Dizzy, Pusing Seven Rounds

Islam sejak awal sangat menganjurkan dan memacu perkembangan fungsi akal, mendorong kemajuan berpikir – tetapi tidak dengan kehebatan materialisme sebagai goal-nya. Tentu saja revolusi materialisme adalah kecerahan bagi suatu pandangan yang menganggap dunia adalah satu-satunya kehidupan.” Daur II-214Revolusi Materialisme

Jean Paul Charles Aymard Leon Eugene Sartre, alias Satre, filsuf Perancis penggagas filsafat eksistensialis yang sangat gigih memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan individu, pernah mengingatkan adanya jebakan bagi mereka yang sangat mendamba kebebasan jor-joran secara absolut dan mutlak. Satre mengistilahkan dengan the dizzy of freedom. Kalimat lengkapnya, “anxiety is the dizziness of freedom”, kebebasan mutlak itu memabukkan hingga membuat pusing sampai tujuh keliling (dizzy).

Para pendamba kebebasan absolut, di mana tidak ada lagi apa pun yang membatasi dan siapa pun yang mengikat kebebasan. Malah hanya akan mabuk dan bingung dengan kebebasan yang dimilikinya. Hidup tanpa fondasi tempat berpijak. Jatuh pada situasi nihilisme dan absurd. Dan bisa jadi kebebasan jor-joran itu justru berubah menjadi tirani bagi kebebasan itu sendiri. 

“Kebebasan bukan tujuan tapi jalan untuk menemukan batasan-batasan”, ini salah satu wejangan mbah Nun (yang saat penulis sinau mencernanya juga membuat dizzy). Dan ternyata memang sedaulat dan semerdeka apapun, karena pengakuan akan keterbatasan, akhirnya manusia akan menemukan batasannya. 

Pada ranah filosofis pengakuan iman manusia pada Tuhan. Keyakinan akan ketidakberdayaan ternyata mampu mengantarkan manusia pada penemuan kaidah-kaidah pijakan sumber makna hidup. Bahwa hidup dikatakan bermakna hanya ketika ada parameter nilai dan sistem kepercayaan sebagai fondasi yang dipertahankan. Sehingga ada tujuan yang jelas. Penerimaan akan iman dan keyakinan yang dilakukan secara rasional dan suka rela. Bukan karena paksaan dan rasa takut, adalah wujud dari kedaulatan.

Demikian pula secara sosial dan hukum. Kebebasan yang tiada batas dan tidak terikat pada aturan moral serta hukum yang disepakati hanya akan mendatangkan absurditas, kekacauan, bahkan chaos. Seperti penunggangan nilai demokrasi oleh sebagian kelompok yang mengidentikkan dengan kebebasan sebebas-bebasnya berbuat dan berbicara apa saja. Pemahaman dangkal tentang makna kebebasan yang malah justru menggerogoti substansi dan nilai kedaulatan. Padahal pengakuan akan aturan yang meniscayakan ketaatan pada hukum, undang-undang, serta kaidah moral, juga bentuk dari kedaulatan.

Namun, memang seperti itu tabiat kebebasan yang menuhankan materi. Ia akan meminta semuanya dari dirimu. Dari pikiranmu. Sampai perhatianmu. Jalanmu, dudukmu, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang pemuasan materi.

Tentang “materi” yang menjadi “isme” yang paling kau cintai. Menyedot seluruh saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur namun tetap dipaksa berlari. Miris.

Islam sejak awal sangat menganjurkan dan memacu perkembangan fungsi akal, mendorong kemajuan berpikir – tetapi tidak dengan kehebatan materialisme sebagai goal-nya. Tentu saja revolusi materialisme adalah kecerahan bagi suatu pandangan yang menganggap dunia adalah satu-satunya kehidupan.” –Daur…