Emha Tak Ada di Rumah

Sekitar tahun 70-an, saya pingin kenalan sama Cak Nun. Untuk tlatah Jogja, nama Cak Nun sudah kondang. Presiden Malioboro, begitu julukannya. Rambut gondrong “ngandan-andan” bergelombang sampai pundak. Kurus dengan celana Jeans dekil, kaos oblong dan sandal jepit Swallow yang sudah tipis kelihatan warna dasarnya.

Barangkali pada era itu trademark seniman mengharuskan demikian. Atau karena kehidupannya memang serba kekurangan dan terpinggirkan. Para orangtua bergegas ngandani anaknya supaya jangan sampai pacaran dengan seniman. “Madesu” dan memang jelas tidak jelas. Konon kabarnya ke mana-mana dia, Cak Nun, selalu jalan kaki atau naik colt kampus yang bentuknya pick up tidak seperti sekarang.

Beberapa kali saya datang ke pondokannya di Jalan Kadipaten Wetan nomor 11, tapi tidak pernah berhasil ketemu. Tinggal di sebuah pondokan yang “amit-amit” berukuran kurang lebih 3 x 4 meter yang dihuni oleh Cak Nun dengan adik-adiknya.

Bisa saja saya masuk pondokan atau kamar itu. Biarpun dikunci tetapi begitu mudah dibuka sebenarnya. Dengan mata telanjang bisa dilihat apa isi di dalamnya karena dindingnya banyak berlubang. Tikar bantal seadanya. Rak dan buku-buku berserakan, gelas, piring, dan entah apalagi isinya.

Entah untuk kesekian kalinya siang dan malam saya yang masih imut-imut mbolos sekolah untuk bertemu “Beliaunya”. Saya pruput pagi-pagi. Pintu saya buka karena memang tak dikunci. Dia masih tidur nyenyak. Tak tega  membangunkannya. Saya tunggu sebentar dua bentar tak bangun juga. Akhirnya, saya tinggal pergi dengan rasa dendam membara.

Saat saya balik lagi, dia sudah tak ada. Berita yang saya terima, dia ke Surabaya. Esoknya ada kabar di Mandar, Sulawesi. Esoknya lagi di Samarinda. Begitulah Emha alias Cak Nun. Tak ada di rumah. Hari ini di Bogor tiba-tiba terdengar kabar sudah melompat lagi di Banjarmasin. Tidak sekian puluh tahun silam. Hari ini pun tak ada bedanya. Dengan Gambang Syafaat, Padangmbulan, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, dan lain-lainnya, dengan KiaiKanjeng atau sendiri.

Seluruh pelosok negeri ini telah dijejaki. Baca Puisi, pengajian, ceramah, mengunjungi sahabat, dan entah apa lagi. Tak ada di koran, tak ada pula berita di televisi. Tapi jagat raya ini bagai telah ia telanjangi.

Emha tak ada di rumah. Rumahnya di rimba kehidupan yang tak ada pagarnya. Selamat ulang tahun, Cak. Semoga Allah merahmatimu selalu.

Ungaran, 29 Mei 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image