Siapa yang Membelenggu Setan?

Foto: Adin | Dok. Progress | 2019

Ba’da sholat Isya’ berjamaah, Pakdhe Dalkeji, Lik Mindzakir, dan Bardan tidak langsung pulang. Mereka duduk lesehan di serambi Langgar sembari rasan-rasan.

Wis bolong berapa kali, Bar?,” tanya Dalkeji spontan.

Alhamdulillah Pakdhe, baru sekali. Itu pun kepepet.”

Kepepet gimana?” Dalkeji menyelidik.

“Kemarin saya Gemolong-Solo pulang pergi. Balik pindo. Kulakan masker di pasar Klewér. Sampai rumah ternyata ada selusin masker yang ketinggalan. Terpaksa nyolo lagi.”

“Diambil besoknya kan bisa, Bar,” Lik Min menimpali.

“Itu masker pesanan, Lik.”

“Terus batalmu di mana?” Dalkeji mengejar.

“Ya pas balik ke Solo itu. Pas jam satu siang, pas panas-panase.”

Ting-ting-ting… Gerobak penjual wedang ronde melintas di depan Langgar. Pakdhe Dal pun memesan tiga porsi wedang ronde.

“Terus kepiye, Bar?” Dalkeji makin penasaran, sambil mulutnya menyeruput sesendok dua sendok wedang ronde.

“Terus ban motorku bocor, Dhe. Wis panas, poso, malah nyurung motor. Mo…”

Modaaar…!” ledek Mindzakir.

Mosok durung sampai satu kilo, ketemu tukang tambal ban. Lemes awakku. Ndilalah bengkelnya itu dekat sama Indomei.”

“Indomaret kali,” sergah Mindzakir.

“Kan ini sudah bulan Mei, Lik, ya Indomei.”

Sakkarepmu…!” jawab Lik Min ketus.

Gandheng tenggorokan garing, sirah kenyut-kenyut, gak kuat ngampet, ya sudah aku beli sebotol air dingin. Habis aku minum seketika.”

Geerrrr…”

Suegerrr tapi gelo. Padahal waktu poso setan di-penjoro, tapi kok isih iso nggoda ya,” protes Bardan.

Gus Dib muncul dari balik pintu, melepas sarung, menggelarnya, lalu merebahkan badan di atasnya.

Tidak ada kata. Tidak ada suara. Sesekali terdengar bunyi air wedang ronde masuk ke rongga kerongkongan. Mak cleguk.

Sopo sing menjoro setan?” tanya Gus Dib tiba-tiba.

Dalkeji, Mindzakir, dan Bardan kaget mendengar pertanyaan Gus Dib.

“Ya nganu… Gus, ya Gusti Allah.”

Nggih Gusti Allah-lah Gus.”

“Kalau bukan Gusti Allah, siapa lagi Gus yang bisa membelenggu setan.”

Mereka bertiga menjawab dengan sangat yakin dan saling meyakinkan satu sama lain.

“Manusia diciptakan di dunia untuk menjadi khalifah, pengelola, pemimpin, pengambil keputusan,” ucap Gus Dib.

Dal, Min, dan Bar saling berpandangan. Mereka mencoba mencerna.

“Seorang pemimpin tugas utamanya ya memimpin. Dan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya. Kamu manusia bukan, Bar?” tanya Gus Dib.

“Ya manusia, Gus, mosok tuyul.”

“Kira-kira setan itu bentuknya seperti apa?”

“Setan ya ndak ada bentuknya. Dia ghaib, tidak bisa dilihat mata.”

“Lalu di mana letak setan?” lanjut Gus Dib bertanya.

“Ya di mana-mana.”

“Setan berada di luar atau di dalam diri kita?”

“Bisa di luar, bisa juga di dalam,” jawab Lik Min ragu.

“Ada yang hafal surat An-Naas?,” tanya Gus Dib.

“Sejak TK saya sudah hafal, Gus….”

“Coba dibaca dan di Iqra-i lagi.”

Tanpa menunggu aba-aba Bardan merapal surat An-Naas. 

“Setan itu ‘bersembunyi’ di dalam diri kita. Pekerjaan mereka adalah membisiki kejahatan dari arah depan, belakang, kiri dan kanan. Bisikan itu pelan tapi menghanyutkan. Bisikan itu halus namun menjerumuskan,” terang Gus Dib.

“Lantas yang membelenggu setan siapa, Gus?”

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7)

Kenapa “hai orang-orang mukmin”, bukan “hai orang-orang muslim”? Mungkin perbedaan antara keduanya bisa lebih mendasar dan lebih serius dibanding yang kita sangka selama ini.

Menurut Mbah Sot, mukmin itu lebih pro-aktif dibanding muslim. Kaum muslimin itu keputusan berpasrah diri kepada kehendak Allah. Mukminin itu berjuang untuk mengamankan secara horisontal, di bidang apapun dalam kehidupan, dengan parameter vertikal. (DAUR II – 176, Betapa Sopannya Allah)

“Mbah Sot, guru ngaji saya pernah ngendikan, puasa itu perintah Allah kepada orang-orang mukmin. Bukan sebatas kepada orang muslim”. (QS. Al Baqarah: 183). “Kenapa ditujukan kepada orang mukmin? Karena mukmin substansinya proaktif.”

“Kaum mukmin ialah kaum yang berpikir, berinisiatif, berdialektika. Jiwanya tidak stuck atau mandeg, apalagi malas-malasan. Kehidupannya dihabiskan untuk berjuang, berijtihad, berproses dan berprogres terus menerus.”

“Puasa itu metodologi dari Allah, dan manusia yang menjalankannya. Begitu cara berpikir orang-orang mukmin. Jadi puasa adalah pekerjaan kita untuk membelenggu setan-setan dalam diri yang bernama keserakahan, kejahatan, ketidakadilan, maksiat, pemborosan, kemalasan, materialisme, hedonisme, dan segala potensi yang dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan,” ujar Gus Dib seraya beranjak dari rebahnya.

“Lha terus yang membelenggu setan itu sebenarnya sinten, Gus? Allah atau manusia?” mereka bertiga kompak bertanya.

“Silakan ditemukan jawabannya,” kata Gus Dib. “Apakah kita layak disebut mukmin atau belum?”

Suasana mendadak hening.

Gemolong, 1 Mei 2020

Buku Lockdown 309 Tahun