Memahami Makna ‘Ainul Hurri atawa Rijalul Ghaib

Jadi siapa Mbah Markesot itu sebenarnya?…bernama Ainul Hurri.”Daur II-181 – ‘Ainul Hurri

Pertanyaan yang sudah menyublim siapa pun, khususnya anak muda yang pernah berinteraksi dan sedikit saja mentadaburi gagasan-gagasan Mbah Nun. Terus diulang dan membuat pertanyaan itu, dan tetap saja, terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Tak pernah selesai. Tidak dapat menemukan pemberhentian yang klimaks.

Sebenarnya, sudah cukup lama saya dengan berbagai alasan, enggan membaca “Daur”. Apalagi kalau mesti membuat tulisan seputar tadabbur atas “Daur”. Saya pernah bilang, lha kok kewanen? Lha kok hebat amat, kemaki, sok bisa membuat tadabbur, level baca saja, makhraj dan tajwidnya kepontal-pontal.

Namun demikian, belakangan, terutama sejak “Daur” tahun kedua diluncurkan, secara sembunyi-sembunyi, tentu seringnya hanya mengintip, takut membaca sampai selesai. Lalu merasakan, apa itu “pelok” dan apa itu “mangga” yang jadi penjelasan, metafora atas berbagai makna dan ulasan seputar kehidupan.

Jujur saja, berurusan dengan Mbah Markesot ini membuat jiwa siapa pun pasti terpancing untuk terus mengembara, bahkan pada fase tertentu, destruktif dan punya langkah yang ikut mendekonstruksi kemapanan pada berbagai paham yang sudah ada. Banyak pembaharuan-pembaharuan yang sifatnya sangat universal meski dihujam dalam kisah-kisah subjektif.

Hidup seperti Mbah Markesot yang kalau ditanya siapa sebenarnya? Justru mendapat pertanyaan balik yang tak kalah garang. “Kok sebenarnya, selama ini beliau adalah sebenar-benarnya beliau. Kalian memang hanya sekali dua kali berjumpa dengan beliau, tetapi Mbah kalian itu sebenarnya ya Mbah kalian.”

Akan tetapi, penutup dari — kalau boleh disebut tadarrus tafsir ayat-ayat Al-Qur`an — untuk “Daur” berjudul “‘Ainul Hurri” itu kita mulai mendapatkan penjelasan yang utuh.

Saya cuma tahu satu hal”, sambung Pakde Sundusin, “Mbah Markesot itu punya kakek atau buyut atau canggah atau entah posisi yang manapun, yang bernama ‘Ainul Hurri…”

Inilah penjelasan paling mendalam seputar “pandangan kemerdekaan” sekaligus upaya untuk menatap sekaligus “menemukan kemerdekaan” secara genuine. Orisinal dan paling aneh untuk mencari bentuk, laku orang per orang di era medsos ini.

Momentum kemerdekaan dengan segala tafsir dan laku empirisme, selalu punya tempat tersendiri bagi orang Indonesia. Di mana pada batas-batas tertentu, manusia merdeka itu sangat sulit ditempuh. Sebab, harus menjalani aliran dan getaran sekaligus. Menyeimbangkan antara “getaran yang mengalir dan aliran yang bergetar”. Inilah pesan Mbah Nun ketika memberi metode dan agar berada pada koordinat yang tepat dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di atas bumi sekaligus patuh pada takdir menjadi hamba Allah. Syukur-syukur bisa “mencintai Allah dan Allah mencintai kita.”

Bertabur cinta Allah baik sebagai pribadi maupun sebagai jamaah. Sebagai metode agar masuk dalam golongan pengganti, generasi baru yang muncul akibat banyaknya umat Islam yang berbuat rid’ah setelah beriman atau murtad. Sudah jadi ketentuan Allah kalau ada yang “man yartadda minkum” diganti dengan “yuhibbuhum wa yuhibbunahu“. Berikut lima pertanda lain yang sering dijelaskan Mbah Nun. (Al-Maidah: 54).

Menariknya, tafsir ‘siapa’ kaum yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka, banyak disebut bakal diraih manusia-manusia linuwih dari Negeri Saba. Apakah kaum dari Negeri Saba ini pakai tafsir Pak Fahmi yang menyatakan letaknya di tanah Jawa atau tafsir yang ada di Yaman? Semua punya dalil dan rasionalisasi. Menurut perjalanan Mbah Sot, tahap demi tahap, percikan demi percikan, sampai kilat cahaya demi kilat cahaya, itulah penanda tentang apa itu ciri “manusia merdeka”.

Konteks ketaatan beragama dan ketinggian mencapai kulminasi iman, sampai level ulama atau yang dalam istilah lain disebut “rijalul ghaib” mengingatkan kisah (lupa tulisan Mbah Nun yang judulnya apa) tentang dzikir salah satu penumpang pesawat. Lantaran kualitas dzikirnya, kedekatan dengan Allah dan belas kasih-Nya — pesawat yang mestinya jatuh, mendarat dengan selamat.

Harmoni dan bahkan keseimbangan alam ini yang masih terjaga, banyak disebut akibat hadirnya “rijalul ghoib”.

Sampai saat ini, selain Khidlir, para sahabat Nabi seperti Uwais Alqorni dan seterusnya, Mbah Sot sepertinya sudah sampai pada level itu. Berstatus sebagai “rijalul ghoib”. Manusia linuwih. Waskita sekaligus pilihan. Wallahu’alam bish-showab.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image