Membaur ke dalam Daur

Bagi generasi Maiyah yang hidup di era digital, mendapat kesempatan yang begitu spesial. Pasalnya, tulisan-tulisan gress Mbah Nun, bisa dinikmati kembali di website caknun.com. Rubrik “Daur” misalnya –yang ditulis sejak tahun 2016 rutin setiap hari bahkan sudah dibukukan, adalah tulisan esai berisi topik beragam, dan sarat nilai mendalam.

Hanya saja, tulisan-tulisan dalam Daur tidak memberikan nilai secara instan. Contohnya Mbah Nun mengingatkan:

“…engkau kukasih pelok, bukan mangga.” Dengan demikian bagi setiap pembaca, jika ingin menggali subtansinya, benar-benar harus membaur ke dalam daur, agar kedalamannya bisa terukur.” –Daur 17Darurat Aurat (2)

Bagaikan memahami Al-Qur`an, jika hendak mengetahui tentang sapi, maka tak harus dicari di Surah Al-Baqarah; memahami gajah tak harus mendalami Surah Al-Fiil; mengetahui tentang lebah, tak mesti menelaah Surah An-Nahl; demikian juga ketika orang hendak meneliti tentang semut, tak harus mentadabburi Surah An-Naml. Demikian seterusnya. Tulisan dalam bentuk seperti ini memang tidak langsung bisa dinikmati, tapi tidak membuat pikiran mati.

Meski tidak bisa dipahami secara instan, bukan berarti makna yang ditulis Mbah Nun dalam Daur membuat para pembaca bosan. Dengan gaya penulisan yang cerdas, mengalir, lincah, deskriptif, hidup, serta diperkaya dengan diksi-diksi memikat dan tokoh-tokoh imaginer seperti: Markesot, Jitul, Saimon, dan lain sebagainya, membuat Daur semakin dirindukan dan membuat penasaran. “Mengerti atau tidak, kalau sehari tidak membaca Daur kok rasanya tidak enak,” begitu kira-kira yang berkesan setelah membaca Daur.

Kadang pembaca diajak berpikir mengenai silang-sengkarutnya negara dengan segenap masalahnya, di waktu lain diajak mengenai pembahasan-pembahasan yang terkesan remeh dalam fenomena keseharian, tapi sebenanya fundamental dalam kehidupan sehari-hari. Uniknya, semua topik yang ditulis, baik dari yang paling susah maupun yang mudah, semua pada dasarnya berjalin-kelindan, berhubungan, bagai suatu lingkaran.

Dengan pola demikian, Daur memiliki keistimewaan tersendiri bagi pembaca. Sebagai bacaan, ia bukan sekadar menarik perhatian, tapi juga mencerahkan; tidak menggurui, tapi mengajak pembaca berpikir mandiri. Bukan sekadar berwacana, tapi mengajak mencari solusi bersama. Tidak membuat harapan seseorang redup, tapi semakin hidup. Tidak membuat orang berpikir statis, tapi dinamis. Tidak membuat jauh dari kebenaran, tapi justru bersama-sama mencari kebenaran sejati Tuhan, dan lain sebagainya.

Sepanjang membaca Daur I dan II (yang penulisannya masih berjalan hingga saat ini), memang subtansi dan keistimewaan itu tetap tersaji. Namun, bagi yang rajin membaca Daur hingga sekarang, Daur II memiliki pola yang lebih unik. Bila di Daur I, Cak Nun amat jarang ––kalau tidak boleh dikatakan sama sekali tidak– mengutip ayat dan hadits di setiap tulisannya. Maka di Daur II,  selalu disisipi dengan ayat Al-Qur`an atau Hadits. Bukan berarti Daur I subtansinya terlepas dari cara pandang nilai Al-Qur`an dan Hadits, tapi Daur II, membuat pembaca –seakan lebih diajak memahami setiap permasalahan dilandasi dengan metode tadabbur yang berlandaskan Al-Qur`an dan Hadits.

Kebanyakan Kaum Muslimin hari ini, entah karena atmosfer pendidikan keIslaman yang bagaimana: semakin tidak “merasa memiliki” Al-Qur`an secara langsung dan otentik pada dirinya masing-masing maupun bersama-sama sebagai Ummat. Mereka tidak berada dalam hubungan primer dengan Kitab Suci yang mereka yakini.”” –Daur II-242Tidak Percaya Diri Terhadap Al-Qur`an

Dari sini bisa dicermati, mungkin kesimpulan saya salah. Pola yang dipakai Mbah Nun pada Daur II seakan menawarkan metode lebih tegas kepada pembaca agar melihat segala sesuatu dengan kembali kepada pandangan Al-Qur`an, yang metodenya dengan tadabbur.

Dengan bahasa lain, menerapkan iqra` pada setiap ayat baik tersurat maupun tersirat atau fenomena apa pun dengan ‘ainillah (cara pandang Allah) bukan dengan cara pandang manusia yang dha’if. Lebih dari itu, juga tidak lepas dari bimbingan dan gondhelan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image