilakukan, masih ada hijrah dimensi. Dari jasad dalam gua ke ruh dalam genggaman Tuhan. Dari dimensi materi ke dimensi ruhani.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image