Daur-I • 308

Allah Sendiri Yang Memerintahkan

Tahqiq : “…Dan orang sekampung itu adalah penduduk se-Negara. Negara sangat besar. Negara paling subur makmur kaya alamnya. Negara paling mandiri dan unik rakyatnya. Negara yang sekarang menjadi target utama penguasaan dan penjajahan raksasa dunia.…”

Markesot jengkel karena tahu bahwa Saimon tahu usaha baik yang dilakukannya berakibat sebaliknya dari apa yang diharapkannya. Markesot mengupayakan kemenangan kedua belah pihak, istilahnya win-win game, terhindarnya kemungkinan untuk bentrok antara dua pihak itu. Tetapi yang terjadi kemudian adalah momentum terhindarnya chaos itu digunakan untuk memperangkap puluhan ribu orang yang berkumpul ke dalam perdamaian semu.

Damai tidak sama dengan tidak ribut. Damai bukan kakimu diinjak lantas kau diam saja agar tidak gaduh. Damai bukan orang menindasmu dan kau tidak melawannya demi menghindarkan pertengkaran. Damai adalah produk dari keadilan. Damai, kemesraan, kerjasama, toleransi, gotong royong, adalah akibat dari terciptanya keadilan. Kalau hidupmu diganggu, harga dirimu dilecehkan, hartamu dicuri, tanahmu dijual kepada orang lain yang tak berhak, kedaulatanmu digadaikan – kemudian kamu berlapang dada, berjiwa besar, dan bersikap arif memaafkan penganiayaan itu – tidaklah bisa disebut perdamaian.

Massa yang berhimpun itu seperti orang menuntut agar ranting itu dicopot dari pohonnya. Kemudian orang itu naik dan duduk di atas ranting, menghadap pohon, menggergaji ranting itu hingga patah, dan ia terjatuh terjerembab ke tanah – sementara pohonnya tetap tegak. Tetapi orang itu tidak merasa terjerembab, bahkan bergembira menyaksikan tegaknya pohon itu.

Atau orang sekampung menuntut Pak Kebayan dicopot dari jabatannya. Mereka berduyun-duyun memenuhi halaman Balai Desa. Yang pertama Kepala Desa tak mau menemuinya. Yang kedua Pak Lurah datang, dan orang sekampung meneriakkan “Allahu Akbar” dengan riang gembira. Karena mereka tidak tahu bahwa Pak Lurahlah justru agen utama penggadai kedaulatan desa mereka, pengobral tanah dan kekayaan desa mereka untuk dimiliki oleh penduduk dari luar – sebagaimana tadi Seger telah menguraikannya.

Dan orang sekampung itu adalah penduduk se-Negara. Negara sangat besar. Negara paling subur makmur kaya alamnya. Negara paling mandiri dan unik rakyatnya. Negara yang sekarang menjadi target utama penguasaan dan penjajahan raksasa dunia.

Berkumpulnya massa desa itu di halaman Balai Desa adalah sebuah jawaban bagi sebagian kecil permasalahan desa mereka, tetapi tanpa kesadaran menuju jawaban dan penyelesaian yang menyeluruh. Medan perangnya dipersempit. Dan begitu mereka justru merasa menang dengan bergabungnya Pak Lurah ke tengah mereka, maka kebangkitan batal lahir. Keluron. Mogol. Busung.

Padahal andaikanpun mereka berhasil dengan gerakan itu, sukses menebang pohon dan menanam pohon yang baru – tidak ada jaminan bahwa pohon baru itu akan menyejahterakan mereka. Karena telah terbukti bahwa sekian era pemerintahan desa itu, Pak Lurah dan para pamongnya bukan hanya tidak memusatkan perhatiannya kepada kewajiban mereka menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Lebih dari itu mereka menunggangi rakyatnya, berdiri dan berpesta di atas kepala-kepala nasib rakyatnya, bertindak sebagai agen penjajahan yang semena-mena melalui berbagai cara, termasuk mengubah aturan-aturan desa secara semena-mena, demi memuluskan program-program perampokan atas desa mereka.

Rakyat desa itu tidak punya peluang sama sekali untuk bangkit dari keterpurukannya, sehingga satu-satunya gantungan adalah lalu lintas vertikal pergaulan mereka dengan Pengurus Kehidupan di Langit. Hampir semua yang dilakukan oleh Pak Lurah mereka menanamkan kesedihan, kecemasan, dendam, dan permusuhan kepada para penjajah dari luar yang difasilitasi oleh Pak Lurah beserta para Pamongnya.

Perjalanan yang mereka harus tempuh adalah langkah-langkah yang dipercepat oleh para penguasa desa menuju Perang Saudara. Atau perang melawan Penjajah yang pasukan terdepan musuhnya justru adalah pemimpin-pemimpin mereka sendiri. Masa depan penduduk desa Negara besar itu minimal menjadi jongos-jongos di telapak kaki para penjajahnya. Atau lebih parah dari itu, mereka akan tersingkir seperti Bangsa Melayu di Singapura, Bangsa Aborigin di Australia, dan Bangsa Indian di Amerika.

Markesot bukan hanya jengkel, tapi juga setengah marah kepada Saimon. Ia berkata kepada dirinya sendiri, dan itu lebih serius dan mendalam maknanya dibanding jika Markesot berkata kepada seluruh penduduk sedunia:

“Saya akan melawan! Saya memohon kepada Allah agar bermurah hati dan bertoleransi memberikan waktu yang sepanjang-panjangnya sesuai dengan kebutuhan perjuangan dan perlawanan saya. Sebab Allah sendiri yang memerintahkan perlawanan itu”.