CakNun.com

Mengakrabi Tuhan: Sajak-Sajak Religius Emha

Tulisan dimuat dalam Majalah PANJI MASYARAKAT NO.336 – 22 Zulqaidah 1401 H – 21 September 1981 – Tahun XXIII

H.B. JASSIN pengamat dan kritikus sastra terkemuka Indonesia dalam komentarnya menanggapi perkembangan sastra budaya Islam, menyatakan optimis melihat kecenderungan-kecenderungan baru dalam kepuisian dewasa ini. Hal mana dapat dilihat dari karya-karya seniman sastra baik dalam puisi atau dalam dunia sastra umumnya. Walaupun di sana sini masih ada kelemahan-kelemahan yang harus diperhatikan, khususnya dalam penulisan naskah-naskah drama dan cerpen.

Akan halnya penyair-penyair yang sering muncul dengan sajak-sajak ketuhanan, kita kenal nama-nama Taufik Ismail, Ajip Rosidi, Abdul Hadi W M dan lain-lain. Belakangan ini penyair Yogya, Emha Ainun Nadjib banyak memberikan nafas-nafas ketuhanan dan dalam sajak-sajaknya. Itu juga komentar H.B. Jassin mengenai sajak-sajak Emha akhir-akhir ini. Dalam tulisan ini kita membatasi pembicaraan sekitar sajak-sajak Emha, juga mengenai beberapa hal yang menarik dari kreasi terakhirnya.

Tanggal 8 Desember 1980, Emha Ainun Nadjib tampil di TIM bersama rombongan. teater Dinasti dari Yogyakarta membacakan sajak-sajaknya. Pembacaan puisinya dimulai dengan suara azan yang kemudian diringi suara musik gamelan yang meriah dan hingar-bingar.

Pembacaan sajak oleh Emha sendiri menyelingi bunyi-bunyian tersebut. Suatu penampilan menarik yang belum pernah ada sebelumnya. Emha menunjukkan kemampuan menghantarkan kata-kata ke dalam bunyian gamelan. Ia berhasil mengangkat nilai-nilai kultural (kesenian) yang telah berakar dalam masyarakat untuk dipadukan dengan pembacaan sajak- sajaknya. Sebelumnya, memang pernah ada penyair yang mencoba hal yang serupa. Namun tidak berhasil dengan baik.

Emha Ainun Nadjib, melalui keakraban masyarakat terhadap kultural mensosialisasikan puisi kepada masyarakat. Masyarakat dari kelas manapun dapat menerima kehadiran kreasi baru itu, sehingga akhirnya, kesan “wah” terhadap kreasinya tidaklah berlebihan.

BUKAN PERSONAL

Dalam tulisan ini kita mencoba menganalisa beberapa puisi religius Emha, yang nanti dikaitkan dengan aspek komunikasi dan tanggung jawab moral religius penyair dalam sajak. Diakui, memang bukan pekerjaan yang mudah menganalisa sajak karena ia lahir dari penghayatan penyair yang sangat personal sifatnya. Untuk keluar dari lingkaran kesulitan itulah kita membutuhkan pengetahuan sedikit banyak mengenai latar belakang pendidikan, keluarga, daerah kelahiran penyair pencipta sajak tersebut, sehingga kita dapat menganalisa sajak-sajaknya dengan lebih akurat.

Emha sendiri dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, untuk ngomong soal puisi ia masih merasa miskin dalam itu dan juga tidak mempunyai perbendaharaan yang cukup mengenai sosiologi, psikologi, pengetahuan-pengetahuan religi dan seterusnya.

Kalau pernyataannya itu benar, bukankah agak sulit bagi kita untuk memberikan penafsiran terhadap puisi-puisi religiusnya? Namun, pernyataan Emha itu pun sebenarnya perlu diselidiki kebenarannya. Sebab, menurut yang kita dengar Emha pernah nyantri di salah satu pondok di Jawa Timur, bahkan sampai beberapa tahun. Dengan demikian pengetahuannya (khususnya dalam soal agama) yang didapat selama beberapa tahun di pondok itu agaknya menjadi bekal dalam melahirkan puisi-puisi religiusnya.

Sajak-sajak religius Emha harus diakui agak gamblang dalam pengungkapannya. Yang lebih penting lagi adalah, bahwa nafas ketuhanan dalam sajak-sajaknya tidak personal sifatnya. Penghayatannya terhadap Tuhan memang bersifat personal, namun terkait erat dengan masalah-masalah sosial yang terjadi dan berkembang yang kemudian ditangkap dan diinternalisasikan Emha dalam sajak-sajaknya. Hal ini dapat kita lihat melalui beberapa sajaknya yang dimuat dalam kumpulan: “TUHAN, AKU BERGURU KEPADAMU”.

TUHAN, AKU BERGURU KEPADA- MU (3)

Tuhan, aku berguru kepadaMu bumi sudah letih, saudara-saudaraku saling tindih-menindih

Siapakah itu yang berebut pedang, menebang hutan, untuk mendirikan rumah yang akan mengucilkan diri mereka sendiri?

