Daur dan Cita-Cita Sejati

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jika kau jatuh setidaknya kau akan berada di antara bintang-bintang.” Demikian bunyi sebuah motivasi, kalau ndak salah dari beliau bapak proklamator kita, Soekarno. Berbicara mengenai cita-cita, sewaktu kecil aku benar-benar ingin menjadi Astronot. Alasannya cukup sederhana, ingin melihat indahnya bumi dari luar angkasa.

Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu pun memudar, bahkan aku mengalami kebingungan akan cita-cita. Kebingungan akan cita-cita mencapai puncaknya ketika memasuki masa perkuliahan. Aku mengambil jurusan dengan pertimbangan yang kurang matang. Padahal orang tua sudah membebaskan untuk memilih jurusan apa saja yang penting harus bertanggung jawab.

Awal perkuliahan adalah masa-masa untuk beradaptasi dengan jurusan ini. Berhasil sih, tapi tetap saja keinginan untuk pindah jurusan terus menghantui. Mencoba bertahan, akhirnya di semester-semester tua aku mulai bisa menerimanya. Bahkan rasa syukur telah mengambil jurusan ini muncul. Mengapa?

Gara-gara mengambil jurusan inilah aku mengenal Cak Nun dan Maiyah. Saat itu beliau dan KiaiKanjeng datang ke kampus guna mengisi acara sinau bareng. Aku mengikuti acara tersebut sampai selesai. Saat itu aku merasakan sesuatu: kok acara ini beda ya dengan seminar, kuliah umum, dan acara kampus lainnya?. Semenjak itulah aku tertarik dengan sosok Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Pemikiran-pemikiran beliau benar-benar membuka akal dan menyinari hati. Salah satu pemikiran beliau adalah mengenai cita-cita. Sebelum mengenal beliau, selain menjadi Astronot, aku juga memiliki cita-cita yang kemungkinan sama dengan kebanyakan orang di dunia ini. Kaya, terkenal, dan berkedudukan itulah cita-citaku. Namun apakah itu yang dinamakan cita-cita? Alhamdulillah di Daur 56 – Tak Ada Cita-Cita yang Tercapai, beliau menjawabnya.

Kalau sekedar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya dan yang semacam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja. Di zaman di mana ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa, yang menguasai modal dan perangkat-perangkat sejarah.

Tetapi yang begitu-begitu itu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi. Kita punya seratus piring nasi hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi — itu bukanlah pencapaian cita-cita.

Itu sukses karier pribadi. Dan karier pribadi itu memalukan di tengah sesama makhluk di jagat raya, apalagi di hadapan Maha Pencipta dan Pemilik Sejati segala sesuatu.

Hmmm, ternyata yang selama ini aku inginkan bukanlah cita-cita, melainkan ambisi pribadi. Dan ambisi pribadi merupakan sesuatu yang memalukan di hadapan manusia lain apalagi di hadapan Tuhan. Lalu apa sih yang dinamai cita-cita atau kesuksesan sesungguhnya?

Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.

Aku pun sadar, satu-satunya yang patut disebut cita-cita atau kesuksesan adalah sesuatu yang melampaui kematian. Salah satu yang melampaui kematian adalah amal soleh atau kerja keras. Mari banyak-banyak ber-Iqra`. Mari banyak-banyak membaca lingkungan sekitar kita kemudian mengubah apa yang memang harus diubah. Khalifah Islam kita yang keempat pernah berkata, “Seandainya kemiskinan dan kebodohan berwujud manusia, maka akan aku bunuh dia!”. Nah, dua hal itu yang harus kita bunuh di Indonesia.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image