Menampung Ilmu

Pertama kali saya pikir Daur II-317 – Tanah Liat Tiga Gunung adalah petunjuk keras untuk para penulis agar segera menuliskan ilmu-ilmu yang telah puluhan tahun Simbah kucurkan untuk anak-cucu. Tertulis Pakde Seger meminta izin untuk selalu mencatat apa-apa yang Simbah wedarkan. Terdapat ganjaran tak terkira dari menuliskan benih ilmu ini. Ganjaran yang merasuk di batin dan ganjaran yang meluas mengedar-edar di sekitar kita. Insyaallah, semoga.

Lambat laun, anggapan itu memuai dalam ruang batin saya. Menulis ilmu dalam hal ini tak hanya berkisar kepada makna ilmu yang tertuang dalam wujud tulisan. Entah itu esai, artikel, puisi, cerpen, naskah drama, novel atau mantra-mantra sekalipun. Ia haruslah tulisan nyata dalam kehidupan anak-cucu. Yang melahir menjadi perilaku keseharian yang bisa dipertanggungjawabkan secara duniawi maupun akhirati. Yang tertulis dalam hidup anak-anak Maiyah dengan sejahtera. Dan mewujud dari endapan-endapan kesadaran perilaku arif yang mengKristal menjadi derajat yang mulia. Mencatat hidup. Menulis kehidupan. Serta niteni urip.

Ilmu Simbah yang Allah limpahkan kepada beliau dengan penuh kerelaan tertuang tak terkira-kira. Meluas tak terhingga. Dan hanyalah wadah keramat yang sanggup menampungnya. Yaitu kendi yang tersebut oleh Daur ini, yang didaulat menampung air pengetahuan Simbah. Bukannya ceret dari plastik atau seng terlebih perak. Namun kendi yang terbuat dari tanah liat. Unsur sederhana yang kita injak-injak setiap hari.

Secara scientific, tanah liat unsur kendi ini mampu menyehatkan bagi yang meminumnya. Selain air minumnya terasa lebih dingin segar alami, konon bahkan kendi mampu melenyapkan radikal bebas yang ada di air dan juga mampu memberikan asupan oksigen ke dalam air tersebut. Amazing bukan?

Adalah tanah. Unsur andap asor yang dilantik mampu menampung, mengelola bahkan mengolah air sedemikian rupa sehingga menyehatkan dan menyegarkan bagi yang meminumnya. Bukannya perak yang glamour ataupun plastik yang tampak instan dan kekinian.

Menampung ilmu Simbah, dibutuhkan tak hanya segenggam atau dua genggam tanah liat untuk membuat kendi. Namun dibutuhkan bahkan keluasan tiga gunung tanah liat dalam sifat rendah hati unsur bumi untuk mewadahi dan mengolah air ilmu kearifan tersebut. Jika diri ini memiliki energi andap asor bagaikan bumi, maka sangat mungkin, selaksa ilmu pengetahuan akan berdatangan dan menghimpun dirinya kedalam diri kita.

Kecongkaan muskil mampu menampung ilmu-ilmu arif itu. Ia akan mengendap instan dan segera pergi tak betah dalam wadah yang pongah. Atau mungkin terlontar seketika.

Ilmu itu mengedar dalam racikan ‘deklangaji’ yang Simbah perkenalkan kepada anak-cucu Maiyah. Dalam bentuk mengaji dan mengkaji Al-Qur`an yang disampaikan dalam sejuta metode sesuai ragam keunikan manusia. Mengkaji detail kauniah maupun qauliah. Lengkap keseluruhan tak terhingga. Seolah batasan takkan ada di dalam deklangaji tersebut. Hanya rasa dekat akan ilmu dan Maha Ilmu itu sendiri menjadi tujuan utama para hadirin deklangaji di lingkaran tersebut. Sehingga ilmu sangat mesra kepada setiap hadirin yang ada. Meluas dan mendalam dalam taddabur.

Dan secara pribadi. Kutuliskan, kumulai kembali hari ini. Kujalankan semampunya. Kumaknai berulang-ulang dan beharap ke-khusuk-an dari ilmu-ilmu itu mengada. Walau susah benar.

*NB: Deklangaji, istilah ini saya pinjam dari Daur II-317

Buku Cak Nun