Dalam sajak ini Emha ingin berguru kepada Tuhan. Kenapa? Ia melihat dunia semakin tua, Sementara manusia saling berebutan, bunuh-membunuh dan memperkosa kehidupannya serta merusak alam lingkungan di mana dia dan orang lain berada. Bukankah masalah pengrusakan lingkungan hidup ini sangat besar implikasinya terhadap kehidupan manusia, yang hanya akan membawanya pada keterasingan, resah dan ketakutan?

Dan akhirnya, masyarakat banyak pun mengecam si perusak lingkungan tadi. Ini pun selama masyarakat tadi masih “berdiri” pada nilai-nilai kebenaran, Kemu- dian, kalau segala usaha sudah dilakukan guna mencegah pengrusakan, tapi ternyata toh masih ada “sebagian” manusia yang tidak mau ambil pusing, maka, kepada siapa lagi kita akan berguru kalau bukan kepada Yang Khalik. Segala akhir tokh Dia jua yang Maha Pintar dan Maha Menentukan. Kenyataan ini secara eksplisit dapat kita lihat pada bait terakhir dari sajak tadi;

Kini bumiku marah, aku diusir, muak ia kepadaku, jadi untuk melarikan diri, siapa lagi yang hendak kujilat selain lututMu?

Dalam sajak lain, Emha mengingatkan, walaupun manusia dapat saja “mengadu”, namun pengaduan itu tidak berarti dapat memaksa Tuhan. Kita lihat sajaknya “BILANG APA PADA TUHAN”

Ketika aku bingung mau bilang apa pada Tuhan, akhirnya mengigau:

“Tak cukup besar aku untuk memaksamu, tapi tak terlalu kecil untuk merengek atau menjilatmu. Jadi sudahlah Agamamu agamamu. Agamaku agamaku semoga keduanya ketemu”

Waktu bangun pagi, yang pertama kali kusapa ternyata la juga “Aku akan selalu bertemu. Kamu, Tuhan, janganlah bosan-bosan mengobrol atau sedikit berdiskusi”.

Memang yang terasa di sini adalah “percakapan” pribadi Emha dengan Tuhan, tapi bukankah hal seperti ini pun sering dirasakan manusia lainnya yang ketika merasa kebingungan dan kembali kepada Tuhannya? Sementara itu pun manusia tidak cukup besar untuk memaksa Tuhan, dan juga tidak cukup kecil untuk merengek dan menjilat. Artinya, manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk beriktiar demi menanggulangi masalah-masalah dan kebingungan-kebingungan yang dihadapi nya. Kemudian dalam bait-bait selanjutnya merupakan cermin dari hubungan yang intim dengan Tuhan, hal mana dapat juga hendaknya ditiru oleh orang lain.

Bagaimana dia mengharap agar Tuhan selalu memberikan petunjuk-petunjuk di setiap waktu. Lebih jelas lagi dalam bait selanjutnya:

Aku pamit sama kamu sebelum berangkat kerja, ”tolong ditegur kalau goblok atau keliru, maklumlah manusia, sukar melihat diri sendiri, sedangkan cermin hanya menawarkan satu sisi”

Betapa seringnya manusia membuat kealpaan baik sengaja ataupun tidak. yang sukar disadarinya. Sebab, “cermin” dalam sajak ini bisa diinterprestasikan sebagai cermin secara harfiah atau dalam makna filosofis memang tidak mampu memberikan gambaran seutuhnya dari kehidupan manusia. Cermin hanya memantulkan satu sisi postur manusia, sedangkan hal-hal lain yang mengambil bentuk aktivitas tidak mampu dipantulkannya. Karena itu, mana mungkin manusia selalu dapat menyadari kealpaannya. Adapun manusia lain yang hadir dan melihat cermin itu pun hanya mampu memberikan pantulan yang tidak jauh berbeda dengan cermin tadi.

Masih dalam nomor “BILANG APA PADA TUHAN” Emha Ainun Nadjib melanjutkan:

Bergaul dengan keindahan, godaan lezat, panggung simpang siur, rakyat yang bingung dan handai-tolan yang gampang dihembus angin, nilai dan pemain yang bentrok perang, yang menciptakan setan-setan, budak, pengemis, penjilat, pengkhianat — “Ah, Tuhan karibku, kamu musti lebih aktif membantu kami menelorkan surat keputusan, policy. kebijaksanaan, sistim, teori, setiap gerak langkah sehari-hari, agar semua menjadi api yang tak membakar diri kami sendiri, melainkan jadi matahari dan air sunyi”.

Di sini Emha melihat bahwa, manusia sudah banyak yang melupakan ajaran-ajaran norma agama, begitu mudah terkendalikan oleh setan hal mana akan melahirkan watak-watak penjilat dan pengkhianat. Kemudian dengan sangat akrabnya Emha yang menganggap Tuhan sebagai karibnya (“nafas sufisme”) mengharap, agar Dia sebagai Sang Bijaksana mengembalikan gerak langkah manusia yang telah menyimpang itu dengan lebih banyak memberikan petunjuk dan hidayah kepada manusia. Sebab, tanpa hidayah itu, maka punahlah nilai-nilai kemanusiaan sehingga manusia hanya merugi dalam kehidupannya.

