Patangpuluhan

Mendengar Cak Nun hijrah dari Kadipaten ke kampung Patangpuluhan cukup menggegerkan jagat lingkaran persaudaraan Emha. Keluar dari bilik yang sempit menuju petarangan yang lebih lebar. Ada atmosfer baru. Oksigen yang segar. Pasalnya menempati standar minimal yang dinamakan rumah. Ada halaman kecil bisa untuk latihan teater. Ada ruang tamu yang merangkap perpustakaan, ruang diskusi, main gaple maupun sebagai tempat tidur bagi para “ronin” Malioboro yang dulu sering begadangan di Kadipaten.

Ada satu kamar tidur untuk Cak Nun tapi jarang sekali ditiduri. Ia lebih hangat jika “kruntelan” bersama sahabat. Entah kapan Cak Nun merasakan hidup berumah tangga sementara waktunya habis bersama kawan-kawan yang sering rerasan mengamati perilaku Cak Nun kesehariannya.

Di Patangpuluhan sedikit bernapas lega. Ada dapur, sumur, dan kamar mandi. Kendati kamar mandinya agak gelap dan kurang layak pernah disinggahi Eros Djarot dan Christin Hakim pada saat tayang perdana film Cut Nyak Dien di Yogyakarta. Gak terbayang bagaimana perasaan Emha pada saat itu. Dua selebritis yang sudah ngangkangi jagat nongkrong di situ.

Di sini tetap nimba sendiri dengan semangat sambil menyanyikan lagu mars “maju perangnya” Untung Basuki. Bedanya kalau mandi dan lain-lain tidak harus antre nunggu giliran seperti di Kadipaten.

Karakter lingkungan yang dibangun oleh Emha tetaplah sama. Rumah kecil bercat hijau tua kusam yang konon dipinjami/bayar seadanya kalau ada uang oleh orang Klaten yang bekerja di luar negeri sama saja di Kadipaten. Tak berpagar, tak berpintu, tak berdinding.

Setiap hari rumah itu riuh dengan suasana persaudaraan. Bergantian keluar masuk handai taulan tak terbilang. Tak pernah tidak ada orang yang nongkrong di dalamnya. Entah sekadar ngobrol, diskusi, baca buku, dan entah apalagi. Malahan ada yang setiap malam makan minum merokok disitu. Namanya Akhmad. Hobi utamanya adalah suka muji Cak Nun sampai sundul langit. Karena hobinya itu ia diberi nama Akhmad Sukamuji. Dengan bangganya ia mendapat nama baru itu. Karena ketidaktahuannya jika berkenalan dengan kawan baru selalu mantap bersalaman sambil mengucap namanya Akhmad Sukamuji.

Haru biru Patangpuluhan selalu saja hadirkan suasana baru. Di ruang tamu kecil beralaskan tikar gaple sampai pagi. Diskusi sampai “udrek-udrekan” buka baju. Merokok sebatang bergiliran. Membaca naskah drama yang akan dipentaskan. Analisis studi karakter tokoh yang akan diperankan sampai pencerahan lintas berbagai macam agama. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katolik maupun Sapto Darmo. Para pendeta, romo, biksu, pastor, kyai hadir dengan suka cita.

Alhasil, kalau akan mementaskan suatu naskah drama selalu muncul pertanyaan, ”Apa relevansinya pementasan drama ini dengan kenyataan atau perkembangan dunia sekarang?”. Berteater tidaklah hanya sekadar berteater, action atau gagah-gagahan.

Patangpuluhan boleh dibilang rumah kreatif. Dari rumah sederhana itu lahir berbagai kreativitas. Kerajinan, menulis, bermusik, baca puisi. Dari lingkaran persahabatan rumah sederhana itu tidak mengherankan jika mereka yang tak kenal lalu lintas dunia kampus memiliki talenta dan kadar intelektualnya melebihi anak sekolahan.

Sahabat Emha memang beraneka warna. Mereka berangkulan diliputi suasana kebersamaan. Ada yang rajin shalat, ada yang berpindah-pindah agama, dan ada yang sampai tua belum menentukan akan memeluk agama apa.

Di rumah kreatif itu Emha tidak pernah menyuruh ini itu. Tidak pula memaksa harus begini begitu. Ya memang begitulah Emha. Konsistensi sikap yang ia bangun sejak dahulu kala. Emha bukan kyai. Bukan guru. Bukan penyair. Bukan apa-apa dan Emha bukan siapa siapa. Emha sendiri bilang bahwa Emha bukanlah Emha. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image