Liberalisasi Pendidikan Alam

Tulisan ini diambil dari buku Ian L. Betts, Jalan Sunyi Emha, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006

Ainun berhenti kuliah boleh dipandang sebagai suatu anugerah keberuntungan, sebab setelah itu dia mengalami liberalisasi oleh alam. Dengan liberalisasi itu dia mengalami metamorfosa, dan suatu individu kemudian hadir menjadi suatu institusi yang signifikan di tengah kehidupan, mampu mengatasi sekat-sekat yang membelenggu manusia. Berapa gelintirkah manusia yang dapat hadir sebagai suatu institusi, yaitu sumber dari nilai bagi manusia yang mengenal atau pernah bersentuhan dengannya?

Kebanyakan manusia tidak berani hadir dalam individualitas manusia bebas dengan kualitas semacam ini, sebab merasa lebih aman berada dalam tempurung yang bernama komunalisme, baik dalam lingkup agama, ideologi, textbook, atau ikatan-ikatan yang membelenggu lainnya. Maka, liberalisasi oleh alam yang dialami oleh Ainun adalah merupakan anugerah bagi manusia dengan bakat yang sangat otentik. Dengan anugerah itulah Ainun “diselamatkan” dan “dosa-dosa” dunia sekolah. Dunia sekolah ibarat taman bermain yang indah (dan mahal) yang dibatasi oleh tembok bernama kurikulum, ideologi pedagogi, kekuasaan pengajar, dan kekuasaan lainnya yang merasuk ke dalam sistem pendidikan, melahirkan manusia bebek.

Sebagai suatu institusi, Ainun jauh lebih berarti dibanding ribuan bahkan laksaan lulusan dunia sekolahan. Dengan berandai-andai, kalau Ainun tidak berhenti sekolah, apakah yang terjadi? Bersama kecerdasannya, tidak pelak dia akan lulus sarjana. Lalu dengan kemahirannya bikin proposal, dia tentunya akan memperoleh “grant” bagi dirinya untuk biaya sekolah master, kemudian belum cukup, lalu berburu lagi “grant” untuk sekolah doktor. Maka, masyarakat akan menonton kiprah seorang bernama Doktor Ainun, boleh jadi kalau dia berada di universitas akan ada tambahan gelar prof. Tetapi, kiprah itu hanyalah tontonan bagi orang banyak, sebab segala yang dikerjakan tidak lain untuk dirinya sendiri.

Beruntunglah Ainun hanya setengah semester berada di Lingkungan universitas untuk kemudian sepanjang waktu berikutnya dia menjadi manusia pembelajar dari alam. Karena alam sudah lama menyediakan buku-buku dan rentangan peradaban intelektual umat manusia, Timur atau Barat, Islam atau non-Islam. Alam juga menyediakan manusia yang sarat dengan problematika kehidupannya. Semua menjadi sumber baginya, tanpa harus dipilihkan (ini disebut kurikulum) oleh suatu sistem kekuasaan persekolahan. Dia bebas memilih sendiri alam yang mau dipelajarinya, dan dengan bakat individualitasnya dia dapat membebaskan dirinya.

Dunia sekolah berhasil mengeluarkan puluhan ribu lulusan menjadi bagian dari instansi negara atau korporasi raksasa, tentulah tidak dapat dinafikan. Tetapi, satu Ainun yang hadir di tengah masyarakat dalam rentangan kontemporer bahkan mungkin kelak, adalah merupakan anugerah alam bagi manusia Indonesia. Sebagai suatu institusi, Ainun dapat dibaca sebagai suatu wacana yang sering disalah-artikan. Ini risiko dari suatu wacana yang terbuka. Sering dia diklaim sebagai bagian dari kelompok komunal yang satu, tetapi pada sisi lain ditolak. Sebagai bagian atau pun ditolak, pada dasarnya tidak relevan dengan kehadiran Ainun, sebab wacana institusionalnya tidak ditentukan oleh komunalisme yang manapun. Karenanya membaca wacana Ainun adalah sebagaimana menghadapi institusi budaya yang terbebas dari batasan kepentingan pragmatis, sesuatu yang sudah langka di tengah-tengah pertarungan dan perebutan hegemoni untuk kepentingan kelompok komunal.

Direktur LP3Y, Dosen Fisipol UGM