Itulah beberapa tanggapan evaluatif Emha terhadap fenomena-fenomena sosial yang ada dan diungkapkan dalam banyak sajak-sajaknya. Hal mana, bagaimanapun memang sudah menjadi tanggung jawab setiap Muslim untuk berwasiat dalam kebenaran, sesuai dengan perintah Allah dalam firman-firmanNya.

ASPEK KOMUNIKASI.

Kalau kita lihat sajak-sajak Emha dari segi bahasa, kelihatan akan mengundang banyak tanggapan. Begitu akrabnya Emha dengan Tuhan seolah berbicara dengan kawan sendiri.

Dari segi ini saja sebagian orang mudah beranggapan bahwa Emha tidak sadar dengan eksistensinya sebagai makhluk. Dalam sajak-sajak Emha kelihatan pula ini nafas sufisme.

Agaknya Emha sengaja memakai kata-kata seperti itu karena mengingat terbatasnya manusia dalam berhubungan dengan Tuhannya, antara fisik dan supra metapisik.

Karena itu ia ingin menciptakan suasana akrab yang menuju kepada kekhusyu’an. Suasana mana selalu dituju oleh penganut aliran-aliran tasauf.

Kita tidak akan memperpanjang pembicaraan mengenai masalah pemakaian kata-kata itu, karena akan mengunda argumentasi dan tanggapan-tanggapan yang sulit dicari ujungnya. Sekarang kembali pada tanggung jawab moral seniman Muslim dalam berkarya. Hal ini juga akan kita kaitkan dengan aspek komunikasi dalam puisi.

Berbicara masalah aspek komunikasi dalam puisi bagaikan lingkaran yang tak tahu ujung pangkalnya, demikian komentar Umar Kayam dalam suatu obrolan di Yogya dengan Emha, Rendra, Darmanto.Jt, dan Vallery Mau. Pernyataan itu dilanjutkan: — “bahwa yang penting ialah bagaimana karya karya seni bisa terus menerus tampil di tengah masyarakat. Soal mutu dan tidak mutu tak usah ambil pusing.itu ditentukan oleh ‘ketahanan’ karya itu dalam ujian kelanggengan. Yang penting bagaimana mengusahakan kesempatan yang kontinyu agar dialog antara karya seni dan masyarakat bisa dicapai.

Dialog karya seni dengan masyarakat? Hal ini sering menimbulkan kesulitan karena ternyata ada seniman yang dengan fanatisme individualnya menganggap aspek komunikasi itu sebagai hal yang mengganggu eksistensinya dan sekaligus menghambat kemerdekaannya dalam berkarya karena itu ia menulis sajak-sajaknya dalam bentuk yang tidak dimengerti oleh masyarakat. Sebaliknya, ada pula penyair yang menuliskan sajak-sajaknya dengan bahasa yang gamblang dan mudah dimengerti oleh masyarakat.

Untuk mempertemukan kedua kutub ini kita kutip perkataan Emha dalam prasarannya: “REPOT” (FESTIVAL DESEMBER 1975 hal 196) bahwa kedewasaan seniman merupakan sumber dari kejujurannya dalam menciptakan, kesanggupannya untuk menghayati masalah-masalah di sekelilingnya dan untuk tetap setia pada prinsip-prinsip yang dianutnya.

Emha sendiri menyatakan kemuakannya terhadap kecenderungan dalam berpuisi yang semata-mata melihat ke dalam dan hanya melahirkan sajak-sajak yang lebih mendekati suatu monolog, dan tidak komunikatif sama sekali.

Kalau aspek komunikasi dalam puisi ini dikaitkan dengan tanggung jawab religius penyair maka ia klop sekali dengan firman Tuhan agar kita selalu berwasiat pada kebenaran. Wasiat tersebut jelas perlu komunikatif dan dimengerti oleh orang yang diberi wasiat.

Dengan demikian sajak dapat digunakan sebagai media da’wah, asalkan jangan terlalu besar bobot da’wahnya dan juga terlalu gamblang sehingga menimbulkan kesan kurang menarik, sebagaimana yang dinyatakan kritikus sastra H.B. Jassin dalam Panji Masyarakat No. 136. Di samping itu, yang tak kalah pentingnya, usaha “berwasiat” melalui sajak pastilah memperkaya khasanah seni budaya Islam.

Lainnya

“Aku Salah Satu Pantainya Cak Nun”

“Aku Salah Satu Pantainya Cak Nun”

Tetapi dengan melayari lautan Cak Nun, aku merasakan kegairahan tersendiri, yang timbul dari pikiran-pikirannya yang luas, jujur, berani dan mbeling.

40 Tahun Dekolonialisasi Cak Nun

40 Tahun Dekolonialisasi Cak Nun

Bila pada tahun 1930-an para cendekiawan mengupayakan dekolonialisasi substantif dan akad politiknya berwujud kemerdekaan 1945, maka tahun 1970-an Cak Nun memulai esai-esai lepasnya dan akad bukunya kemudian terbit pertama kali 1983.

EMHA

EMHA