Daur-I • 305

Al-Mizanu wal ’Adalah

Tahqiq : “...Manusia memain-mainkan kehidupan. Manusia saling memain-mainkan dan mempermainkan di antara mereka. Sampai akhirnya mereka menjadi barang mainan di genggaman tangan hakikat hidup....”

Bahkan mungkin sebelum hibrida baru Adam diciptakan oleh Tuhan, sejak berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus abad silam, konsistensi makhluk manusia terhadap watak penghancuran itu berlaku pada semua sistem nilai dasar yang diregulasi oleh Allah.

Pada sistem penciptaan yang tiang dasarnya adalah positivitas dan positivisme, manusia berlaku menghancurkan. Seolah-olah Tuhan mentakdirkan itu. Ketika manusia membangun kebaikan, ia mengabaikan kebenaran dan menghancurkan keindahan. Ketika membangun kebaikan, ia tidak berdialektika dengan kebenaran, dan juga menghancurkan keindahan. Juga ketika mereka mendirikan, membangun, dan menjunjung keindahan, ia menindas kebenaran dan kebaikan.

Ketika dicoba suatu formula yang diujicobakan kepada manusia untuk ditawari penciptaan cahaya melalui peracikan antara yang positif dan negatif, ia juga berhenti hanya pada pencapaian dan kepuasan materialisme. Mayoritas ummat manusia sangat jauh pencapaiannya dari standar AlMizanu wal’Adalah yang disetting oleh era penciptaan oleh Tuhan yang dijatahkan kepada mereka kali ini. Kehidupan dan peradaban-peradaban ummat manusia adalah gambar besar dari kemiringan-kemiringan yang sampai tingkat ekstrem, bahkan pembalikan, dari hakiki ketentuan Allah yang tiang pancangnya adalah Keseimbangan dan Keadilan.

Karena pada dan terhadap Hablun minAllah, tali lurus memanjang ke presisi Tauhid ilAllah, kebudayaan manusia berada pada cuatan-cuatan kemiringan, maka ia kehilangan rentang ruang sorga yang keluasannya hampir tak terbatas untuk menerapkan getaran, gerakan, dan lompatan-lompatan percintaan dengan Allah. Manusia menghabiskan batas waktu kontrak hidupnya dengan sia-sia karena posisi kemiringannya itu tanpa bisa dielakkan berkembang menjadi pembalikan, penikungan, pelipatan, atau putaran-putaran yang tidak berada pada presisi terhadap garis immanen keTuhanan.

Manusia mengakui kesia-siaan hidup dan mubadzirnya waktu yang dijatahkan kepada mereka dengan menyebutnya Lingkaran Setan. Peradaban demi Peradaban manusia adalah lingkaran setan, dan tetap saja lingkaran setan ketika manusia merasa sudah mencanggihkan ilmunya, menyempurnakan teknologi, serta memaksimalkan semua sistem dan perangkatnya. Makhluk manusia berputar-putar di lingkaran setan kehancuran.

Dispresisi kehidupan manusia terhadap Hablun minAllah memproduksi rentang Hablun minannas, Hablun ilannas maupun Hablun bainannas yang muatan minimalnya adalah kekhilafan, kekeliruan, kesalahpahaman, dan ketidakpahaman. Muatan maksimalnya adalah ketidakpercayaan satu sama lain, kecurigaan dan rasa tidak aman satu sama lain, ketidakrelaan dan ketidakikhlasan satu sama lain, kemudian kebencian, berikutnya permusuhan, dan puncaknya adalah penghancuran sampai pemusnahan.

Bermacam-macam kemiringan, ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan penghancuran mereka ciptakan melalui skenario-skenario animasi kartun yang mereka sebut Negara, Konstitusi, Demokrasi, dan apa saja yang serba mewah. Ummat manusia seBumi bersatu padu memeluk Satu Agama Dunia yang di era ini disebut Globalisasi. Dan karena sejak mulai berpikir, potensi dan tenaga batin yang muncul adalah peng-ada-an diri dan pen-tiada-an atas lainnya – sangat bisa dipahami kalau mereka berada pada garis konsistensi terhadap proses sejarah penghancuran.

Tuhan menyatakan bahwa dari satu sisi kehidupan manusia adalah bermain-main dan bersenda gurau, maka naluri manusia mengendalikan akalnya untuk menggerakkan pembangunan kehidupan sebagaimana anak-anak bermain game, sebagaimana para kartunis menyusun bermiliar-miliar gambar khayalan. Manusia bermain-main dengan kehidupan. Manusia memain-mainkan kehidupan. Manusia saling memain-mainkan dan mempermainkan di antara mereka.

Sampai akhirnya mereka menjadi barang mainan di genggaman tangan hakikat hidup. Mereka menjadi boneka-boneka mainan Iblis dan Setan. Mereka menjadi jailangkung-jailangkung yang digerak-gerakkan oleh makhluk gaib yang manusia baru mengenalnya sesudah selesai berurusan di kuburannya masing-masing.

Dan kumpulan hampir tiga ratus juta manusia di kepulauan Nusantara yang menyebut dirinya Bangsa Indonesia, sampai hari ini gagal memahami sangkan paran Bangsa Indonesia, sehingga kata dan nama itu menjadi inisial kartunistik atau icon film-film sejarah takhayul. Hari ini Bangsa Indonesia memekikkan bertriliun-triliun kata dan bersamudera-samudera pernyataan yang mereka tidak mengerti persis kebenarannya. Mereka tersesat di tengah hutan rimba yang tanpa AlMizanu wal’Adalah.